Gagas Permainan Edukatif Kartu Mandalika: Upaya Peningkatan Literasi dengan Cara yang Menyenangkan
Sejak dicanangkan pada tahun 2015, program Gerakan Literasi Nasional telah mampu mendorong praktik literasi, baik di sekolah, keluarga, maupun masyarakat. Namun, gambaran kondisi literasi masyarakat tidak dapat diketahui secara pasti. Selama ini tingkat literasi masyarakat Indonesia umumnya digambarkan melalui survey yang dilakukan oleh Lembaga internasional, seperti rilis PISA atau UNESCO atau Central Connecticut State University di bawah tajuk The Most Literate Nations. Sementara itu, di tingkat pemerintahan, Puspendik, Balitbang (2019) menyebutkan bahwa telah mengembangkan Asesmen Kompetensi Siswa Indonesia (AKSI) atau Indonesia National Assessment Programme (INAP) yang mampu memberikan gambaran tingkat literasi siswa. Namun, survei tersebut ditujukan hanya kepada siswa di sekolah sehingga gambaran kondisi literasi masyarakat secara umum belum diketahui dengan pasti. Untuk itu, gambaran aktivitas literasi masyarakat, khususnya di Provinsi Nusa Tenggara Barat perlu dilakukan kajian yang tepat.
Peningkatan literasi masyarakat sejak tahun 2016 melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah meluncurkan GLN dengan menyasar: sekolah, keluarga, dan masyarakat. Namun, program GLN ini memiliki tantangan yang cukup besar. Salah satu contohnya adalah kondisi sarana dan prasarana untuk mendukung GLS, yaitu perpustakaan sekolah tidak memadai. Untuk literasi di Provinsi Nusa Tenggara Barat belum mencapai ukuran lengkap untuk sarana dan prasarananya, terlebih setelah gempa 2018 lalu.
Tiga Masalah Kondisi Literasi
Ada tiga permasalahan utama yang diangkat dalam artikel ini. Pertama, penetapan status daerah tertinggal, Provinsi Nusa Tenggara Barat, didasarkan pada beberapa kriteria, seperti sumber daya manusia, sarana dan prasarana, dan aksesibilitas belum memenuhi standar tersebut. Hal ini sejalan survei Badan Pusat Statistik (2022) menyatakan bahwa status sebagai daerah 3T yang dipicu oleh ketidakmerataan pembangunan memiliki hubungan erat dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). United Nation Development Program (UNDP) melaporkan bahwa IPM Indonesia berada pada urutan ke-114 di dunia dengan nilai capaian 72.91 poin. Hal ini pun diperkuat dengan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 63 Tahun 2020 tentang Penetapan Daerah Tertinggal Periode 2020—2024. Peraturan ini mendefinisikan daerah tertinggal sebagai daerah kabupaten yang wilayah serta masyarakatnya kurang berkembang dibandingkan dengan daerah lain dalam skala nasional. Melalui peraturan tersebut, pemerintah menetapkan 62 kabupaten yang berada dalam status daerah tertinggal dan jumlahnya bisa bertambah sehubungan dengan adanya kewenangan presiden yang dapat menetapkan daerah tertinggal baru. Salah satunya adalah Provinsi Nusa Tenggara Barat.
Peningkatan kompetensi multiliterasi, multikultural, dan multimedia melalui pemberdayaan multiintelegensia merupakan tujuan utama dari pembelajaran literasi (Kusmiarti & Hamzah, 2019). Di daerah 3T, masyarakat lebih dominan menggunakan bahasa daerah dibandingkan bahasa Indonesia, termasuk dalam proses belajar mengajar (Dariono, 2021). Membangun pendidikan berarti membangun masa depan bangsa melalui penyiapan sumber daya manusia yang sesuai dengan tuntutan zaman (Suswandari, 2018). Hasil penelitian menunjukan bahwa penggunaan teknologi dalam proses pembelajaran masih sulit meningkatkan literasi generasi Z karena kesulitan berkomunikasi secara langsung, instan, dan pudarnya nilai-nilai budaya serta agama (Hastini et al., 2020).
Kedua, dibutuhkan pemerataan dan penyediaan infrastruktur yang memadai untuk mendukung daya saing dan perkembangan wilayah 3T. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia turut mendukung pembangunan di wilayah 3T (terdepan, terluar, tertinggal) melalui pencetakan dan pengiriman buku pengayaan literasi untuk siswa SD (Kemendikbudristek, 2022). Nusa Tenggara Barat merupakan provinsi yang mendapatkan hibah buku sejumlah 134.240 eksemplar, khususnya 80 SD di Kabupaten Lombok Utara (KLU) tahun 2022. Upaya ini pun belum memberikan perubahan secara signifikan literasi di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Oleh karena itu, diperlukan pengembangan strategi baru yang lebih tepat untuk mendapatkan masyarakat yang literat.
