Balai Bahasa Provinsi NTB Melaksanakan Bengkel Sastra: Festival Musikalisasi Puisi Tingkat SMA/SMK/MA Provinsi NTB Tahun 2025

Mataram, 20 Mei 2025-- Rangkaian awal Festival Musikalisasi Puisi Tingkat Provinsi Nusa Tenggara Barat Tahun 2025 dimulai. Kegiatan ini diawali dengan bengkel sastra yang dirangkaikan dengan taklimat Festival Digital Musikalisasi Puisi Tingkat Nasional. Menghadirkan tiga orang narasumber, bengkel dilaksanakan dengan membedah puisi wajib dan pilihan dalam festival secara daring. 

Kegiatan dibuka oleh Kepala Balai Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat yang diwakili oleh Koordinator Tim Teknis, Kasman. Ia menyampaikan bahwa kegiatan bengkel sastra diharapkan menjadi kegiatan yg menguatkan pembelajaran bahasa dan sasatra di sekolah dan menjadi ruang ekspresi siswa dalam belajar memahami apresiasi sastra sebagai sebuah nilai. Selain itu Kasman juga memberikan motivasi kepada peserta, “Jangan berkecil hati meskipun kita dari Indonesia Timur. Justru hal itu kita dijadikan sebagai pelecut untuk lebih baik agar bisa menjadi pemenang," ujar Kasman menyemangati. 

Sebagai narasumber, hadir sastrawan Kiki Sulistyo, musisisi Pantjoro Sumarso, dan Kepala Bidang Kebudayaan Provinsi NTB, Sabaruddin. Masing-masing menyampaikan materi terkait penafsiran puisi, instrumen musikalisasi puisi, dan visualisasi puisi. Ketiga narasumber nantinya juga akan bertindak sebagai tim penilai dalam Festival Musikalisasi Puisi Tingkat Provinsi NTB yang dilakukan sejak 20 Mei--19 Juli 2025. Sebanyak 52 tim dari berbagai sekolah di NTB. Peserta hadir secara daring, terdiri atas siswa dan guru pendamping. Nantinya, peserta diharapkan mampu mengaktualisasikan materi yang diperoleh dalam bentuk dua musikalisasi puisi, yakni puisi wajib dan pilihan. 

Menurut Kiki, puisi wajib yang ditulis oleh J.E. Tatengkeng penuh tantangan. Puisi ini adalah puisi lama. Bagi peserta yang kurang imajinatif, boleh jadi akan terjebak dalam tema-tema klasikal. Sementara itu, Ipank, sapaan Pantjoro Sumarsa, menyampaikan bahwa puisi sudah membentuk irama dan tempo tertentu, demikian juga musik. "Soal aransemen, harus diciptakan melalui diskusi. Instrumen itu bebas, bisa berasal dari bunyi-bunyian perkusi yang tidak bernada. Hal pertama yang perlu dilakukan adalah membaca puisi, memahami maksud puisi seperti apa, dan ini bersifat subjektif. Masing-masing musisi pasti berbeda pemaknaan," jelasnya. 

Selepas kegiatan ini, rangkaian selanjutnya ada lomba musikalisasi puisi yang diawali dengan tahap penyisihan. Peserta diminta membuat video musikalisasi puisi yang akan diseleksi hingga sepuluh besar. Kesepuluh tim dari tahap penyisihan akan diadu dalam tahap final. Dua peserta terbaik akan mewakili Nusa Tenggara Barat dalam Festival Musikalisasi Puisi Nasional Tahun 2025.