Kuasa Dialek Jakarta

Mengapa banyak penulis menggunakan dialek Jakarta, padahal berlatar sosio-geografis sebagai orang luar Jakarta? Pertanyaan itulah pernah coba dijawab Pamusuk Eneste dalam artikel berujudul Dialek Jakarta yang terbit di harian Kompas (20/12/22). Ada dua simpulan yang ditawarkan penulis dalam esai tersebut. Pertama, para penulis (kemungkinan) yang ditelitinya bereksperimen dengan dialek Jakarta agar ada variasi bahasa dalam tulisan mereka. Kedua, Jakarta adalah ibu kota negara, dialek Jakarta lebih dominan dan lebih berwibawa daripada dialek daerah lain. Kedua simpulan itu membuat saya kecewa. Saya mengharapkan ada jawaban yang memuaskan dan menambah wawasan. Selain itu, simpulan masih berada pada tahapan kemungkinan seperti pada simpulan pertama, simpulan kedua malah sekadar mencomot pendapat seorang ahli bahasa yang diambil dari sebuah kamus, bukan dari hasil penelitian terbaru. 

Sebagai seorang pengajar di perguruan tinggi, seharusnya penulis lebih berani menarik simpulan dan bukan sekadar mengambil pendapat ahli, apalagi pendapat dari ahli yang sudah tidak lagi melakukan kerja penelitian. Jika seperti itu, perkembangan ilmu pengetahuan akan stagnan; dan itu akan membuahkan kemacetan pikiran. Ini berbahaya. Makin berbahaya saja karena simpulan itu cenderung diskriminatif dan berpotensi membuat pembaca tersesat. Apakah benar ada hierarki dalam dialek-dialek seperti yang dinyatakan Kridalaksana dan diamini Eneste? Apakah benar karena Jakarta adalah ibu kota sehingga ia lebih dominan dan lebih berwibawa dari daerah lain? 

Saya mengulang-ulang membaca simpulan itu dan yang saya dapati hanya perasaan kesal. Saya menolak jawaban yang menyederhanakan masalah itu. Ada simpulan yang lebih masuk akal dan lebih dapat dipertanggungjawabkan. Setelah membaca esai itu dan melihat data yang ditawarkan penulis, saya menemukan dua kata kunci yang bisa menjawab alasan banyaknya diksi Jakarta menyusup dalam karya tulis. Dua kata kunci itu adalah efisiensi dan eksposur.

Dengan memilih menggunakan diksi Jakarta, para penulis yang dijadikan sumber data dalam artikel itu bisa lebih efisien dalam menulis. Satu kata dalam kata serapan yang digunakan penulis bisa menggantikan frasa atau beberapa kata dalam bahasa Indonesia, misalnya Eko Darmoko dalam cerpen Malaikat Pencabut Nyawa (Kompas, 17/1/2021). Kenapa Eko memilih kata nyelonong yang merupakan dialek Jakarta alih-alih memakai diksi Bahasa Indonesia standar? Jika kita benar-benar teliti melihat data, kita bisa menarik simpulan dengan lebih baik.  Satu kata (nyelonong) yang digunakan Eko mampu mewakili beberapa kata dalam bahasa Indonesia standar. 

Jika Eko memakai bahasa Indonesia standar, dia harus menggunakan frasa “dengan tiba-tiba masuk” atau “masuk tanpa memberi salam” karena kedua frasa itu padanan kata nyelonong dalam bahasa Indonesia. Jika penulis memaksa menggunakan diksi bahasa Indonesia standar, selain pemilihan diksi itu bisa membuat kalimatnya menjadi tidak mengalir, pemilihan diksi itu juga akan memaksa penulis menggunakan lebih banyak kata.

Dengan ruang koran yang semakin sempit, di mana ada pembatasan kata atau karakter, menggunakan kata serapan yang bisa menggantikan beberapa kata dalam bahasa Indonesia adalah keputusan cerdas yang bisa dilakukan penulis. Namun, tentu saja itu dengan catatan bahwa penyisipan diksi yang dilakukan penulis, dilakukan secara sadar. Jika penyisipan itu dilakukan bukan atas dasar kesadaran penulis, jawaban kedua akan lebih tepat: eksposur!

Telah begitu lama kita yang tinggal di luar Jakarta mendapat eksposur dialek Jakarta lewat apa yang kita konsumsi sehari-hari di televisi (sinetron, film, reality show, talk show, dsb.), radio (dialog interaktif, siaran radio, dsb.), produk seni (lagu, karya sastra, dsb.), atau new media seperti Youtube. Dengan eksposur yang demikian kuat dan masif, kita yang di luar Jakarta—bahkan yang berada di luar Jawa—mau tidak mau, tanpa sadar, menyerap beberapa diksi Jakarta. 

Dengan masifnya eksposur itu, secara tidak langsung proses pemerolehan bahasa yang bekerja secara tidak sadar (persis seperti yang terjadi pada saat kita pertama kali memperoleh bahasa ibu kita, yaitu dengan terekspos pada bahasa yang digunakan orang-orang dewasa di lingkungan kita) menyerap bahasa dan menggunakannya untuk kepentingan praktis. 

Lantas karena sesuatu yang mengekspos kita itu begitu kuat dan begitu masif, lama-lama timbul pikiran lugu bahwa dialek itu lebih berwibawa daripada dialek kita sendiri, persis seperti yang dipikirkan si ahli linguistik dan dikutip si penulis. Hanya anak-anak lugu yang berpikir bahwa suatu bahasa atau dialek bisa lebih berwibawa daripada bahasa atau dialek lainnya. 

Lihat saja anak-anak di daerah yang ketika masih bocah dengan lugunya meniru dialek Jakarta karena dialek itu muncul di televisi, menampilkan orang-orang yang tampak keren, naik motor gede, berpakaian bagus, dan tinggal di rumah gedong. Begitu si anak lugu beranjak dewasa, si anak lugu akan meninggalkan gaya bicara lu-gue itu setelah dihina oleh teman-teman sebayanya: memangnya sejak kapan Monas pindah ke Lombok? 

Kira-kira itulah yang terjadi. Jadi, sebenarnya bukan karena wibawanya suatu dialek bisa dipakai oleh pengguna bahasa lain, melainkan dialek itu diberi ruang dan kesempatan untuk mengeksposur penutur bahasa lain. Dapat dikatakan bahwa dialek Jakarta secara politis jauh lebih berkuasa. Namun, kita tidak harus tunduk kepadanya, bukan? (*)