Puisi-puisi Muhammad Firdaus
Jalan
Jalan aspal retak menuju rumahmu
tak urungkan keinginanku bertemu denganmu.
Sepanjang jalan kubaca doa tentang rindu
sebelum dihapus sejarah dan rahasia waktu.
Tetapi matahari tak pernah tenggelam di sini
seolah abadi dan tiada akan mati.
Pelan-pelan kutembusi pohon-pohon sengon.
Daun-daunnya menutup sepanjang trotoar.
Kedatanganku terlambat.
Mungkin perbaikan jalan yang membuatku terhambat.
Sebuah perjanjian tak pernah kita buat
dan salah satu dari kita tiada yang mencatat.
Dari jarak paling jauh
Dari jarak paling jauh, kukabarkan rindu penuh seluruh
tak ada pesan lain yang dibawa angin
meski sebenarnya ingin kukirimkan pesan lain.
Tapi di kota ini, selalu kucium aroma tubuhmu
merapat di malam-malam buta
tiada lekang tatkala sang surya membara.
Aku tak pernah merdeka di kotamu
sesudah kabar itu kudengar beberapa waktu lalu
bahkan ketika perang riuh rendah bergemuruh.
Sisanya adalah hangus mayat dan gedung-gedung runtuh
juga ketakutan yang membikin nyali mati
dari kesedihan tak beranjak pergi dari sini.
Dari jarak paling jauh, aku
tak ingin kembali ke kotamu.
Sesudah mimpi
Sesudah mimpi ditamatkan
dan cahaya matahari merembet pelan-pelan di jendela kamar
sebuah kenyataan datang
sebelum dusta merenggutmu dari belakang.
Ia memutuskan berpaling dari ketenangan
menjemputmu yang dirundung kepedihan
segaris semesta hilang
dan yang lain tak pernah tinggal.
Meski ada yang tercatat seusai penempuhan semalam
garis-garis kelabu seakan timbul tenggelam dalam ingatan
dan seseorang yang kuanggap engkau, dalam diam
adalah bayangan lain yang belum tuntas disematkan.
Sesudah tamat mimpi itu
tak kunjung kutemu keberadaanmu.
Dari jalan tenang
Dari jalan tenang sedikit melebar
beberapa luka mesti dibabat
pun pohon-pohon angsana berjajar di kiri kanan jalan
dan reranting patah bertumpahan sedikit berjarak.
Tapi mesti ada yang diselesaikan usai penempuhan semalam
sebelum timbul persoalan baru sesakkan pikiran.
Angin adalah penyaksi bisu lewat daun-daun itu.
Debu yang menempel adalah catatan usang tentang ziarah dari jauh.
“Kita tak pernah usai melawan malam,
hening menyusup ke tulang belulang.”
Seseorang datang dari seberang
menyeberangi lautan
hendak merengkuh semesta di tanah perantauan
dan melawan sisa luka penuh nanah dan darah.
Di kafe
Di kafe kudengar sayup-sayup waktu berwarna biru
sampai menggema di sekujur ruang tanpa peredam suara.
Angin laut berkejaran dengan daun-daun angsana
di luar bukan sebuah simfoni turun dari langit tujuh.
Aku mengukur waktu yang tak menepi. sampai pada
sesapan pertama kopi yang dihidangkan seorang pelayan.
Pelan-pelan menarik jantungku tanpa sungkan
dan ampasnya melekat di bibir seolah ingin bercerita.
Kehilangan adalah udara yang gagal ditangkap pancaindra.
sementara keheningan ibarat orkestra tanpa suara
yang partiturnya menjauh ke kedalaman samudra.
Kusempurnakan ritual minum kopi di kafe tanpa suara
waktu yang biru berangsur putih mengusik mata
dari jauh, kutemukan getir aroma kehidupan di atas keranda.
Sebuah pintu, untukmu
Kita diberkahi begitu banyak pintu
dan diperkenankan memilih salah satu.
Tak ada pintu lain selain di sini.
Bahkan di sana mengingini yang ini.
Sebuah pintu yang akan membawamu
ke jalan mana pun yang engkau mau.
Tak ada sesat, apalagi sasar.
Pintu-pintu itu adalah jalan keluar.
Kendati telah kubuka satu untukmu.
Engkau tak segera masuk menemuiku.