Cerita Pendek: Pengarang dan Jejak Setan

Alkisah di suatu tempat yang belum sempat disebutkan Pengarang, Tokek, tokoh utama dalam cerita yang sedang dibikinnya itu tampak sedang termenung. Ia menyesali perbuatannya yang sembrono itu. Si tokoh utama telah melakukan pembunuhan yang kedua kalinya, setelah membunuh istrinya dulu. Kali ini, ia membunuh Mahoni, kekasihnya. Si Pengarang cerita merasa geram sebab dirasa cerita yang dibikinnya itu belum pas, dianggapnya picisan, klise, enteng, atau mungkin bakal mudah ditebak pembaca. Kau sendiri.

Kau tak perlu tahu Pengarang itu seperti apa, sedang di mana, dengan siapa, atau apa-apa saja tentangnya karena Pengarang tak ada hubunganya dengan cerita. Meskipun kita sama-sama mengetahui bahwa realitas yang sebenarnya ada di genggaman Pengarang, bukan pada cerita atau tokoh-tokoh yang ada di dalamnya. Tetap saja itu tidak penting. Sebaiknya, kau tak perlu tahu kejadian menyebalkan macam apa yang menimpa Pengarang: Ia terbangun karena bau tahi cecak di kepalanya, tahi cecak itu melumeri rambutnya. Bukan tanpa sebab, melainkan semalam juga pada malam-malam sebelumnya Pengarang suka iseng menjahili cecak-cecak yang menempel atau merayap-rayap di dinding rumahnya itu. Pengarang menyentili mereka dengan karet gelang, melemparinya dengan buku, sepatu, kaus kaki, bantal, bungkus rokok, atau apa saja yang ada di depan matanya. Mungkin saja cecak-cecak itu kesal, lalu cecak membalas dendam dengan memberaki kepala Pengarang. 

Saat ini, Pengarang sedang berada dalam kamarnya yang remang, sempit, dan apek itu. Ia  duduk di atas kursi, menjulurkan kepalanya dekat-dekat dengan mesin ketiknya. Ia memelototi tuts mesin ketiknya. Otak Pengarang mandek, ia kesulitan untuk melanjutkan ceritanya. Meskipun ia menggarap sambil mendengarkan instrumen musik klasik, yang konon dapat membikin pendengarnya lebih santai, yang kemudian dapat mengantarkan pendengar menemukan ide-ide. Namun, kenyataannya, ide-ide tak kunjung muncul. Pengarang masih saja menganggurkan mesin ketiknya itu. Sesekali Pengarang melihat cecak-cecak di diding kamarnya. Cecak itu menggerak-gerakan ekornya sambil bercicit-cicit. Pengarang makin geram.

Pengarang mengambil ancang-ancang. Ia membesarkan volume instrumen musik klasiknya itu, mengambil sebatang rokok, membakarnya, mengisapnya, mengembuskan asapnya, dan menyeruput kopinya.

Ia membaca kembali tulisannya. Tokek, tokoh utama barusan telah digambarkan Pengarang sebagai seorang duda pecinta kopi dan berkerja sebagai penagih utang  rentenir kaya kampung itu. Tokek memiliki wajah beringas, bertubuh kekar, dan bertato dengan macam-macam gambar tubuhnya. Membuat tokoh ini makin tampak sangar, pas dengan pekerjaanya yang sekarang. Dulu, sebelum Tokek menduda, Tokek pernah jatuh cinta dan menikah dengan wanita yang pandai membikin kopi, tapi harus berakhir lantaran kopi. Dikarenakan suatu hari kopi yang dibikinkan istrinya itu tak seenak bisanya, rasanya asin-asin asam. Tokek yang mendapati rasa kopi itu tak seenak biasanya menjadi murka, kemudian membunuh istrinya dengan sadis. Tokek pun dibui. Setelah belasan tahun mendekam di penjara, ia bebas lalu bekerja sebagai penagih utang. Suatu hari ia diutus untuk menagih utang ke warung milik Mahoni, seorang janda beranak dua yang berjualan nasi campur dan aneka minuman di pinggiran pasar. Di warung itu, Tokek dibikinkan kopi oleh Mahoni. Setelah menyeruput kopi itu, Tokek kaget lantaran rasa kopi yang dibikinya itu persis seperti kopi buatan istrinya dulu. Tokek pun hampir setiap hari ke warung itu untuk menagih utang kepada Mahoni, meskipun itu hanya akal-akalannya saja. Nyatanya Tokek sendiri telah melunasi utang Mahoni. Tokek dan Mahoni makin dekat, cinta dalam diri mereka tumbuh subur. Namun, cinta itu tak bertahan lama lantaran kopi yang dibikin Mahoni tak seenak kopi sebelumnya. Hingga suatu hari, Tokek membunuh Mahoni. Sebenarnya pembunuhan itu terjadi lantaran Mahoni telah berselingkuh. Tokek tahu dari rasa kopi yang menjadi asin-asin asam karena dulu istrinya berselingkuh dan rasa kopinya berubah menjadi asin-asin asam. 

Begitulah kira-kira kisah yang akan disajikan Pengarang.

Seperti dugaan Pengarang. Kau juga. Mungkin cerita ini biasa-bisa saja, belum pas, picisan, klise, enteng, dan mungkin bakal mudah ditebak, bukan? Oleh karena itu, Pengarang berencana membuat kejutan di akhir kisahnya.

Masih saja tuts mesin ketik itu dianggurkannya. Pengarang kembali menengok ke arah dinding kamarnya. Cecak-cecak itu masih saja mondar-mandir, menggerak-gerakan ekornya, dan bercicit-cicit. Perlahan mata Pengarang terbuka lebar, ia memelototi cecak-cecak itu.

“Cecak! Iya, cecak!” ucapnya kegirangan.

“Iya. Bagaimana kalau sebenarnya rasa kopi berubah karena cecak?” lanjutnya.

“Bukan karena perselingkuhan? Karena cecak telah memberaki kopi yang diminum si Tokek? Iya, iya, betul.”

Cecak kembali bercicit-cicit, sekarang cicitannya lebih keras sambil menggerak-gerakaan ekornya.

“Setan!” ucapnya.  Lalu Pengarang mengambil bungkus rokok dan melemparkannya ke arah cecak-cecak itu.

Pengarang tampak bersemangat menekan-nekan tuts mesin ketiknya. Tanpa disadarinya, seekor cecak merayap ke arahnya. Cecak itu mendekati gelas kopi Pengarang dan cecak masuk ke dalam gelas kopi itu. 

“Akhirnya, selesai juga,” ucap Pengarang. Ia menghelai napas panjang setelah menyelesaikan ceritanya itu. Kemudian Pengarang mengambil sebatang rokok, membakarnya, menghisapnya dalam, mengembuskan asapnya, lalu menyeruput kopi.

“SETAN!!!” teriak Pengarang.