Balai Bahasa Provinsi NTB Turut Berpartisipasi dalam Uji Coba Pembelajaran BIPA di Timor Leste
Mataram, 22 Januari 2025—Pada tahun 2024, salah satu pengajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) dari Balai Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat, Zamzam Hariro, ditugasi ke Timor Leste untuk mengajar BIPA kepada siswa dan mahasiswa Timor Leste. Program ini sekaligus sebagai bentuk diplomasi internasionalisasi bahasa Indonesia. Melanjutkan program tersebut, bekerja sama dengan Balai Bahasa Provinsi NTB, Zamzam Hariro kembali diundang untuk menjadi narasumber kegiatan uji coba pembelajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing
(BIPA).
Kantor Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) KBRI Dili mencetuskan program pembelajaran BIPA bagi siswa SD. Program ini dilakukan untuk memastikan bahasa Indonesia dikenal dan dipelajari masyarakat Timor Leste sejak dini. Dengan demikian, kemahiran berbahasa Indonesia masyarakat dapat berada pada tingkat yang lebih tinggi di jenjang pendidikan berikutnya.
Dalam sambutannya, Ikhfan Haris selaku Atdikbud, mengatakan bahwa proses pencanangan program ini cukup panjang. Selama satu tahun program ini telah dirancang dengan merangkul berbagai pihak, salah satunya Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. "Kami sangat berterima kasih kepada teman-teman atas perhatian internasionalisasi bahasa Indonesia melalui program ini. Kami harap, pelatihan-pelatihan selanjutnya dapat dilakukan dengan pengiriman calon pengajar BIPA di Timor Leste ke Indonesia," tuturnya melalui ruang virtual Zoom.
Program ini dijalankan dengan mengadakan pelatihan bagi calon pengajar BIPA asal Timor Leste. Dalam tahap awal ini, sebanyak tiga orang guru calon pengajar bergabung dalam uji coba pembelajaran BIPA. Pada pertemuan pertama ini, sebanyak tiga narasumber dihadirkan, yakni dari perwakilan Balai Bahasa Provinsi NTB, Balai Bahasa Provinsi Lampung, dan guru BIPA dari NTT. Zamzam Hariro, didampingi empat staf lain dari Balai Bahasa Provinsi NTB, memberi materi berjudul "Kurikulum Bahasa Indonesia Tingkat Sekolah Dasar" di Distrik Oecusse. Ia menguraikan pengenalan kurikulum, mulai dari pengertian kurikulum, bagaimana kurikulum pembelajaran bahasa dijalankan di Indonesia, dan tipe-tipe model pembelajaran yang dapat dianut dalam kurikulum pembelajaran BIPA di Timor Leste.
"Tidak ada kurikulum yang berlaku mutlak. Meskipun kurikulum telah ditentukan, sifatnya sebagai kerangka untuk mencapai pembelajaran yang diinginkan. Dengan demikian, guru tetap harus menyesuaikan dengan keadaan siswa. Apabila siswa dirasa memiliki kecepatan belajar berbeda dengan yang dirumuskan dalam kurikulum, guru wajib menyesuaikan," jelasnya. Zamzam juga memberi beragam model dan metode pembelajaran kreatif. Ia meminta agar guru menciptakan ruang belajar yang menyenangkan dengan menghadirkan permainan, teks multimodal, dan praktik langsung yang melibatkan siswa. Tidak lupa, Zamzam menekankan pentingnya memasukkan konteks budaya dalam pembelajaran, sebab pembelajaran bahasa tidak lepas dari pengenalan budaya bahasa sasaran.
Setelah Zamzam melakukan penyampaian materi, materi kedua dilanjutkan oleh Dian Anggraini, pengajar BIPA dari Balai Bahasa Provinsi Lampung. Ia menjelaskan materi terkait "Pengenalan Bahasa Indonesia untuk Tingkat Sekolah Dasar". Kegiatan pembelajaran BIPA ini akan terus dijalankan secara daring sembari proses penyempurnaan program dilakukan oleh Atdikbud KBRI Dili.