Balai Bahasa Provinsi NTB Ikuti Evaluasi dan Tindak Lanjut LHE ZI-WBK Tahun 2024
Mataram, 23 Januari 2025—Balai Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat menghadiri kegiatan Evaluasi dan Tindak Lanjut LHE ZI-WBK yang diselenggarakan oleh Biro Organisasi dan Sumber Daya Manusia, Kemendikdasmen melalui ruang virtual Zoom. Kegiatan ini diinisiasi sebagai salah satu wadah evaluasi setiap lembaga dalam pelaksanaan ZI-WBK. Kepala Balai Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat, Puji Retno Hardiningtyas, mengungkapkan bahwa kegiatan ini sangat penting, baik bagi instansi yang berhasil meraih predikat ZI-WBK maupun instansi yang belum meraih predikat ZI-WBK. "Evaluasi dan tindak lanjut perbaikan LHE ZI-WBK dibutuhkan oleh setiap instansi yang berkomitmen dalam membangun ZI-WBK. Kita harus tetap semangat dalam melakukan perbaikan secara berkelanjutan," pesannya kepada para pegawai yang mengikuti kegiatan ini.
Kegiatan ini dipandu oleh Ovi Soviaty Rifai, penanggung jawab pendampingan pelaksanaan ZI-WBK dari Biro Organisasi dan Sumber Daya Manusia. Ia mengawal narasumber dari Tim Penilai Nasional (TPN) Kemenpan RB, Arif Rahman. Dalam paparannya, Arif Rahman menekankan pada pemenuhan data dukung yang tidak hanya memenuhi syarat tuntas secara kuantitas, tetapi juga kualitas sajian data yang ditampilkan oleh setiap lembaga. Salah satu perwakilan instansi, BBPMP Sulawesi Selatan, Endang Asriyanti, menuturkan bahwa ada pemenuhan SPM yang belum tuntas pada data yang diolah oleh BBPMP Sulawesi Selatan. Selain itu, adanya risiko yang belum dikelola pada matriks risiko dan pengaduan yang belum ditangani dan diselesaikan. "Kami berharap bahwa catatan-catatan yang telah kami dapatkan tersebut menjadi bahan masukan evaluasi kami pada rapat evaluasi ini. Kami berupaya untuk memperbaiki segala kekurangan pembangunan ZI-WBK kami," tutur Endang saat melakukan konsultasi penjelasan catatan perbaikan LHE.
Arif Rahman selaku perwakilan TPN menjelaskan bahwa ada kemungkinan ketika wawancara, penjelasan dan data dukung kurang meyakinkan, sehingga konfirmasi data yang diperlukan oleh TPN belum dapat diberikan secara utuh. "Memang penilaian ZI-WBK tidak semua data harus tuntas, berbeda dengan ZI-WBBM. Akan tetapi, data statistik yang dimiliki oleh TPN menjadi tolok ukur penilaian secara komprehensif. Validasi data ketika wawancara sangat penting. Ketika kita menjelaskan kurang lengkap, kita dianggap tidak dapat membuktikan data dukung dengan lebih jelas dan dianggap tidak menguasai pembangunan ZI-WBK. Kerapian data dukung beserta penjelasan dalam LKE menjadi salah satu poin dalam penilaian TPN," terang Arif.
Sejalan dengan rapat evaluasi ZI-WBK, Kepala Balai Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat juga menjelaskan budaya kerja di Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa dan Kemendikdasmen. Budaya kerja tersebut di antaranya Kesatria, RAMAH, SANTUN, dan SIMI. Budaya Kesatria berfokus pada nilai berintegritas, kreatif dan inovatif, berani dan bertanggung jawab, adil, dan terus belajar. Budaya RAMAH, yaitu responsif, akuntabel, melayani, adaptif, dan harmonis. Budaya SANTUN meliputi setia, amanah, negarawan, teladan, unggul, dan ngemong. Budaya SIMI, yaitu sosialisasi, informasi, mitigasi, dan intervensi. Semua nilai budaya tersebut menjadi pedoman bagi seluruh pegawai dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya. "Saya berharap bahwa nilai-nilai budaya kerja ini menjadi pedoman kita dalam bekerja dengan penuh dedikasi," harap Puji Retno di Ruang Anjani Balai Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat.