Balai Bahasa Provinsi NTB Melatih 251 Guru Master Revitalisasi Bahasa Daerah Tahun 2025

Mataram, 17 Juni 2025--Komitmen kuat ditunjukkan oleh Balai Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat dalam Program Revitalisasi Bahasa Daerah. Secara konsisten sejak tahun 2022, Balai Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat telah melaksanakan seluruh tahapan program Revitalisasi Bahasa Daerah, termasuk Bimbingan Teknis Guru Master. Sebanyak 251 guru master menjadi sasaran partisipasi aktif Balai Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat tahun 2025 ini. Sasaran melibatkan guru bahasa Indonesia, KKG, MGMP, kepala sekolah, dan pengawas sepuluh kabupaten/kota di Nusa Tenggara Barat.

Kegiatan Bimbingan Teknis Guru Master Revitalisasi Bahasa Daerah tahun 2025 ini dibuka secara resmi oleh Kepala Pusat Pengembangan dan Pelindungan Bahasa dan Sastra, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Dora Amalia. Dalam sambutannya, ia mengungkapkan bahwa seluruh tahapan Program Revitalisasi Bahasa Daerah telah dilaksanakan oleh Balai Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat. Menurutnya, seluruh tahapan tersebut merupakan cerminan upaya, baik dalam dukungan program, SDM, dan anggaran, antara Balai Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat dan pemerintah daerah. Hal ini merupakan tanggung jawab bersama, terutama dalam pelibatan dan partisipasi aktif masyarakat. "Kami berkewajiban memberikan arahan, cara, atau model pelestarian bahasa daerah. Saya melihat kesungguhan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat dalam pelestarian bahasa daerah, dengan penghargaan program Revitalisasi Bahasa Daerah kepada Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah, Lombok Barat, dan Kota Bima. Penghargaan kepada tiga kepala daerah tersebut merupakan wujud komitmen yang kuat terhadap dukungan program kami," paparnya, mengapresiasi peran dan dukungan pemerintah daerah di Provinsi Nusa Tenggara Barat.

 

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa program Revitalisasi Bahasa Daerah ini terus diperluas dan menyasar berbagai sasaran masyarakat. Pemerintah daerah telah menunjukkan dukungan nyata dalam upaya pelestarian bahasa daerah di 38 provinsi. Dengan dukungan anggaran, program ini tentunya dapat berjalan lebih maksimal.

Pemaparan Kepala Pusat Pengembangan dan Pelindungan Bahasa dan Sastra sejalan dengan laporan Kepala Balai Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat, Dwi Pratiwi. Ia menjelaskan bahwa sejak tahun 2022 hingga 2025, total 1.004 guru master telah dilatih oleh Balai Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat. Data tersebut bukan hanya sekadar statistik jumlah guru yang telah disasar, melainkan bukti nyata upaya pelestarian bahasa daerah di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Lingkungan pendidikan, yaitu tingkat SD dan SMP, menjadi sasaran utama program Revitalisasi Bahasa Daerah. Berdasarkan hasil evaluasi pelaksanaan program Rapat Koordinasi Antarinstansi dan Diskusi Kelompok Terpumpun (DKT) Revitalisasi Bahasa Daerah Tahun 2025, keberlanjutan pelestarian bahasa daerah merupakan tanggung jawab pemerintah daerah. Pada pelaksanaannya, Balai Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat terus berupaya mengawal pelestarian bahasa daerah melalui Revitalisasi Bahasa Daerah. "Kami tetap berupaya mendukung pemerintah daerah dalam upaya pelestarian bahasa daerah di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Kami berharap para guru master yang mengikuti kegiatan ini dapat mengimbaskan hasil kegiatan kepada rekan guru, siswa, dan masyarakat secara lebih luas," harapnya saat melaporkan kegiatan yang berlangsung di Aula Selaparang, Hotel Lombok Raya, Mataram.

Adapun hasil evaluasi pelaksanaan Program Revitalisasi Bahasa Daerah Tahun 2024, yaitu dukungan regulasi/kebijakan pemerintah daerah, ketersediaan bahan ajar, ketersediaan guru muatan lokal (bahasa daerah), belum adanya pelajaran muatan lokal, kurangnya waktu pelaksanaan kegiatan, dan dukungan anggaran yang memadai. Dari segi pemerintah daerah, dukungan dan pelaksanaannya cukup beragam, dengan kategori pemerintah daerah yang mendukung program secara penuh dan pemerintah daerah yang belum menunjukkan dukungan secara penuh. "Tentunya hal ini menjadi tugas besar kami untuk terus berupaya melakukan koordinasi dan diplomasi kemitraan dengan pemerintah daerah," tutupnya.

Langkah penguatan dukungan hadir dari Gubernur Nusa Tenggara Barat, Dr. H. Lalu Muhammad Iqbal, yang diwakili oleh Kepala Bidang Kebudayaan, Lalu Abdurrahim. Ia menegaskan bahwa kehadirannya merupakan bentuk dukungan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat kepada Balai Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat.Dalam sambutannya, ia menyerukan pentingnya penghargaan dan aktualisasi nilai-nilai pelestarian bahasa daerah di dalam keluarga dan masyarakat. "Pelestarian bahasa daerah tidak hanya menyasar lingkungan sekolah sebagai tunas revitalisasi bahasa daerah. Lingkungan keluarga juga berperan penting dalam melestarikan bahasa daerah yang positif sehingga lahir tunas-tunas bahasa Ibu," imbuh Lalu Abdurrahim.

Ia juga menyoroti kegiatan masif dalam pelestarian bahasa daerah yang dilaksanakan oleh Balai Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat. Menurutnya, pembangunan daerah tidak harus selalu tentang pembangunan fisik, tetapi juga pembangunan manusia secara utuh melalui pembinaan karakter masyarakat. Salah satu pembinaan tersebut adalah melalui penguatan karakter pelestarian bahasa daerah. Hal tersebut berdampak pada nilai-nilai integritas berbahasa dan berbudaya masyarakat Sasak, Samawa, dan Mbojo.

Kegiatan berlangsung selama tiga hari mulai tanggal 17–19 Juni 2025.Bimbingan teknis dibagi dalam enam kelas, yaitu kelas SD Sasak, SMP Sasak, SD Samawa, SMP Samawa, SD Mbojo, dan SMP Mbojo. Sebanyak 18 narasumber, guru master dari perwakilan bahasa Sasak, Samawa, dan Mbojo, menjadi pendamping utama dalam memberikan tujuh materi Revitalisasi Bahasa Daerah.