Upacara Ngayu-Ayu: Budaya Leluhur yang Dijunjung Setinggi Gunung
Gunung Rinjani yang menempati posisi gunung tertinggi ketiga di Indonesia ini berdiri di atas tanah Pulau Lombok yang indah. Gunung yang dinobatkan sebagai salah satu gunung dengan pemandangan terindah di dunia ini menjulang dengan gagahnya di tengah-tengah Gumi Sasak. Tegak dan tinggi, itulah makna yang dikaitkan kepada gunung yang dinamai Rinjani ini. Di bawah kakinya, kehidupan masyarakat suku Sasak berjalan harmonis. Masyarakat Desa Sembalun masih melestarikan kebudayaan asli suku Sasak. Salah satu kebudayaan yang sampai saat ini masih rutin dilaksanakan ialah upacara adat ngayu-ayu di Desa Sembalun Bumbung.
Ngayu-ayu merupakan kebudayaan asli masyarakat Sasak yang rutin diadakan setiap tiga tahun sekali dan sudah berlangsung selama lebih dari 600 tahun. Upacara ini biasanya berlangsung selama 2--4 hari. Penentuan hari untuk pelaksanaannya dilakukan dengan menggabungkan perhitungan kalender nasional dan kalender arab. Upacara ngayu-ayu terakhir kali dilaksanakan pada tahun lalu tepatnya pada tanggal 13--14 Juli 2022.
Upacara ini merupakan bentuk syukur warga Sembalun kepada Tuhan Yang Maha Esa atas kelimpahan hasil bumi dan tanah yang subur. Salah satunya adalah bentuk syukur atas tumbuhnya padi merah (pare abang), yaitu jenis padi yang hanya bisa tumbuh di daerah-daerah tertentu saja. Selain itu, pada pelaksanaan upacara ini, masyarakat Desa Sembalun juga berdoa dan meminta perlindungan kepada Tuhan Yang Maha Esa supaya dijauhkan dari segala bala bencana dan terhindar dari berbagai macam wabah penyakit.
Pelaksanaan upacara ngayu-ayu dilakukan di sebuah lapangan luas di wilayah Sembalun Bumbung. Upacara ini dipimpin oleh ulama dan pemangku adat setempat. Selain itu, turut hadir sejumlah tamu undangan, raja, sultan, dan ratu dari beberapa daerah di dalam maupun di luar negeri. Selain peserta upacara, alat dan bahan yang digunakan dalam upacara ini juga merupakan komponen yang sangat penting dan tidak sembarangan, sehingga selalu dipersiapkan dengan rapi. Hal-hal yang harus dipersiapkan dalam upacara ngayu-ayu adalah sebagai berikut.
- Kerbau hitam dan mulus tanpa cacat fisik sedikit pun dan belum pernah kawin. Kerbau tersebut nantinya akan disembelih. Penyembelihannya pun hanya boleh dilakukan oleh laki-laki saja. Setelah kepala kerbau terputus dari badannya dan dipancung-pancung sebanyak 3 kali, kepala kerbau tersebut ditanam di ujung desa menghadap barat daya sebagai simbol pengaman Desa Sembalun. Sisa dagingnya kemudian diolah tanpa minyak dan dimakan bersama-sama.
- Ayam betina hitam dan ayam jantan putih yang mulus tanpa caacat fisik. Ayam-ayam tersebut nantinya akan dipanggang untuk kepentingan upacara.
- Beras ketan yang digoreng.
- Beras merah yang diolah menjadi dodol dan jajanan lainnya. Biasanya dibentuk menyerupai alat bertani yang memperjelas alasan mengapa upacara ini diadakan. Beras merah ini hanya boleh dimasak oleh remaja perempuan yang belum menstruasi atau wanita yang sudah mati haid.
- Ketupat sejumlah sekitar 330 buah.
- Daun sirih, buah pinang, bunga kemenyan, gula, kelapa, dan lainnya merupakan pelengkap yang harus ada di tiap tahapan upacara.
Selain bahan-bahan tersebut, beberapa alat yang digunakan adalah (1) ceret, (2) kendi, (3) kain tenun khas Sembalun, (4) dulang atau yang biasa disebut dengan nampan, nantinya diisi dengan saijian makanan untuk persembahan, (5) penginang (tempat sirih pinang), (6) tikar, dan (7) payung.
