Puisi-puisi Iyan Sopiyan
BATU AKIK
Yang ia ingin
keluar dari gelap
kembali pancarkan bening
kepada si Perawat
Yang ia takut
telah mengkristal lumut
sedang punggung bumi
tak mendengar lagi penggali
Yang ia luput
suntuk kepada penjerah
padahal membutuhkan bentuk
sebelum terbingkai rumah
Yang ia harap
adalah puja-puji alim
tapi dalam penuh retak
tak mendapat kelingking.
2021
IMBUHAN
Padahal hidupnya tak sendirian
hanya perdusunan bunyi
pelik membawa perubahan.
Maka ia pun memilih pergi
setelah mendengar kota kata
membuka lowongan perombakan arti.
Lalu ditempuhnya setapak kalimat
dan bersiap terlambat menuju paragraf
seperti birokrasi atau siasat.
Pada setiap titik ia pun berhenti
setelah halaman demi halaman
mempersilakannya berbunyi:
Ikhlas bertugas apa saja
demi hidup lebih bermakna
berjanji tak gundah hati
pabila nanti tergeser posisi.
2021
LAMPEGAN
Sebuah bukit dipecahkan dinamit
agar penjarah dapat melipat arah
padahal kami tak memberinya pahit
dari ladang kopi yang terkoyak di sana.
Demi lorong yang terus menghantui
mereka pun timpa kami tanpa spasi
menolak keringat dan kesedihan
bahkan untuk bercakap dengan Tuan.
Disambutlah kereta kali pertama
meliuk umpama tarian Nyai Sadea
atau peluru yang menjelma sebagai hantu
tapi kami menangkapnya begitu lugu.
2022
SEPAK BOLA
Dalam kepungan nasib
kau harus menentukan titik
saat bola kehidupan bergulir
dari penjagaan gawang takdir.
Karena dalam langkah waktu
Tribun bisa saja melemparimu
dengan diksi-diksi yang payah
jika bermain terkesan gegabah.
Maka segalanya harus kau renungi
selangit mungkin di ruang ganti
sebelum peluit kembali memulai
permainan yang musykil usai.
2023
PESAN SINGKAT
Melalui sajak ini, saya bermaksud
mengundang anda dalam acara berikut
membersihkan lorong-lorong kemacetan
usai meluap-luap dalam kehidupan
Karena begitu setiap saat
anda mesti senantiasa sigap
mohon jalani penuh keniscayaan
tidak dapat diwakilkan.
2022