Cuplikan Perihal Bima NTB

Sebagai perantau pasti pernah disuguhi "Bima itu NTT, ya?" dengan banyak cinta dan penuh ramah kita menjawab "Bukan, Bima itu NTB, ujung timur pulau Sumbawa". Sebenarnya apa yang menjadikan "Bima" jauh dari pengetahuan orang-orang, apakah ia kurang tereksplorasi atau sering terjadi kesalahan penyebutan tata letak wilayah? Sebentar, jangan terlalu terburu-buru memutuskan berbagai kemungkinan, baiknya kita cerna dulu. Dilihat dari problematika yang terjadi, dua-duanya berpotensi.

Problematika yang pertama “kurang tereksplorasi'tereksplorasi”, terkadang hal ini terbantah dengan realita, "Kata siapa Bima tidak tereksplorasi, nyatanya banyak orang-orang yang mengenal Bima, tokoh-tokoh publik yang menempati jabatan tertinggi di negeri ini juga ada yang dari Bima, bukan hanya itu pakaian adatnya pun bertaraf internasional." Tunggu dulu, kita jangan gegabah menafsirkan sebuah kata. Kurang dan tidak adalah dua kata yang memiliki makna yang  berbeda. Kata kurang adalah sebuah indikasi bahwa sebagian sudah tereksplorasi dan sebagiannya juga belum sehingga terlepas sebagian besar dan kecil yang belum, tugas kita sebagai generasi untuk mengisi. 

Lalu, dengan cara apa kita mengisi hal-hal yang belum terpenuhi? Sekarang, teknologi sudah canggih. Cukup memanfaatkan anugerah yang tersedia dengan melihat banyak hal unik yang bisa dijadikan ikon melalui konten kreator, misalnya penyajian tempat wisata yang dibalut dengan budaya Bima seperti adat istiadat, pakaian, makanan, seni, tempat-tempat bersejarah dan sejenisnya. Keunikan budaya Bima adalah potensi untuk melakukan promosi tempat wisata, memikat daya tarik pengunjung karena budaya adalah karakter khas yang tidak dimiliki oleh daerah lain. Perpaduan wisata dan budaya memberikan dua kesan: keindahan alam untuk memikat kecanduan sang penjelajah dan budaya untuk memikat daya tariknya. Jika hal tersebut diberi dukungan dan keberpihakan yang maksimal dari berbagai pihak, bukan tidak mungkin, Bima menambah julukan Kota Wisata dan Budaya.

Ketika hal demikian berhasil diwujudkan oleh mereka yang kreatif dan inovatif, di sini dengan penuh harapan dan segenap cinta, penulis ingin berpesan kepada siapapun yang memiliki hak atas tanah Bima, lihatlah mereka, hargailah usahanya, tak perlu rupiah tapi cukup berterima kasih. Tidak ada yang lebih membahagiakan bagi seorang kreator selain apresiasi dan kejujuran dari hasil karyanya. Sudah seharusnya kita saling menguatkan, mencintai, dan melengkapi untuk melahirkan  kemajuan karena sejarah telah membuktikan kekuatan persatuan mampu melahirkan peradaban, dan kita tak perlu lagi mengulang hal-hal yang membuat kita terbelenggu dan kehilangan potensi hanya karena mementingkan ego kelompok atau kepentingan pribadi. Tidak ada yang lebih indah selain cinta yang mengikat di antara kita.

Problematika yang kedua adalah kesalahan penyebutan tata letak wilayah. Sebagai perantau sekaligus kaum akademik, jika ditanya oleh teman, dosen atau masyarakat "Asli mana?" Cukup dijawab "Bima NTB", hal sederhana tetapi dampaknya besar untuk meminimalisir kekeliruan terkait kesalahan penyebutan tata letak wilayah. Belum lagi, jika di kampus tersebut mahasiswa Bima menorehkan prestasi, adalah peluang besar yang dapat dimanfaatkan untuk menggencarkan bahwa letak wilayah Bima itu di NTB.

Banyak sisi yang harus kita perhatikan, bahkan semuanya diciptakan secara berpasangan. Bukan hanya aku dan kamu, positif dan negatif juga adalah pasangan yang saling bergesekan guna menjadikan kehidupan kita lebih seru dan berwarna. Pun serupa dengan fenomena, ada generasi kreatif dan inovatif yang membuat kita bahagia, ada sebagian generasi yang sikapnya membuat kita mengernyitkan dahi. Ibaratnya, mereka baru lahir kemarin sore, ketika melihat hal-hal yang dirasa kurang berkenan atau infrastruktur yang kurang terurus di pagi hari, dengan mudah berstigma "pemerintah sekarang kebanyakan tidur, wati tantu uru na dana ro rasa" sebelum tau hakikat yang sesungguhnya, melihat sedalam-dalamnya, dan mencari tau sampai ke akar-akarnya. 

Tidak ada yang melarang kita untuk mengkritik, tetapi pahami kondisi dan perhatikan adab. Jangan menjadi generasi yang pandai bermain api di belakang, tetapi dihadapan diam membisu dan tertunduk. Apakah itu jiwa pejuang sejati? Mudah ciut. Belajarlah lebih giat lagi, bahu membahu. Jangan menambah beban dengan sikap dungu. Kritikus sejati, bukan hanya lihai menarasikan negeri ini korupsi, tetapi juga mampu menawarkan solusi.

Sebagai generasi yang memiliki peran untuk melanjutkan perjuangan dan mengisi kekosongan harus paham tupoksi. Bukan melangkahi. Ibarat ingin melompat ke tangga yang paling atas untuk mencapai tujuan, sehingga besar potensi gagalnya.  Berbeda ketika harus memulainya dari anak tangga yang paling bawah, memang kecil dan alot, tetapi potensi berhasilnya besar. Tidak perlu membebani diri untuk melakukan hal-hal besar, cukup lakukan hal positif sekecil apapun itu. Jangan meremehkan hal-hal kecil. Bahkan, seorang ulama dikisahkan masuk surga hanya karena keikhlasan dan ketulusannya terhadap lalat yang hinggap di tinta penannya. Beliau adalah Imam Al-Ghazali, pada saat lalat hinggap di tinta penanya, beliau membiarkannya hingga lalat tersebut pergi. Hal tersebut adalah tindakan kecil, tetapi yang membuatnya berharga adalah menghargai sesuatu di sekitar, sekecil apapun itu. 

Tetap berbuat baik, karena kita tidak akan tau kebaikan mana yang akan membawa pada keberkahan, don't think be the best, but think to do the best karena pikiran terbaik hanya akan jadi ilusi bila tidak dilakukan, senada dengan ungkapan J.S. Khairen "Ide brilian dalam pikiran hanya akan jadi sampah jika dibandingkan dengan ide biasa saja tetapi berhasil diwujudkan". Semoga kita menjadi masyarakat Bima yang nggahi rawi pahu – maja labo dahu, meskipun belum diizinkan berkontribusi untuk negeri, setidaknya kita jadi leluasa memikirkan beban diri sendiri.

"Bagian Bima yang paling tengah,

terdapat luka tersembunyi yang harus kita obati".