Puisi-puisi Negara Rofiq

Doa Asap Dupa

Satu dua timba, barangkali menjelma daun kuning emas, dibawa ke rumah

Istri dan anaknya menunggu kabar baik ini sembari merapalkan doa di samping dupa.

 

"Semoga awan pekat ini tak menjadi air yang turun," rapal Istrinya semakin menjadi-jadi.

Doanya membumbung tinggi menyelinap di antara asap dupa.

 

Mereka keluarga yang kemarin siang dadanya membara seperti minyak tersambar api.

Hutangnya pada Bun Mudinar semakin berlipat mengikuti ketukan irama lama waktu.

 

Doa Kudis Terakhir

Titisan doa tetap dirapal hingga menjadi telaga di persimpangan, diminum orang-orang sekitar yang kempis dadanya.

 

Rapalan doa itu semakin menjadi-jadi.

"Mengapa kau menyukai air hujan?" tanya orang itu yang tangannya dipenuhi kudis, tanda ia rajin menjarah dapur-dapur yang hanya mengepul sekali sehari.

 

Doa itu masih saja dirapalkan.

Kupingnya sudah tuli disumbat daun jati, ia tak mendengar sedesis pun.

 

"Mengapa kau menyukai hujan?" tanya Ia lagi.

Sedang tangannya mulai dihabisi kudis liar itu.

 

Ingin Menderma Benefectress

Ia mau saja melakukan perintah kapten,

Asal Ia diberitahu cara menderma pada Benefectress.

 

Benefectress tak akan mau menerima hasil judi,

apalagi hasil jarahan yang menewaskan Ibunya malam itu.

 

Benefectress… Benefectress… terus saja ia mengulanginya di depan pintu kapten.

Sedang kapten tidur dan tak mau membuka pintu.

Kadang ia mengigau Benefectress diterkam domba gembala agar tak ada yang mengganggu tidurnya untuk minta petuah setiap hari.

 

Andai Saja Istrimu

Andai saja kamu tak kesiangan bangun,

jala-jala tak mungkin dijarah orang yang habis minum tuak itu.

 

Andai saja jala-jala tak dijarah,

Istrimu tak mungkin mati karena melihat tetangga beli emas.

 

Andai saja emas itu bisa terbeli,

barangkali Istrimu akan mengetuk pintu rumah-rumah orang yang lapar,

seraya bercerita dirimu giat bekerja dan tak pernah kesiangan bangun.