Puisi-Puisi Ilham Nuryadi Akbar
1. Bangkai Tubuhku
Di tengah laut harapan paling panjang
kayuh perahu kau patahkan
ombak-ombak tertawa
langit terkinja-kinja
kepadaku yang dianggap pandir
seakan tak mahir bersulam cinta.
Sementara itu
kau tampak sigap menunggu perahu lain,
bernahkoda lelaki mapan dan tampan
sebagai alasan, kau tak ingin karam.
Sedang aku
kau biarkan melanglang ke tempat yang entah
terdampar, atau membusuk di celah-celah karang
pakan segala hewan berkidung lapar.
Di kemudian hari, hiduplah berkecukupan
sebab kau pasti puas
menjala ikan
yang hidup
dari bangkai tubuhku.
Bekasi, 18 Agustus 2023
2. Kau adalah Labirin
Tatkala rinai merebah di atas rumahku
tanganku berdalih mengandung doa
meminta kasur di sepertiga malam
melahirkan anak-anak aroma amin.
Setelah sang surya menyapa mataku dari ruas-ruas jendala
kakiku menggumbuk untuk gegas ke tepian sumur
mencuci dendam paling bernoda
dijemur pada tiang-tiang karma.
Bila senja pulang ke kandang
seluruhku pergi ke persimpangan mimpi
menyelami beberapa ruang yang paling aku ingat
yang dahulu pernah kau pakai
sebagai tempat untuk bersudah.
Kau adalah labirin dalam hari-hari,
hingga aku selalu tersesat
menemukan hari esok.
Bekasi, 18 Agustus 2023.
3. Sebelum Masehi
Sebelum umurnya merebah di pusara
Heraclitus mengutuk lelaki yang hampir mampus
segera gantung diri, tenggelam di tanah
lalu menanggal peradaban pada fajar baru.
Heraclitus tak perlu guru, ia belajar kerumitan dari dirinya sendiri
tak mempercayai penyair yang gagah di tengah masyarakat
atau jelata yang gigih di antara konglomerat.
Setelah ratusan fragmen ia lahirkan dengan tajam
ia pun mati
tertikam diksinya sendiri.
Bekasi, 18 Agustus 2023.
4. Tidak Ada yang Tetap
Siapa yang sanggup memahami
bahwa manusia tidak pernah singgah pada sungai yang sama
sebab sungai selalu mengalir
mencari bebatuan yang pantas dihadiahi riak-riak.
Siapa yang ingin sepakat
bahwa pertentangan adalah prinsip yang adil
sebagaimana malam yang menerjemahkan datangnya siang
kehidupan yang menasehati hakikat kematian
kenyang yang lahir setelah berkidung lapar.
Peradaban merawi
bahwa dalam perubahan
manusia menemukan tujuan.
Bekasi, 18 Agustus 2023.
5. Menyulam Kafan
Di atas kursi berkaki pincang
seorang perempuan tua memeluk kesunyian
menghidu bunga-bunga seulanga yang gugur
nun; epitaf di tanah merah.
Setelah hari mencukupi hitungan sewindu
perempuan itu memasung rindu di antara celah-celah gerimis
agar semilir angin kembali merawi ketiadaan
hingga ia dapat gegas, menyulam kain kafan
sebab tubuhnya terlampau ingin
menjamu pertemuan yang paling ia pinta
bersama kekasih
di kebun surga
Bekasi, 18 Agustus 2023.