Puisi-Puisi Karya Hazuma Najihah

 

1. HILANG DITELAN ILALANG

 

 

Lampa kaki menginjak bumi

Sedik sabana hendak menjelajahi

Pekayunan harapan enggan menemani

Duke lara mengguncang hati.

 

Bersama bayang semu

Terpecah gundah gulana sendu

Hamburkan rasa yang tak menentu

Gejolak jiwa tenangkan sayu.

 

Biarkan asmaraloka menjelajah kesana

Tak perlu hiraukan kedatangannya

Tak lagi mengenal dama

Biar hangus terbawa anila.

 

Segar bugar nian terasa

Kedamaian sembuhkan lara

Berbalik arah putarkan rasa

 tak bersingkuh dibawah ajudan asmara.

 

Bahkan aku tak mampu mengungkap rasa

Bahasa yang kian menepis pelipis

Mengikis habis ruang waktu

Memilih sendiri tak lagi ratapi pilu.

 

Demi keselamatan diri

Serta merta menjaga hati

Tak ku biarkan kisah kasih turut menghantui

Menjelma seakan renjana bertepi.

 

Tidak, aku tidak akan membiarkan itu terjadi

Semua yang pernah terlewati

Dari garis katulistiwa hingga ujung sana

Biar hilang ditelan ilalang.





 

2. TERHEMPAS

 

 

Kadera kekuasaan perebutkan tahta

Geruh menimpa segenap durja

Seonggok monopoli kian merajalela

Semarak aristrokasi di tengah dunia anitya.

 

Bukanlah sang mandalika

Hanya pribumi yang tak punya apa-apa

Kini trenyuh nian terdayuh

Hanyut terseret arus mala yang membabi buta.

 

Bibir terkunci nian membisu

Jatuh terkapar dicerna pilu

Tergeletak dibawah birai biru

Terkapar murung menjelma sepai.

 

Gading tak lagi menyuding

Melinggih termenung tak punya payung

Tak ada tempat bernaung

Hanya ada sayung.

 

Selaput mata nian rudita

Bergelik sendu seriuh anca

Andam karam tertindas runyam

Jongkok terpojok ratapi dunia.

 

Bak sengsara lara dirasa

Wajah bahagia hanyalah topeng belaka

Pada aksara bernyawa 

Tempat naungan bercerita tertulis kisahnya

Menghinggapi jejak hidupnya.



 

3. MENGHUJAM PAHIT

 

 

Decur air mancur mengiringi

Mengelabuhi awan yang kian bersembunyi

Merayu bagaskara tuk meredupkan sinarnya kembali

Menyapa rinai tuk datang mengguyur seisi bumi.

 

Gemericik air suguhkan kedamaian

Hempaskan dahaga membiarkan gata menjulang ke angkasa.

 

Dibawah atap

Meratapi yang tak bisa menetap.

 

Membisikkan pada angin, untuk anganku segera ingin

Inginku hempaskan rasa setenang angkasa

Berlari sekencang anila

Terbang leluasa menuju nabastala.

 

Lepaskan penat jingga

Bersama kabut menghujam pahit

Bermain bersama sang kegelapan

Merengkuh asa meraih cita.

 

Lupakan palinggih

yang tak punya welas  asih

lumbar mengumbar rasa yang hambar

lati yang telah mati tak bisa lagi meresapi.

 

4. RENJANA MEMORI DAHULU

Sang bagaskara muncul dari ufuk sana

Terpancar cahaya dari nabastala

Laksana menerangi seluruh dunia

Tampak elok terbitnya ina

Nian senada seindah mega

Bak semilirnya aina

Menembus erat dalam daksa.

 

Mentari pagi menampakkan diri

Pesona sang mega menyelimuti

Pagiku terbalut senyuman indah

Tak sedikitpun terasa gundah.

 

Waktu terus berjalan 

Lewati kenangan tak terlupakan

mengenang  masa balita, bergurau bersama ayah ibu tercinta

Dikala shyam sunyi penuh canda

Terselip dongeng cerita terbalut nada.

 

Besermin mengingat kisah kasih terasih

Menyapa rindu yang tersisih

Laksana payung alung

Melindungi diri dari ganasnya singa yang meraung.

 

Renjana memori dahulu

Nian nestapa tak bersatu

Perpisahan rasakan pilu

Terngiang-ngiang menyayat kalbu.










5. SEKILAS KENANGAN

 

Gemericik air jatuh ke peluk bumi

Bak embun menetes membasahi pipi

Tetesan tirta menghiasi alam ini

Pohon sungai hampa nan sunyi.

 

Baskara tak memancarkan sinarnya

Bersembunyi dibalik nabastala

Bak nian nestapa

Laksana tangisan cerminkan luka.

 

Sang bianglala meringik angkasa

Bergelik anila menembus daksa

Aroma petrikor tumbuhkan genangan

Bergeming bisu seharu kenangan.

 

Peragayan diguyur hujan

Tetesan adal membasahi sandal

Ladang gawah terasa basah

Kabut menutupi batin yang entah.

 

Payoda berkelik manja

Kembali kelabu  mendominasi cakrawala

Rinai guyurkan embun dedaunan

Sadarkan daku dari lelamunan.

 

Dama senggangkan rasa di dada

Kini dayita tak lagi disisinya

Renjana tak mampu menahan sosoknya

Sebab gata pupuskan harapan.

 

Curau gemuruh kilat menggelegar

Gundah gulana kian tersadar

Atas cinta yang telah pudar

Tak lagi kian menjulang besar

Hanya tersisa burung di sangkar.