Esai Sebuah Hindia untuk Pramoedya

Sastra membawa manusia membuka peta sejarah, kebudayaan dunia, dan bagaimana sebuah kebudayaan berinteraksi dalam mengonstruksi makna. Dominasi dari tubuh hingga teks terjadi selama berabad-abad yang terekam dalam penderitaan dan ketertindasan oleh karya sastra. Pramoedya bersama Chairil Anwar adalah sastrawan seangkatan yang karyanya berhasil mendapat pembacaan panjang dalam panggung sastra Indonesia. Jika Chairil mengoyak kata melalui puisi, sedangkan Pramoedya Ananta Toer menenun makna dalam prosa.

Hindia sebagai situs masa lalu, ruang menyejarah manusia-manusia kalah. Salah satunya adalah Pramoedya. Tubuhnya yang bermigrasi antara rumah, perpustakaan negara, dan penjara sebagai referensi absolut. Studi filsafat dan sosiologi memberi pengaruh besar pada karyanya ketika merencanakan sebuah pembebasan untuk manusia baru. Mata rantai sejarah bekerja dalam teks Pramoedya merekam perjalanan Hindia di masa poskolonial ketika penyempitan saraf sejarah di mana-mana.

Jalan sunyi kesusastraan Pram terhubung ketika zaman fasisme orde baru berupaya menyingkirkan kebudayaan kiri. Puluhan hingga ratusan ribu rakyat: dibunuh, ditangkap, dan dihilangkan. Sepotong cerita penangkapan terjadi. Waktu sore hari di depan mesin tik ketika khusyuk menulis, ia diamankan bersamaan dengan pelenyapan puluhan ribu eksemplar buku dan beberapa naskah yang siap diterbitkan. Bersama semangkuk sup manila buatan istri yang tidak di rumah sore itu, ia kenang itu sebagai masakan terakhir untuk penjemputan pengasingannya selama 14 tahun di Pulau Buru Maluku.

Pram adalah seorang perenung yang berbahaya, tetapi Buru mempunyai makna tersendiri di hati para tapol. Selain itu, ia menjadikan hari-hari pengasingan sebagai cara untuk merayakan bahasa. Buru adalah rumah penyusunan teks dan penyuntingan karya besarnya (lokus perenungannya). Di sana sakelar bahasa bekerja melampui pengalaman manusia Hindia yang berabad-abad usianya. Tempat di mana tulisan diterbitan sarat akan makna penindasan serta perlawanan. Sebuah pengalaman perbudakan tubuh dan bahasa yang tidak ingin dirasakan oleh siapa pun, terlebih harus dijauhkan dari sejarah awalnya, yaitu rumah. Secara jelas pengalaman keterasingan mengubah sikapnya menjadi keras.

Roman sejarah dengan bentuk naratif dramatik adalah medan puitis yang dipilih Pramoedya. Sebab ia dekat dengan kondisi kesadaran neurotik tersebut.  Di dalam buku-buku tulisannya, ia melukis sejarah panjang masyarakat Jawa dan sekitarnya dalam berbagai tajuk; kolonialisme, humanisme, feminis, sinkretisme dan marxisme. Kenyataan yang ia dapat dari pengalaman membaca dan melihat sejarah singkat Hindia. Di antara banyak buku, tetralogi buruh menjadi  roman klasik yang banyak menyihir banyak pembaca, buku-buku yang menjadi pintu masuk untuk mengenal Pram dan sejarah Hindia.

Pram menyalin ingatan sejarah kelam ratusan tahun sebelumnya di Hindia oleh kekuatan kolonial. Dalam surat Kartini yang direvisinya menjadi sebuah buku, ia mengurai isu sinkretisme dan pendidikan Jawa yang diskriminasi dan tidak humanis di mana dunia perempuan yang lekat dengan tatanan patriarkis tanpa ruang bicara dan berpikir. Bagaimana perempuan selalu menjadi objek kebudayaan. Sebagai cara untuk mengisahkan ulang. Sungguh mengerikan dilahirkan menjadi perempuan pada masa kolonial. Perempuan, baik anak-anak maupun dewasa dipaksa menjadi budak seks tentara Nippon. Jugun Ianfu, begitulah panggilan yang disematkan pemerintah kolonial Nippon kepada perempuan pribumi yang mereka culik. Sebagai penulis dan sebagai perempuan, perilaku yang tidak manusiawi ini menjadi benang merah kumpulan cerpennya

Buku berjudul “Perempuan dalam Cengkraman Militer” mengangkat latar pada sekitar tahun 1943-an, yakni pada masa penjajahan Jepang sedang jaya-jayanya. Pada waktu itu, banyak terjadi tindakan yang tidak manusiawi. Kaum laki-laki diperas tenaganya untuk program kerja paksa, sedangkan kaum perempuan dijadikan boneka pemuas nafsu. “Sepanjang apa pun kekerasan ia tidak akan pernah bermakna apa-apa,” kata filsuf Yunani.

Di Indonesia, pada zaman kekuasaan orde baru, kekerasan dan kekejaman menyeruak di banyak tempat atas perlakuan militer yang represif. Namun, tidak pernah ada hukuman apa pun untuk mereka, melainkan mendapat kenaikan pangkat karena sudah berhasil mengusir pikiran buruk. Di tangan penulis, bahasa menjadi lebih bermakna dan hidup. Dunia merekam perjalanan kekaryaan seorang dari dalam penjara. Sebelum menerima panggung besar kesusastraan dunia. Atas pencapaiannya, Pram memperoleh penghargaan Magsaysay untuk sastra dan jurnalisme, ia menjadi satu-satunya sastrawan Indonesia selama dua tahun berturut-turut masuk dalam daftar penerima nobel sastra sejak pemikirannya berhasil memotret manusia abad ke-19,  sebuah zaman paling berbahaya. Sejarah yang baik adalah yang ditulis oleh korban. Pram adalah korban sejarah.

Karya karyanya membangunkan kesadaran manusia Hindia. Namanya melejit ke pembaca kritis di dunia dari semua kalangan dan usia untuk mengenal sastra Indonesia. Pameran buku di Berlin merekam perjalanan diri dan bangsanya. Meskipun tubuhnya dibatasi, karyanya mengganggu ingatan sejarah. Di Asia, Eropa, dan Amerika,  buku-buku itu diajarkan di sekolah-sekolah, sesuatu yang tidak didapatkan di bangsanya sendiri.

Pergulatan intelektual Pramoedya menentukan dunia kekinian dalam sastra. Otentisitas karya memberikan warna dalam perjalanan sastra Indonesia yang tak ditemukan dalam wajah sejarah. Pramoedya membebaskan teks dan trauma memori kolektif perbudakan dalam ruang sejarah menyusun memori kolektif untuk penyetaraan manusia. Tentu tidak ada yang berdiri sendiri sebuah karya diapresiasi jauh hingga hari ini.