Balai Bahasa Provinsi NTB Dampingi Kunjungan Kerja Mendikdasmen ke Pesantren Modern Internasional Dea Malela
Sumbawa, 14--15 Februari 2025--Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti, melakukan kunjungan kerja ke Pondok Pesantren Modern Internasional Dea Malela. Kunjungan kerja dilaksanakan selama dua hari. Dalam melakukan kunjungan, ia ditemani oleh tiga kepala UPT Kemendikdasmen di Provinsi NTB, yaitu Kepala Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (Katman), Kepala Balai Guru Penggerak (Wirman Kasmayadi), dan Balai Bahasa (Puji Retno Hardiningtyas). Kehadiran Balai Bahasa Provinsi NTB sekaligus untuk melakukan pengajaran BIPA kepada siswa asing di Ponpes Dea Malela.
Pada hari pertama, sebanyak lima siswa kelas XII SMA Dea Malela berkesempatan memaparkan makalah ilmiahnya langsung di hadapan Abdul Mu'ti selaku penguji. Selain itu, ada ada penguji lainnya, yaitu Din Syamsudin, Wahyu Sri Utomo dari ITB, dan Nahla Shabri As-Shai'dy selaku Penasihat Grand Shaikh Al-Azhar. Paparan disampaikan dalam dua bahasa, yaitu Inggris dan Arab.
Chelsea, siswa kelas XII, menjadi salah satu siswa yang berkesempatan memaparkan hasil penelitiannya. Siswa yang meneliti hubungan antara penggunaan narkoba dan peningkatan jumlah penderita skizofrenia ini mengaku senang dan bangga bisa memaparkan penelitiannya di hadapan empat profesor terkemuka.
Pada malamnya, Abdul Mu'ti berkesempatan menjadi pembicara dalam suatu dialog bersama Shabri As-Shai'dy. Dialog dilakukan dalam tiga bahasa, yaitu Indonesia, Inggris, dan Arab. Hal tersebut selaras dengan apa yang digaungkan oleh Badan Bahasa, yaitu untuk mengutamakan bahasa Indonesia dan menguasai bahasa asing. Para peserta tampak antusias menyimak dan mengajukan pertanyaan.
Satu pertanyaan menarik yang sedang menjadi isu hangat diajukan oleh peserta, yaitu mengenai wacana Ujian Nasional (UN) akan kembali diadakan. Abdul Mu'ti selaku Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah merasa UN sebenarnya sangat penting untuk siswa, hanya saja perlu ada beberapa perubahan dalam pelaksanaan dan fungsinya.
"Ujian Nasional berguna untuk memetakan tingkat kualitas pendidikan di seluruh Indonesia. Dengan begitu, pemerintah bisa membuat kebijakan yang tepat guna," ungkap Abdul Mu'ti. Ia merasa Asesmen Nasional kurang tepat karena yang dites hanya beberapa siswa dari satu sekolah.
Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa beberapa universitas di luar negeri selama ini menggunakan nilai UN sebagai salah satu pertimbangan menerima calon mahasiswa dari Indonesia. Dengan tidak adanya nilai UN, banyak pintu untuk melanjutkan studi ke luar negeri menjadi hal tertutup. Hal itu pula yang menjadi sorotan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah saat ini.
Pada pagi hari tanggal 15 Februari 2025, Abdul Mu'ti bersama jajaran mengikuti apel pagi yang dilaksanakan oleh Pondok Pesantren Dea Malela. Din Syamsudin selaku Kepala Pondok Pesantren mengungkapkan bahwa Dea Malela merupakan sekolah yang mempertemukan pendidikan ilmiah dan agama. Sejalan dengan hal tersebut, Abdul Mu'ti memberi pesan kepada para siswa untuk mengejar keduanya, pendidikan dan agama. Dengan begitu, diharapkan akan muncul generasi penerus bangsa yang cerdas dan berlandaskan agama.