Balai Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat Menginisiasi DKT Penyusunan Peta Kebinekaan Bahasa dan Sastra Daerah di Provinsi NTB
Mataram, 5 Februari 2025-- Balai Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat memulai kegiatan pengembangan bahasa daerah di tahun 2025 dengan pelaksanaan Rapat Koordinasi dan Diskusi Kelompok Terpumpun Penyusunan Peta Kebinekaan Bahasa dan Sastra Daerah di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Pada tahun 2025 ini, ditargetkan tersusun Peta Kebinekaan Bahasa dan Sastra salah satu bahasa di Provinsi NTB, yakni bahasa Sasak. Untuk itu, dilakukan diskusi kelompok terpumpun demi memperjelas dan menyamakan persepsi dalam penyusunan peta kebinekaan bahasa dan sastra daerah di Provinsi NTB. Kegiatan ini juga bertujuan untuk menyusun instrumen pemetaan.
Seluruh tim teknis kebahasaan dan kesastraan di Balai Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat terlibat dalam kegiatan ini. Sebanyak 16 pegawai menjadi peserta kegiatan yang nantinya akan dibagi dalam lima kelompok kerja sesuai dengan jumlah kabupaten dan kota di Pulau Lombok. Eri Setyowati dan Anita Astiawati Ningrum sebagai Widyabasa di Pusat Pengembangan dan Pelindungan Bahasa dan Sastra menjadi narasumber utama dalam kegiatan ini. Eri menyampaikan materi terkait tujuan, proses, dan output serta pedoman dan petunjuk teknis kegiatan penyusunan Peta Kebinekaan Bahasa dan Sastra. Sementara itu, Anita menyampaikan secara spesifik terkait prosedur pemetaan sastra. Keduanya menyampaikan materi secara daring.
Dalam sambutan yang disampaikan saat menutup kegiatan, Puji Retno Hardiningtyas selaku Kepala Balai Bahasa Provinsi NTB menyampaikan bahwa dalam pemetaan kali ini, tantangan besar dihadapi oleh seluruh UPT di bawah Badan Bahasa. Selain tantangan berupa luasnya wilayah pemetaan, belum adanya kesepakatan instrumen, dan jumlah sumber daya yang tidak cukup banyak, akomodasi dalam pelaksanaan pemetaan juga belum memadai. Tim akan melaksanakan pemetaan bahasa, sastra, dan aksara dengan anggaran minimal. "Arahan terkait kejelasan instrumen dan proses pemetaan perlu diseragamkan sehingga ketika turun lapangan dan menghadapi masyarakat, kegiatan berjalan lebih efektif. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa anggaran kita terbatas, artinya kita juga memiliki waktu yang terbatas untuk pengambilan data di lapangan," pungkasnya.
Tidak hanya pegawai Balai Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat, kegiatan ini juga diikuti oleh kepala dan pegawai Kantor dan Balai Bahasa di provinsi lain. Secara serentak, seluruh UPT di masing-masing provinsi akan melaksanakan pemetaan di tahun 2025 ini. Pemetaan bukan hal baru bagi Badan Bahasa. Sejak tahun 2006, pemetaan bahasa telah dilakukan secara terstruktur dengan hasil yang memukau. Pemutakhiran data dan pemetaan dialek bahasa, sastra, dan aksara yang sebelumnya belum sempat dilakukan akan menjadi tujuan dilakukannya kegiatan ini.