Puisi-puisi Rian Kurniawan Harahap
Serigala
Serigala pergi menjaga kawanannya dari belakang
Serigala pulang kulitnya belang perutnya kenyang
Manusia pergi menghilang dari kawanan
Manusia pulang sendirian.
2023
Harimau
Aku kan terkam lalu matikan.
Kukoyak sepi yang memagut dan sembunyi pada tubuh.
Mataku serupa roket yang meledak.
Seiring mantra dari mulut.
Komat-kamit mencari mangsa bangsa yang terkenal picik.
Aku kunyah daging lalu kupajang kulitnya.
Mereka pengecut.
Menguliti kami setelah mati.
Mereka bangsa takut punah.
Memajang ritual mandi purba.
Memburu atau diburu.
Mematikan atau dimatikan.
2023
Anjing
Dalam salaknya yang mengangkasa.
Ada ketuban yang pecah antara selangkangan dan hutan.
Aroma jantan berburu kematian di tengah hutan.
Anak lahir di persalinan yang disambut azan.
Bunga-bunga bermekaran dalam api benci untuk kondiak yang mati kemarin malam.
Seorang ibu menangis dalam ratapan bahwa dari rahim lahir anjing pemburu.
Ia tak pernah bercumbu dengan binatang, apatah lagi anjing masuk dari liang kelamin.
Anaknya lahir kembar, seorang manusia dan seekor anjing.
Kasih melangit dalam doa-doa, tunggak-tunggik dalam sembahyang.
Gigil ibu tengah malam, diiring tangis bayi dan salak kembaran di kandang.
Anaknya kembar, rahimnya satu, digigit luka.
Anjing tumbuh kecukupan, ia raih semesta rumah, susunya menganak sungai dari botol toko hewan peliharaan, namanya diakikahkan dan dipanjangkan, anjiang kanduang.
Bayinya bertulang kehinaan, dagingnya digerogoti pengangguran, bapaknya hilang sejak kembaran dilahirkan, menginap dalam hutan hujan, berselimut taruhan.
Ibunya berulang kali bermimpi jatuh di jurang.
Bayi memanggil dari surga, anjiang kanduang menyahut gembira.
Bapaknya mengangkat bayi di tangan kiri, anjiang kanduang di tangan kanan.
Berulang-ulang, bermasa-masa, seumur adat yang berserak.
2023
Sepuisi yang Kutanam di Belakang Rumah
Puisi tersungkur dalam rok-rok mini.
Ia mati bernisan abadi.
Ditanami kembang tujuh rupa.
Diziarahi bila mulai alpa.
Ia tumbuh jadi alienasi
dalam pajangan ambisi
dibacakan praktisi dalam orasi.
Puisi jadi penghabisan kata-kata.
Aksaranya abu dan debu
jadi keset politis di senayan.
Takdir puisi diotopsi
dimutilasi bunyi jadi mantra.
Dikoyak selubung sunyi
dikangkangi igau sepi.
Ia dalam bilik tak bercahaya
tenggelam dalam riuh renyai
kontestasi suara.
Puisi jadi tugu purba.
Ia dikenang dalam kitab manusia
dipupuh dan dibasuh melepuh.
Ia berlepak-lepak mengemis dalam jagawana sastra.
Puisi kusimpan dalam puisi.
Ia kan kutanam di belakang rumah bersama ari-ari.
2023