Balai Bahasa Provinsi NTB dan Forum Lingkar Pena Provinsi NTB Jalin Sinergi untuk Penguatan Literasi dan Sastra
Mataram, 15 April 2025—Balai Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat menerima kunjungan Forum Lingkar Pena (FLP) NTB. Kunjungan tersebut diterima oleh Kepala Balai Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat bersama perwakilan Tim Literasi dan Kerja Sama di Ruang Anjani.
Kepala Balai Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat, Dwi Pratiwi, mengungkapkan ketertarikannya akan dunia sastra. Ia menuturkan bahwa pengetahuannya tentang sastra sedikit, tetapi ia berusaha menyukainya. Menurutnya, menyukai dunia tulis menulis sangatlah kreatif. Ia mulai mengenal FLP dari Helvy Tiana Rosa yang sering bekerja sama dengan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa di Jakarta.
Alimin Samawa, yang merupakan anggota FLP NTB sekaligus perwakilan yang hadir, menjelaskan bahwa dunia menulis sudah menjadi bagian dari diri dan komunitas FLP. "Sekarang kebanyakan jenis tulisan berupa nonfiksi. Rekan-rekan di FLP berupaya untuk tetap berkoordinasi dan bersinergi dengan rekan komunitas lainnya."
Giat komunitas literasi di NTB cukup tinggi. Tantangan kita hari ini adalah bagaimana anak muda senang dengan dunia kepenulisan, karena sekarang orientasi lebih ke nilai ekonomi," terang Alimin saat menjelaskan kondisi awal dunia kepenulisan di NTB.
Hal tersebut memantik tanggapan dari Kepala Balai Bahasa Provinsi NTB. Ia menekankan pentingnya penguatan peran pemerintah dan masyarakat dalam hal literasi. "Kerja FLP di NTB juga perlu kita kenali bersama sehingga ketika berkolaborasi dapat mengembangkan sastra dan literasi. Saya mendapat informasi bahwa giat menulis dan literasi di NTB tinggi," imbuhnya.
Ia juga menyoroti kualitas hasil penulisan saat ini, apakah hasil pemikiran murni atau ada bantuan dari kecerdasan teknologi AI. Sekolah menjadi lokasi pengembangan literasi yang penting. "Kami mempunyai program Benar-Benar Membaca dan Membaca Benar-Benar (BBM-MBB) sesuai dengan target kami, yaitu pustakawan sekolah. Harapannya adalah melalui pustakawan sekolah, pemanfaatan buku bahan bacaan literasi di sekolah berfungsi dengan baik. Kita semua mempunyai tanggung jawab dalam pemanfaatan buku yang baik. Selain tuntas membaca secara fisik, ketuntasan kualitas dan pemahaman siswa juga perlu diperhatikan. Jadi, siswa mengetahui apa yang dibaca dan dapat mempraktikkannya. Perlu juga adanya penguatan pemberdayaan naskah kuno yang nilai luhurnya bisa diungkap dan dituangkan dalam cerita,” ujar Dwi Pratiwi.
Berdasarkan informasi dari Tim FLP NTB, kondisi literasi di sekolah juga perlu pendampingan terhadap siswa secara konsisten. “Sebagai percontohan, aktivitas literasi di MAN 2 Bima diampu guru bahasa Indonesia. Kegiatan literasi berjalan lancar. Komitmen kepala sekolah juga menjadi faktor pendukung penting dalam keberhasilan literasi di sekolah. Kita bicara ide menulis dalam hal kebudayaan; banyak sekali. Kita berbicara tentang tradisi, cerita rakyat, tempat bersejarah, dan cerita lokal lainnya,” tambah Alimin Samawa.
Kedua lembaga sepakat berpandangan bahwa penguatan literasi harus dilakukan oleh berbagai pihak. Penguatan literasi di sekolah dan peran pustakawan sekolah menjadi fokus program pengembangan.