Cerpen Sebuah Penghakiman

Menaklukkan situasi sulit adalah hal biasa bagi orang cerdas sepertinya. Ia adalah pengacara yang sudah sering memenangi kasus-kasus berat. Menyasar pasar dari kalangan atas, tetapi tak menutup peluang untuk job ringan selama tarifnya pas. Ini bukan semata tentang nominal di atas kertas, tapi tentang kapabilitas.

Bakat menjaga nama baik sudah ada sejak sekolah. Ambisius dan haus akan pengakuan pun muncul sebagai watak bawaan. Hal itu membawanya ke dalam hidup yang berkelimpahan. Karier, takhta, asmara, semua sudah ada dalam genggaman. Soal bermasyarakat pun masih dirasa aman, gestur dan gaya bahasa yang cakap adalah senjata yang selalu ia gunakan. Pokoknya, kalau diberi gelar tambahan, si Pengacara satu ini layak disebut doktor bidang seni meraih kesuksesan.

Pagi ini si Pengacara mendapati dirinya baru saja bermalam bukan di dalam kamar rumahnya. Tidak ada bunyi kendaraan di jalan sekitar kompleks. Tidak terdengar juga bunyi meteran listrik tetangga yang biasa muncul saat tanggal tua.

Ia memandangi atap alang-alang yang sudah basah dan hitam di atas kepalanya. Ini bukan berugak miliknya. Ia memberi ruang di halaman rumah untuk bangunan kayu seperti itu, tetapi atapnya akan diganti apabila sudah terlalu sering diguyur hujan. Ini tempat yang jelas belum pernah ia kunjungi sebelumnya.

Si Pengacara menggeser pandangan ke samping. Ia melihat pria tua duduk meratap di dekatnya. Orang ini tampak seperti Amaq Badrun, orang yang dulu ia seret ke pengadilan. Waktu itu ia membela seorang spesialis pengobatan alternatif yang di daerah ini juga terkenal sebagai ahli klenik. Karena kepercayaan orang terhadap kliennya ini, iklan jasa pengobatannya sudah berani dipasang di stasiun televisi.

Sudah cukup lama sejak terakhir kali ia bertemu Amaq Badrun di pengadilan. Kalau dihitung masa tahanannya, seharusnya orang tua ini masih mendekam di dalam tahanan. Raut wajah Amaq Badrun hari ini tidak terlihat bergairah. Persis saat menghadiri vonis hakim waktu itu. Tatapannya kosong menyiratkan luka batin. Iya juga, Amaq Badrun dasarnya memang orang susah, bebannya memang sudah banyak. Jadi, wajar jika raut wajahnya penuh siksaan.

Seraya bangkit dari tidurnya, si Pengacara mempertanyakan apa yang terjadi sampai ia bermalam di tempat ini. Anehnya, tak ada suara apapun keluar dari mulutnya. Ia menatap tajam Amaq Badrun, memaksa pita suara lebih keras bersama keringat dingin yang mulai muncul dari pori-pori di atas urat lehernya. Perasaan takut, bingung dan emosi yang kini sudah tidak bisa ia lampiaskan dengan kata dan suara. Ia takut tak bisa bicara selamanya.

Sekeliling menjadi gelap. Berugak itu ditelan bayangan yang merubahnya menjadi tempat kosong tak berujung. Gelombang hitam itu datang berulang-ulang, pekat dan makin pekat, hingga tidak menyisakan apa-apa.

Tak berapa lama kesunyian yang menelannya tiba-tiba pecah oleh isak tangis. Amaq Badrun, pria tua itu, masih di sana. Beban di dalam kepalanya seperti membuatnya mengabaikan sekitar. Sekarang pandangan kosong itu basah oleh air mata. Air mata yang mengucur terlalu deras menghabiskan semua cairan tubuhnya. Air seperti diperas keluar lewat lubang di sela-sela mata sehingga membuat sekujur tubuh pria keriput itu kering dan retak.

Nenek Kajiiii, tuluuuung,” raungan Amaq Badrun melemah hingga lenyap tak bersisa.

Mata si Pengacara terbelalak. Ia masih berusaha mencerna bagaimana fenomena ini bisa dilihatnya dengan begitu jelas. Di mana sebenarnya ia berada. Kalau ini mimpi, kenapa semuanya terasa begitu nyata.

Kini suara tawa muncul tepat di atas kepalanya. Iya! Itu suara mantan kliennya, si ahli pengobatan gaib. Ia ingat tawa itu persis ketika mereka menghancurkan hidup Amaq Badrun di pengadilan. Tawa bahagia yang mereka sebut buah dari perjuangan.

Tawa si klien terdengar makin keras mengisi ruang kosong tak berujung. Si Pengacara lari tidak peduli kemana, ia hanya ingin ke tempat di mana suara itu tidak didengarnya lagi. Ia merasa suara itu tak wajar. Itu bukan tawa dari seorang manusia, melainkan monster bengis yang nuraninya membusuk oleh racun ambisi dan ketamakan.

Telinga ia tutup rapat, tetapi suara itu tidak juga melemah. Satu per satu orang yang pernah ia tindas muncul di hadapannya lalu terlempar ke mana-mana. Menangis, berteriak, kemudian kering dan hancur menjadi debu. Suara mantan klien berubah menjadi tangisan, lalu lenyap dengan sendirinya.

Suasana tempat kosong tak berujung kembali sunyi. Seberkas cahaya muncul melewati celah debu yang beterbangan. Si Pengacara mendekat dan menemukan cahaya itu berasal dari lampu mobil miliknya. Apa pun yang terkena sorot lampu itu akan terlihat jelas bentuknya.

Ia mengusap kaca mobil dan melihat ada seseorang di dalam. Orang itu bersimbah darah, tak bergerak pertanda tak ada kehidupan. Si Pengacara menempelkan tangannya pada telapak tangan yang terjulur di balik kaca. Telapak tangan orang itu yang tidak lain adalah dirinya. Tubuh kaku yang sudah tidak lagi bersamanya.

Iya, hari ini bukanlah hari biasa. Ia mulai mengerti tentang tempat gelap tak berujung, tentang orang-orang yang ditemuinya, serta isak tangis mereka semua. Hari ini ia menyadari hal penting yang selama ini terlewat. Kejahatan yang semasa hidup ia anggap sebatas pencapaian.

Machiavellianism, orang-orang yang menggambarkan dunia sebagai panggung bagi mereka yang punya kekuatan, sedangkan yang lemah dimanipulasi dan dibuang. Kesannya memang menabrak  nilai kemanusiaan, namun kenyataannya banyak yang memaknainya sebagai sebuah sistem tatanan. Si Pengacara menyadari telah terbawa oleh arus ini, arus dunia yang mendewakan keangkuhan.

Sekarang ia mengikuti arah jalan yang gelap tanpa tahu pasti di mana ujungnya. Ia hanya meyakini perjalanan ini bukan tanpa tujuan. Sorot lampu mobil menuntunnya membaca arah di bawah langit kosong tanpa cahaya bintang ataupun bulan. Jalan yang hanya mampu dilihat dan tak perlu ia pastikan. Jalan gelap yang ia lewati menuju takdir Tuhan. Menuju sebuah penghakiman.