Esai Yang Tersisa dari #WITMonth
Apa yang tersisa setelah #WITMonth yang dirayakan bulan Agustus lalu? Apakah keramaian mengunggah potret dan mengulas buku karya penulis perempuan dalam terjemahan selesai begitu saja? Tepatkah tagar itu secara eksklusif hanya diramaikan di bulan Agustus? Tampaknya kita perlu memikirkan ulang soal hal ini.
Kita tahu, dunia merayakan bulan Agustus dengan agenda membaca literatur karya penulis perempuan dalam terjemahan bertajuk Women in Translation Month (#WITMonth). Selama sebulan penuh, pembaca buku di seluruh dunia mengunggah ulasan dan membagikan pengalaman membaca mereka di sosial media. Interaksi antarpembaca pun memungkinkan tersebarnya pengetahuan atas karya-karya penulis perempuan sehingga ruang dialog tercipta dalam mendiskusikan berbagai isu dalam karya tersebut. Bagaimana agenda ini bermula dan apa tujuannya?
Menarik mundur ke tahun 2014, seorang blogger bernama Meytal Radzinski merasa resah sebab mendapati ketimpangan dalam persebaran karya penulis perempuan dan laki-laki di Amerika Serikat. Penulis perempuan hanya menulis tiga karya dalam jajaran karya terjemahan ke bahasa Inggris. Parahnya lagi, University of Rochester mencatat di tahun 2016, hanya ada 33,8% buku terjemahan bahasa Inggris yang ditulis oleh penulis perempuan, sementara karya penulis laki-laki lebih banyak, yaitu 63,8%. Jomplangnya perbandingan itu menandai bahwa kanon-kanon sastra yang mengglobal hampir pasti dinominasi oleh penulis laki-laki.
Mengapa penulis perempuan kurang mendapat sorotan? Salah satu penyebabnya bisa dilihat dari bias penerbit dalam industri buku yang berhubungan dengan bias gender sehingga representasi penulis perempuan kurang diakomodasi. Contoh lainnya, bisa kita lihat dalam peta kesusastraan Jepang lima dekade silam, yang melulu mengenalkan penulis laki-laki hingga menjadi kanon: Yasunari Kawabata, Yukio Mishima, dan Junichiro Tanizaki. Kanonisasi para penulis dengan menerjemahkan karya mereka kepada khalayak global menandai satu hal bahwa ada sejumlah karya dan nama penulis lain yang tak dimunculkan ke permukaan.
Hal itu pun berdasarkan pada gender penulis Jepang yang dilakukan Barat terhadap terjemahan bahasa Inggris. Sebab dari lima judul besar antologi karya penulis Jepang yang Caouts teliti, hampir semuanya didominasi oleh penulis laki-laki. Misalnya, dalam antologi Anthology of Modern Japanese Literature (1956) besutan Donald Keene, tampak perbedaan signifikan jumlah penulis laki-laki dan perempuan. Hal ini pun menghadirkan persepsi, bahwa dari deretan karya sastra Jepang sebelum perang dunia kedua—mengingat karya-karya yang dipilih merentang waktu 1868-1949, perempuan penulis belum banyak di zaman itu.
Akibat penerbitan antologi ini, terbentuklah wajah yang mewakili kesusastraan Jepang secara umum. Keterwakilan kesusastraan Jepang semakin menguat dengan tiga nama yang telah menjadi kanon tadi. Apalagi, setelah karya solo mereka diterbitkan terus-menerus. Maka tak heran, dalam dekade setelahnya, pembaca hanya mendapati nama-nama yang telah moncer tadi hingga ada satu nama yang mencuat: Banana Yoshimoto. Dari ketiga raksasa kanon sastra Jepang yang dikenal dunia, hanya nama itu yang selama menahun dikenal publik global sebagai penulis Jepang perempuan secara umum.
Apakah kondisi tersebut terbawa sampai hari ini? Seiring waktu berjalan, upaya melawan arus kanonisasi semakin menguat sekalipun persebarannya belum merata di penjuru dunia. Meytal Radzinski menyadari hal tersebut, ia menginisiasi agenda Women in Translation Month sebagai upaya mengenalkan, menyebarluaskan, dan mendiskusikan karya-karya penulis perempuan. Lantaran ia memulainya di bulan Agustus, ia pun mencetuskan bulan ini sebagai perayaan pembacaan atas karya-karya penulis perempuan itu. Tujuannya tentu jelas, yaitu untuk menggaungkan karya penulis perempuan hingga semakin dikenal luas dan diakrabi oleh pembaca.
Tujuan itu tentu dapat dipahami. Sebab kanonisasi dengan kecenderungan gender masih bergeliat sampai sekarang; dan membaca karya di luar kanon menunjukkan kesadaran atas pentingnya kesetaraan di dalam dunia perbukuan. Namun, langkah ini akan kentara dampaknya apabila tidak ada eksklusifitas waktu pelaksanaannya. Penggaungan dalam satu bulan penuh bisa saja mengesankan bahwa agenda ini hanya dilakukan dalam satu momen yang kelak bisa tergantikan dengan agenda lainnya. Dengan riuhnya jagat digital hari ini, tagar yang telah terunggah itu akan tergerus informasi dan topik lain, dan perhatian pengguna media—atau pembaca—teralihkan hingga tujuan agenda pun berkurang esensinya.
Kita menyadari betapa agenda ini menggalakkan urgensi kesadaran atas kesetaraan di dunia yang spesifik, yaitu dunia kesusastraan. Suara yang selama ini terbungkam, dilupakan, atau tak dikenal oleh masyarakat dan pembaca umum bisa dibangkitkan melalui agenda ini. Oleh karena itu, kita perlu mengesampingkan eksklusifitas agenda ini dan boleh saja melakukannya di sepanjang bulan. Kalau tidak, yang tersisa hanya gaung samar dari keramaian sesaat dan kebisingan lain pun bisa mengambil tempat.
Memang, kita bakal menemui Agustus lain demi perayaan serupa, tetapi apakah tidak lebih baik bila kita terus merayakan bulan membaca karya penulis perempuan dalam terjemahan setiap saat? Kita ingin karya-karya mereka semakin dikenal khalayak ramai, kita perlu membiasakan untuk membaca, membicarakan, dan mendiskusikannya tanpa tersekat waktu yang eksklusif. Dengan begitu, gaung karya dan nama mereka pun terdengar samar, tetapi terus nyaring bergema di benak masyarakat pembaca di seluruh dunia.