Ketiga, terkadang muncul berbagai pertanyaan, “mengapa masyarakat Indonesia lebih menyukai sesuatu yang berbau sensasi dibandingkan edukasi; mengapa konten-konten edukatif sering kali diabaikan; dan mengapa misinformasi sangat mudah terjadi di Indonesia? Dengan melihat pola kejadian dan masalah tersebut disimpulkan bahwa informasi-informasi bermanfaat yang diberikan cenderung disajikan dalam bentuk yang terlalu formal, serius, dan tidak mengikuti pola atau mode yang berkembang dan diminati saat ini.
Gagas Kartu Mandalika
Setelah menganalisis dan memahami pola kegemaran masyarakat terhadap metode pembelajaran yang menarik, mudah, menyenangkan, tetapi tetap memiliki unsur kedaerahan, digagaslah Kartu Mandalika oleh Duta Bahasa NTB 2023. Permainan edukatif ini diberi nama Kartu Mandalika yang merupakan kepanjangan dari Meningkatkan Daya Literasi dengan Kartu. Kartu Mandalika ini diciptakan untuk mengatasi masalah klasik, yaitu darurat membaca di kalangan anak muda. Oleh karena itu, perlu mencari kreativitas peningkatan literasi melalui permainan.
Lahirnya Kartu Mandalika tidak tercipta secara tiba-tiba. Pemenang Duta Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat mengembangkan permainan edukatif bagi generasi muda sebagai upaya peningkatan literasi.
Kartu Mandalika merupakan media pembelajaran dengan konsep permainan kartu untuk memperkuat penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar serta wawasan kebahasaan bagi masyarakat. Kartu Mandalika berisikan 30 pertanyaan seputar literasi dan kebahasaan beserta 30 kartu kunci jawabannya sehingga bisa dimainkan oleh 3—5 orang. Tidak hanya itu, Kartu Mandalika juga hadir dalam tujuh edisi yang terdiri atas padanan istilah asing dalam bahasa Indonesia, penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar, sinonimi, antonimi, dan tiga bahasa daerah utama di Nusa Tenggara Barat, yaitu Sasak, Samawa, dan Mbojo.
Sasaran dan Peluang Kartu Mandalika
Target utama dari media pembelajaran ini adalah remaja dan anak-anak dengan rentang usia dari 14—21 tahun. Dengan demikian, lokasi yang strategis untuk penempatan Kartu Mandalika adalah kafe, sekolah, dan komunitas literasi.
Kartu Mandalika menjadi inovasi yang aplikatif karena dapat dimainkan kapan pun dan di mana pun. Masyarakat di daerah 3T juga bisa bermain sambil belajar menggunakan kartu ini. Tata cara permainan Kartu Mandalika cukup sederhana. Pemain akan mengambil masing-masing satu kartu dalam satu kali putaran dan menjawab pertanyaannya. Selanjutnya, pemain harus mengambil kartu jawaban dengan nomor yang sesuai dengan kartu pertanyaannya untuk melihat apakah jawaban pemain tersebut benar atau tidak. Apabila pemain menjawab dengan benar, ia akan mendapatkan satu poin. Jika salah, pemain tidak akan mendapatkan poin sehingga kartu yang telah dijawab harus disingkirkan.
Kartu Mandalika mampu menjawab berbagai pertanyaan, seperti penyebab pelajaran bahasa Indonesia terasa sangat membosankan, alasan kita perlu mempelajari kata baku, dan metode pembelajaran literasi dan kebahasaan yang terasa sangat monoton. Program krida ini mampu memberikan kemudahan bagi para pemainnya dalam proses penyerapan informasi terkait literasi dan kebahasaan. Kehadiran Kartu Mandalika diharapkan mampu menjadi jawaban atas permasalahan kebahasaan dan literasi yang ada. Minat literasi yang rendah, kurangnya pengetahuan akan penggunaan bahasa Indonesia yang tepat, dan makin meredupnya penggunaan bahasa daerah adalah contoh permasalahan SDM kita. Melalui Kartu Mandalika, anak-anak dan remaja dapat berkolaborasi untuk menjaga keutuhan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan sekaligus melestarikan bahasa daerah.
