Balai Bahasa Provinsi NTB dan Wikithon BasaNTB Gaungkan Peran Pemuda dalam Penguatan Literasi dan Pencegahan Kekerasan Seksual

Mataram, 22 April 2025—Balai Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat mendukung berbagai program yang dilaksanakan oleh mitra kerja sama. Hari ini, Selasa (22/4), Kepala Balai Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat berpartisipasi dalam kegiatan Dialog Kebijakan Wikithon Partisipasi Publik yang diselenggarakan oleh BASANTB Wiki di Aula Bappeda Provinsi NTB. Dwi Pratiwi, Kepala Balai Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat, mengapresiasi program dan kegiatan aktif organisasi pemuda yang konsisten mengangkat isu-isu literasi, bahasa daerah, peran pemuda, peran perempuan, kekerasan seksual, pendidikan, dan pembangunan daerah. Menurutnya, program yang telah dilaksanakan oleh BASANTB menjadi pemantik peran pemuda dengan sinergi positif.

Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa Balai Bahasa Provinsi NTB merupakan salah satu UPT Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Terkait dengan dialog ini, ada beberapa poin strategis yang dapat dikolaborasikan karena Balai Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat mendukung program kegiatan yang dilaksanakan oleh pemerintah daerah.

Lebih lanjut ia menjelaskan tiga program prioritas. "Pertama, program literasi. Hal ini menjadi tugas kita bersama karena berdasarkan nilai rapor pendidikan di NTB, 42% belum mencapai minimum tingkat literasi yang memadai. Hal ini juga terkait dengan penggunaan bahasa Indonesia di ruang publik. Kita harus mencerminkan penggunaan bahasa Indonesia yang utama. Contohnya, seperti di Kabupaten Lombok Utara telah berkonsultasi dengan kami untuk menyesuaikan nomenklatur lembaga sesuai dengan pedoman Trigatra Bangun Bahasa. Kedua, revitalisasi bahasa daerah. Kita perlu menggali peran pemuda dalam pandangannya terhadap isu ini. Kami mendukung pelestarian bahasa Ibu. Kami tidak bisa bergerak sendiri tanpa banyak dukungan dari berbagai pihak. Ketiga adalah internasionalisasi bahasa Indonesia melalui BIPA.
Pengurangan angka pernikahan dini dan stunting juga bisa diupayakan melalui peningkatan program literasi,” paparnya menjelaskan kerkaitan dan keterlibatan tugas dan fungsi Balai Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Sebelumnya, berdasarkan laporan Ketua BasaNTB Wiki, Walissa Tanaya Pranemeswari, mengungkapkan bahwa dialog hari ini adalah lanjutan dari semangat Kompetisi Wikithon Menulis pada bulan Februari–Maret lalu. “Kami menerima 251 tulisan dari para pemuda NTB dengan tema pencegahan kekerasan seksual di NTB. Tema ini sendiri dipilih karena adanya keprihatinan terhadap kondisi saat ini. Ada tujuh pemenang terpilih yang hadir pada kegiatan ini untuk ikut berdialog bersama. Kita hadir di sini untuk menjadi semangat dalam ruang dialog terbuka bagi para pemuda dan kesempatan untuk menyuarakan pengetahuan dengan penuh kebijaksanaan. Di sinilah ruang kita untuk menciptakan literasi terbuka dengan dialog bersama. Mari, kita berdialog dengan rasa empati dan tumbuh bersama karena pencegahan kekerasan seksual tidak terbatas pada peraturan, tetapi bertumbuh pada ruang-ruang dialog yang terbuka,” ajaknya kepada seluruh peserta dialog.

Penguatan dialog yang mengangkat peran pemuda dalam pencegahan kekerasan seksual ini turut dihadiri dan dibuka langsung oleh Kepala Bidang Pemerintahan dan Pembangunan Manusia Bappeda Provinsi NTB, Huwailid. Ia menuturkan bahwa angka pernikahan dini di Provinsi NTB masih cukup tinggi. Dengan adanya dialog kebijakan publik, ia berharap hal ini dapat membantu dan meningkatkan kesadaran masyarakat. Hal ini juga berkaitan dengan kenaikan angka stunting anak di NTB. "Pemerintah tidak bisa sepenuhnya mengatasi hal ini, dibutuhkan peran generasi muda yang sadar dan berkontribusi terhadap pembangunan daerah. Apalagi kita sudah menetapkan RPJMD kita pada tahun 2045 untuk melahirkan Indonesia Emas,” imbuhnya.

Kegiatan yang melibatkan berbagai kalangan ini menghadirkan perwakilan dari Bappeda Provinsi NTB, Dinas Pemuda dan Olahraga NTB, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTB, Dinas Kesehatan Provinsi NTB, BKKBN NTB, pemenang Wikithon, Duta Bahasa, Duta Genre, Senyum Puan, Rumah Perempuan Migran, dan komunitas lainnya. Kegiatan dilanjutkan dengan pembagian kelompok diskusi menjadi 3 kelompok. Kelompok I membahas tema Pencegahan Kekerasan Seksual, Kelompok II membahas Peningkatan Peran Bystander, dan Kelompok III membahas Edukasi Pencegahan Kekerasan Seksual. Ketiga kelompok memaparkan hasil diskusi yang akan dijadikan rekomendasi bahan kebijakan dan regulasi penguatan pencegahan kekerasan seksual, salah satunya melalui peningkatan literasi pemuda dan masyarakat.