Pagelaran Peseran NTB, Ajang Pelestarian Budaya dan Hiburan Masyarakat
Lombok Barat, 12 April 2025—Kepala Balai Bahasa Provinsi NTB, Dwi Pratiwi, beserta tim menghadiri undangan dari Yayasan Pemaos Sabda Jati (Pesaja) dalam acara pembukaan Pagelaran Peresean yang berlangsung di Lapangan AKN Lombok Barat. Kehadiran Kepala Balai Bahasa Provinsi NTB merupakan salah satu bentuk dukungan terhadap kegiatan kebudayaan yang dapat bersinergi dengan revitalisasi bahasa daerah. Acara tersebut berlangsung dari tanggal 12 sampai 16 April 2025. Pada pembukaan acara, hadir Gubernur NTB yang diwakili oleh Kepala Dinas Pariwisata Lombok Barat, Ketua Majelis Adat Sasak, Camat Kuripan, dan Kepala Desa Kuripan. Pada acara ini berkumpul pula seluruh sanggar peresean di Pulau Lombok.
Ketua Yayasan Pesaja, Zul Padli, menyampaikan bahwa kegiatan ini terlaksana berkat bantuan dana dari pemerintah untuk pelestarian kebudayaan masyarakat. Ia berharap bukan hanya Yayasan Pesaja yang mampu mendapatkan dana tersebut, tetapi juga yayasan lain yang memiliki kemampuan serupa untuk memajukan kebudayaan di NTB. Hal serupa juga diutarakan Ketua Majelis Adat Sasak, Mamiq Sajim. Ia berharap Peresean bisa menjadi olahraga nasional jika para pemain peresean dan serikat pepadu bisa menjelaskan dan mengatur peraturan peresean sesuai dengan ketentuan olahraga nasional sehingga kesempatan itu bisa terjadi.
Harapan lain disampaikan Kepala Dinas Pariwisata Lombok Barat, Muh. Ruslan, sebagai perwakilan Gubernur NTB. Salah satu penyebab keberhasilan pemerintah daerah dalam memajukan daerah adalah kemampuan pemerintah dalam menjaga dan melestarikan budaya daerah. "Kebudayaan kita yang beragam harus terus kita lestarikan dan perkenalkan kepada masyarakat luas. Kebudayaan daerah kita merupakan kebanggaan kita sebagai masyarakat NTB," ujarnya dalam pidato pembukaan Pagelaran Peresean.
Acara dilanjutkan dengan penampilan dari sanggar peresean. Penampilan para pepadu dengan atraksi saling berkelahi di arena yang telah dibuat di tengah lapangan. Meski acara ini berlangsung saat hujan, para penonton, baik orang tua maupun anak-anak, antusias menyaksikan pagelaran budaya peresean secara langsung.