Kartu Mandalika disebarluaskan ke beberapa sekolah, komunitas literasi, dan kafe di Nusa Tenggara Barat, yaitu SMAN 1, 2, 3, 5, dan 7 Kota Mataram, Komunitas Sape Lambu, Komunitas Sarangge Baca Bima, Komunitas Tapak Seribu, dan Kafe Akala. Pendekatan dengan kartu ini mampu mengurangi kecanduan anak muda terhadap penggunaan gawai yang berlebihan dan meningkatkan intensitas komunikasi anak-anak dan remaja di dunia nyata. Program sosialisasi yang dilakukan di beberapa sekolah dan komunitas juga turut melakukan penilaian atau tes kebahasaan melalui tes awal dan tes akhir serta menunjukan pengaruh positif Kartu Mandalika dalam menyosialisasikan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Siswa dan peserta tes menunjukan peningkatan pemahaman dan interaksi sosial secara cukup signifikan sesuai dengan yang diharapkan.
Tantangan dan Harapan
Masih banyaknya wilayah di Indonesia, khususnya di Nusa Tenggara Barat, yang tidak didukung oleh akses terhadap internet dan teknologi memadai tidak akan menjadi halangan terhadap pengaplikasian program Kartu Mandalika. Kehadiran Kartu Mandalika merupakan contoh aktualisasi kreativitas pemuda untuk menghadirkan media pembelajaran dalam rangka meningkatkan literasi masyarakat dengan cara yang menyenangkan dan menghibur. Melalui kemampuan literasi yang baik, anak-anak dan pemuda akan berkesempatan memperoleh informasi yang bermanfaat dan berguna sehingga mendapatkan pengetahuan baru yang dapat digunakan untuk meningkatkan taraf hidupnya.
Jika kita semua memiliki kemampuan dan wawasan literasi yang tinggi, kita tidak akan mudah dikacaukan dengan propaganda dan ancaman eksternal dari pengaruh globalisasi. Hal tersebut senada dengan kalimat mendunia yang pernah diutarakan oleh John F. Kennedy, “Jangan tanyakan apa yang bisa negaramu berikan untukmu, tapi tanyakanlah apa yang bisa kamu berikan untuk negaramu.” Pemuda memiliki keunikan dan karakteristiknya masing-masing dalam mengatasi permasalahan dan menjadi agen perubahan bagi bangsanya, khususnya bagi literasi Indonesia dalam memerangi sumber daya manusia yang rendah. Pada akhirnya, bukan hanya pemahaman kebahasaan atau literasi dan kecintaan terhadap bahasa Indonesia yang meningkat, melainkan juga pada pada peningkatan kualitas sumber daya manusia, baik dilihat dari sudut pandang ekonomi maupun sosial yang bermuara pada kemajuan bangsa Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA
Badan Pusat Statistik. (2022). Berita Resmi Statistik Tahun 2022. 62, 1--8.
Balitbang. 2019. Indeks Aktivitas Literasi Membaca 34 Provinsi. Jakarta: Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Balitbang.
Dariono, R. F. (2021). Strategi Mahasiswa Dalam Menyelesaikan Masalah Literasi Di Daerah 3T. Jurnal AKRAB, 12(1), 42--49. https://doi.org/10.51495/jurnalakrab.v12i1.363
Hastini, L. Y., Fahmi, R., & Lukito, H. (2020). Apakah Pembelajaran Menggunakan Teknologi dapat Meningkatkan Literasi Manusia pada Generasi Z di Indonesia? Jurnal Manajemen Informatika (JAMIKA), 10(1), 12--28. https://doi.org/10.34010/jamika.v10i1.2678
Kusmiarti, R., & Hamzah, S. (2019). Literasi dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia di Era Industri 4.0. Prosiding Seminar Nasional Bulan Bahasa (Semiba), 1(1), 211--222. https://ejournal.unib.ac.id/index.php/semiba
Rosmana, P. S., Iskandar, S., Fadilah, N., Azhar, N., Oktavini, D., & Munte, A. C. (2022). Upaya Pemerataan Pendidikan Berkelanjutan Di Daerah 3t. Attadib: Journal of Elementary Education, 6(2), 405--418.
Suswandari, M. (2018). Membangun Budaya Literasi Bagi Suplemen Pendidikan Di Indonesia. Jurnal Dikdas Bantara, 1(1), 20--32. https://doi.org/10.32585/jdb.v1i1.105
Yetri, Iqbal, A. M., & Eni, A. (2019). Literasi Keberagamaan Masyarakat Daerah 3T Di Kabupaten Pesisir Barat Serta Relevansinya Dengan Sikap Toleransi Terhadap Penganut Agama Minoritas. Jurnal Studi Lintas Agama, 14(2), 197--210. http://ejournal.radenintan.ac.id/index.php/alAdyan
Kemendikbudristek. 2022. Kemendikbudristek Jaga Semangat Literasi Baca Lewat Pendampingan Fasilitator Daerah 3T. Dikutip pada tanggal 5 September 2023 melalui laman: https://www.kemdikbud.go.id/main/blog/2022/12/kemendikbudristek-jaga-semangat-literasi-baca-lewat-pendampingan-fasilitator-daerah-3t