Partisipasi Semesta dalam Peningkatan Kecakapan Literasi Ditunjukkan dalam Pemberdayaan Komunitas Literasi Tahun 2025

Mataram, 31 Mei 2025-- Pemberdayaan Komunitas Penggerak Literasi Tahun 2025 oleh Balai Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat telah sampai di hari ketiga. Rangkaian acara penutupan diselenggarakan. Selain itu, acara pada hari ini juga dimeriahkan oleh kehadiran Bunda Literasi Provinsi NTB secara daring. 

Arahan disampaikan oleh Bunda Literasi yang hadir melalui Zoom. Dwi Pratiwi, Kepala Balai Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat, memberi pengantar bahwa Balai Bahasa membutuhkan dukungan penuh dari Bunda Literasi dalam meningkatkan kecakapan literasi membaca. Salah satu cara yang ditawarkan oleh Balai Bahasa adalah melalui pemberdayaan komunitas literasi. Komunitas-komunitas literasi di Nusa Tenggara Barat banyak ragamnya. Ada yang baru muncul, ada yang telah lama bergerak. Penyelasaran seluruh komunitas dalam satu rumusan kebijakan sehingga tiap-tiap komunitas dapat saling berkomunikasi untuk memecahkan persoalan literasi menjadi hal yang disarankan untuk diprioritaskan.

Bunda Literasi, Sinta Agathia, menyampaikan dukungan penuh atas gagasan ini. Baginya, kehadiran komunitas dalam menggerakkan geliat literasi jadi hal fundamental. Ia mengakui, saat ini, kembali membuat masyarakat memegang buku adalah tantangan besar. "Membaca lebih dalam, tidak hanya di permukaan saja adalah hal yang sangat sulit dilakukan. Tantangan kita adalah bagaimana cara mengembalikan literasi untuk hadir dalam bentuk apa pun," ungkapnya. Untuk itulah, bagi Sinta, pelibatan komunitas literasi dari berbagai kalangan, dengan ranah yang luas, menjadi jalan pintas untuk mewujudkannya.

Menggunakan kesempatan dengan baik, beberapa peserta kegiatan juga menyampaikan masukan dan opini terkait kebijakan yang penting dilakukan oleh pemerintah daerah dalam menaikkan gejolak literasi. Zulkarnaen, salah seorang pegiat literasi sekaligus kepala sekolah, memberi masukan agar setiap kegiatan yang diselenggarakan pemerintah daerah selalu mengupayakan pelibatan buku. Misal, mengupayakan hadiah berupa buku untuk kegiatan yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah. Ia juga memohon alokasi dana berupa CSR dalam bentuk buku, tidak hanya kegiatan seremonial saja. Tidak lupa, Zulkarnaen mengharapkan dukungan pemerintah daerah dalam program BBM MBB ini sebab sependek pengetahuannya, program ini menjadi program yang pertama digagas di Indonesia.

Randa Anggarista, dosen sekaligus pegiat literasi dalam komunitas Lumbung Literasi menyampaikan kegelisahannya. Ia memohon agar Dinas Perpustakaan, baik tingkat provinsi maupun kabupaten/kota mendukung penulis lokal dengan pengadaan buku lokal di perpustakaan. Intervensi dari Bunda Literasi terkait hal ini tentu akan menguatkan dan mengkatalisasi kebijakan. ia juga berharap buku tidak lagi "dipojok-pojokkan" serupa pojok atau sudut baca, tetapi menjadi hal yang diletakkan di posisi yang strategis.

Menanggapi masukan yang diberikan peserta, Sinta menyampaikan bahwa langkah-langkah strategis untuk menjadikan buku dan membaca sebagai hal prioritas telah dilakukan. Ia mengatakan pengawalan terhadap distribusi buku dan penghadiran ruang baca yang kondusif akan dilakukan. Sinta juuga meminta agar hasil kegiatan pada hari ini dilaporkan kepada pemerintah daerah untuk dijadikan masukan dalam rumusan kebijakan.

Selepas arahan dari Bunda Literasi disampaikan, materi dilanjutkan. Peserta diminta untuk mendiskusikan secara lebih dalam program Benar-Benar Membaca dan Membaca Benar-Benar (BBM MBB). Peserta juga diminta mengisi formulir pendataan komunitas literasi. Data ini akan digunakan untuk melakukan pemberdayaan komunitas selanjutnya, khususnya dalam mengawal program BBM MBB. 

Pada sesi berikutnya, peserta dibagi menjadi dua, yakni peserta dari unsur pendidik formal (guru dan kepala sekolah) dan komunitas. Kedua kelompok diminta untuk membuat rencana tindak lanjut dari kegiatan ini. Tahap ini penting dilakukan untuk memastikan kegiatan tidak hanya berhenti hingga pemaparan materi saja, tetapi diimplementasikan di lembaga masing-masing. Untuk menguatkan pengimbasan, dilakukan penandatanganan komitmen bersama antara pihak penyelenggara dan peserta. Komitmen ini berisi pernyataan dukungan program BBM MBB, pengimbasan ilmu yang didapat dan diberikan, serta pengimplementasian kecakapan literasi dalam ruang belajar dan bekerja masing-masing.

Dalam rangkaian penutupan, Kepala Balai Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat dalam sambutan penutupnya menyampaikan bahwa Balai Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat sangat optimis program yang nantinya akan dijalankan oleh sekolah dan komunitas akan berjalan dengan baik. Hal ini karena seluruh pihak menunjukkan kesiapan yang maksimal dalam mendukung dan turut terlibat dalam memajukan literasi. "Seiring dengan apa yang menjadi tujuan pendidikan, partisipasi semesta jadi hal yang utama. Apabila ini dikerjakan bersama-sama, pasti akan terasa ringan. Sekali lagi, apabila tidak dapat dilakukan semua, jangan ditinggalkan semua. Pastikan ada yang tuntas," pungkasnya.