Cerita Pendek: Balada Sandekala

Tepat sandekala1, jarum jam menunjuk angka 6. Azan Maghrib siap-siap berkumandang. Warga biasanya mengakhiri kegiatan perduniawian. Tak baik beraktivitas berat. Bahaya. Sebab, katanya sandekala adalah waktu saat keluarnya setan dan jin.  

Pada waktu itu, ada beberapa penduduk mulai mengarahkan kambing ke kandang, menabur pakan untuk peliharaan, dan ada Bapak yang sedang memandikan anak bungsu. Sandekala kala itu langit berselimut mendung, rintik mulai membasahi tanah kampung.

Aku baru selesai menyiram tubuh, merontokkan noda badan akibat beraktivitas seharian, sedangkan Inaq sedang mengepul dapur. Nenek yang telah renta hanya terpaku duduk di hadapan televisi. Ia sesekali tersenyum, kadang tertawa bila ada acara lawakan. Acara berita malah menjadi salah satu yang dibenci selain gosip artis ibukota. Amaq baru saja pulang dari sawah. Mukanya lusuh persis pakaian yang dikenakannya. Tanpa basa-basi, ia rebahkan punggung di serambi sembari mendengar denting hujan.

“Yah, mandi,” kata Inaq dari sumbu dapur.

Mendengar suara itu, Amaq mengernyitkan dahi, lalu perlahan membuka mata. Rupanya sedari tadi, ia mencuri waktu melepas penat. Tubuhnya bangkit dan meluncur ditelan kamar mandi.

Inaq masih asyik bermain dapur, bergelut dengan jelaga.

Guyuran hujan menderas menampik remang. Aku yang telah selesai bersolek, menuju serambi ingin menikmati tiap tetes air langit. Ada sebuah kursi lusuh di sana, tempat pinggul menumpang duduk. Sembari menggulir layar ponsel, bola mataku tak sengaja menangkap tiga bocah sedang bermain hujan. Si Azril dan dua anak lainnya dengan tubuh hanya bersempak. Terlihat mereka berguling-guling, kadang teriak ke arah langit. Bahkan ada yang bermain air menggunakan selangkangan.

Selang beberapa menit, dua warga berjalan berjajar memikul cangkul.

“Mau ke sawah, Pak?” sapaku teriak.

Aku menyapa sebab serambi tak begitu jauh dari jalan yang dilewati. Jelang sandekala, biasanya ramai sepanjang badan jalan bila tidak hujan. Warga sekitar memanfaatkannya untuk bercengkerama, tempat anak-anak kecil bergurau, bahkan ada warga yang menjajakan barang dagangan.

“Iya, Mas,” sahut salah satunya.

“Takut tanaman kebanjiran,” respons satunya lagi.

Aku hanya melempar senyum dari kejauhan. Nampak entakan kaki keduanya senada di antara serangan hujan, lalu tubuh mereka hilang tertelan tikungan jalan. Mata ini tertuju kembali pada tiga bocah yang terlihat mulai menggigil. Salah satu dari mereka membelai tubuh sendiri dan nampak bibirnya abu kecoklatan.

“Ayo, pulang!” teriakku dari serambi.

Mereka menengok ke sumber suara, terlihat ada diskusi satu sama lain hingga berbondong pulang ke peraduan masing-masing. Hujan jatuh saat sandekala, tetapi kenapa banyak orang tua membiarkan anak-anaknya bermain hujan? Gumamku sendiri.

Entah kenapa sandekala ini rasanya beda. Firasat buruk terus berkecamuk dalam benak. Aku tertegun dengan memicingkan mata ke sekitar yang mulai sepi.

“Eko, bantu Inaq siapkan makan,” suara Inaq membuatku terbelalak tiba-tiba, memecah hening.

Segera tubuhku bangkit meluncur ke tempat Inaq. Piring dan gelas yang berjejer rapi sebagaimana adanya telah kuangkut. Tak kutinggalkan bakul nasi, baskom, dan sebagainya. Di sisi lain, Inaq menyiapkan makanan khusus buat Nenek. Biasanya Nenek makan sendiri di ruang TV.

Makan malam di saat sandekala itu sudah siap disantap, namun hanya ada aku yang sudah bersila. Amaq muncul dari kamar dengan aroma semerbak. Ia masih bersarung dan berbaju muslim selepas menunaikan kewajiban. Tapi bukannya langsung bersila mendekat, ia malah menyiput ke serambi, ingin menikmati sandekala bersiram hujan, katanya.

Tiba-tiba muncul bunyi motor menapaki teras.

“Itu adikmu sudah pulang,” kata Inaq yang rasanya sudah familier dengan bunyi butut itu.

Aku masih menyendiri bersila. Inaq berturban handuk perlahan tertelan kamar mandi. Sepertinya ia mau membasuh tubuh. Gayungan air yang terdengar tak kalah oleh guyuran hujan menimpa kegelisahan. Dari pintu belakang, muncul Adik dengan muka layu bak kembang baru yang tersengat mentari. Bajunya kuyup, sedang rambutnya tak sedikitpun terguyur. Tanpa untaian kata aa mengarah ke kamar.

Selang itu tiba-tiba lampu mati. Gelap. Sekeliling menghitam.

Segera kunyalakan senter HP.

“Ko, ambilin lampu, Nak.” teriak Inaq dari balik daun pintu.

Aku yang tak tahu di mana tempat meletakkan sumber cahaya lain seperti lilin dan lampu teplok sembarangan mencari di sudut-sudut ruang. Nihil. Kupanggil Amaq tapi tak terdengar sahutan. Adik juga muncul dengan mengandalkan senter HP, lalu kuserahkan senter HP satunya ke Inaq. Satunya lagi kupakai mendekati Nenek yang menyendiri. Rupanya, Nenek sedang bersantap, tapi terhenti oleh mati lampu.

Silaq lanjut makan, Nek,” ucapku sembari mengarahkan cahaya senter.

Ia menggeleng tidak.

Beberapa menit suasana menghening. Hanya cahaya HP di tengah keremangan.

Tiba-tiba suara riuh tertangkap gendang telinga. Suara makin mendekat menampik hujan yang terus mendesir. Saat itu juga badan berasa diayak, goyang tanpa kendali. Bunyi printilan gemericik makin memekik telinga. Sontak kupegang tangan Nenek dan mendekapnya erat.

“GEMPAA ... GEMPAA …” Adik teriak histeris dan muncul dari kegelapan ruang.

Inaq dengan tubuh berbalut handuk lari tak kalah histeris melempar badan ke tanah lapang.

LINDUUR2 ... LINDUURRR …” suara riuh di luar terasa sesak.

Rupanya warga sudah berhambur memenuhi titik-titik lengang. Asma-Nya senantiasa beralun memecah hening dalam keremangan. Hujan makin deras mengguyur badan-badan yang lunglai.

Gema suara takbir terdengar berkali-kali.

Aku masih tertegun menikmati tubuh bak diayak. Lidah kelu tak mampu bersilat oleh gemericik piring cangkir yang bergoyang. Namun, sontak Amaq muncul dari punggung. Ia segera menggotong Nenek dan memandu kami keluar. Syukurlah hayat masih dikandung badan.

Namun kami harus merelakan mereka yang terjebak dan tertindih puing-puing peraduan. Mereka yang menemui akhir hayat saat sandekala kala itu.

1: senja kala

2: gempa