Pada pelaksanaan upacara ngayu-ayu pada tahun 2019, gendang beleq merupakan alat musik yang dimainkan secara berkelompok, juga digunakan sebagai pengiring acara. Para tamu yang diantaranya raja, sultan, dan ratu dari dalam maupun luar negeri, disambut dengan dulang yang diisi banyak jajanan dan peralatan upacara. Ritual ini berisikan pengangkutan 12 mata air menggunakan kendi dari berugak Desa Sembalun Bumbung menuju berugak Reban Bande. Berikut urutan kegiatan upacara ngayu-ayu.
- Pada hari pertama, upacara ngayu-ayu diawali dengan Mebija Tawar (memberi air dari mata air Timba Bau kepada tanaman) ditambah dengan jeruk nipis lalu didoakan oleh pemangku adat.
- Pada hari kedua, persiapan untuk pengambilan air dari ke-12 mata air yang akan dilaksanakan pada hari ketiga dan keempat. Pada malam harinya, acara diisi dengan hiburan seperti tari tarian, qasidah, atau kesenian lainnya. Kesenian ini rutin ditampilkan setiap malam selama upacara ngayu-ayu berlangsung.
- Pada hari ketiga, sejak dari pagi masyarakat mulai mengambil air dari ke-12 mata air di sekitar Sembalun. Air tersebut diletakkan di sebuah kendi. Setelah terkumpul dengan diiringi tarian tombak, ke-12 air tersebut diberangkatkan menuju berugak Reban Bande (tempat masyarakat Sembalun Bumbung biasa bermusyawarah). Air tersebut kemudian diletakkan di tengah para penari tombak. Tarian Tombak ini biasa disebut dengan Tari Tandang Mendet. Tarian ini hanya ditampilkan sekali dalam tiga tahun, yakni setiap upacara Ngayu-ayu dilaksanakan. Para penari mengelilingi air-air tersebut sebanyak sembilan kali dengan iringan musik gendang beleq.
- Pada hati keempat, sejak pagi masyarakat sudah mempersiapkan segala sesuatu untuk keperluan ngaji makam. Pada siang harinya acara dilanjutkan dengan pemotongan kerbau. Kerbau tersebut disembelih dan kepalanya dipancung sebanyak 3 kali sebelum ditanam di ujung desa menghadap barat daya sebagai simbol perlindungan. Dagingnya dimasak tanpa menggunakan minyak untuk dimakan bersama. Bersamaan dengan olahan kerbau tersebut, ayam betina hitam, dan ayam jantan putih yang sudah dipanggang dibawa ke berugak Reban Bande. Persembahan lainnya dibagi ke beberapa bagian makam. Makam sebelah utara (2 teko air dan 2 penginang), makam sebelah selatan (1 teko air, 1 penginang, dan 2 dulang sajian), makam sebelah timur (2 teko air, 1 penginang, dan 2 dulang). Setelah itu dilanjutkan dengan makan bersama. Tahap selanjurnya ialah pembagian peserta upacara menjadi rombongan pembawa air (mengambil air di berugak Reban Bande lalu berlari menuju lapangan) dan rombongan pemendak (menyambut air yang di bawa rombongan pembawa air dan mengelilinginya sebanyak 9 kali). Upacara adat ngayu-ayu lalu dilanjutkan dengan penampilan atraksi kesenian dan dilanjutkan dengan membawa ke-12 air tersebut ke sungai. Sebelum air di buang ke sungai, sesajen harus dihaturkan di balai hulu sungai bersamaan dengan peserta upacara yang juga mempersembahkan sesajen di makam hulu sungai. Barulah ke-12 mata air dituang ke sungai dengan harapan air-air tersebut mengairi sawah-sawah milik masyarakat Sembalun dan memberikan kesuburan juga hasil panen yang melimpah.
- Tahap Upacara ngayu-ayu yang terakhir ialah Perang Topat. Peserta upacara dibagi menjadi dua kubu yang berseberangan dan dibatasi sungai. Mereka saling melempar topat kearah kubu di seberangnya.
Setelah upacara ngayu-ayu selesai terlaksana, selanjutnya seluruh masyarakat yang dikoordinasi oleh panitia secara bersama-sama membersihkan tempat terlaksananya acara. Biasanya kegiatan gotong-royong ini dilakukan sehari atau dua hari setelah upacara ngayu-ayu.
Upacara adat ngayu-ayu ini harus terus dilakukan agar seluruh masyarakat Pulau Lombok, khususnya masyarakat Sembalun tidak lupa dengan asal-usul kelimpahan alam yang dimiliki. Upacara ini adalah bentuk terimakasih kepada Tuhan Yang Maha Esa yang sudah memberikan seluruh kehidupan yang baik dan harmonis dengan alam.