Cerpen Musala Depan Kontrakan

Ada yang mesti kami ingat ketika hari Jumat Legi ketika lengking musala depan kontrakan makin nyaring dan lama-lama menusuk telinga.

Ini bukan perkara pagi mulai naik dan sebagian dari kami yang rajin ibadah bangun ketika hari masih gelap lalu menjauh ke pojok ruangan untuk bermesraan dengan Tuhan. Bukan pula sebab di antara kami yang terpaksa menyumbat telinga dengan earphone sekaligus menyetel lagu milik grup dangdut kawakan Jawa Timur yang lengkap dengan gendang mendayu, khas seperti tarling. Bukan. Ini soal Pak Sukab. Namun, jangan! Pembaca jangan mengaitkan nama ini dengan karangan Seno yang masyhur itu. Tidak ada hubungannya, kecuali alasan kenapa kami mengingatnya. Akan tetapi, pembaca cukup menyimaknya baik-baik, barangkali apa yang kami rasakan juga membuat pembaca merasa ganjil.

***

            Kami tidak tahu, pada minggu ke berapa ini semua bermula. Akan tetapi, sekitar pertengahan tahun lalu, setelah wabah sejadi-jadinya menyerang, Pak Sukab setiap Jumat Legi pagi datang ke musala depan kontrakan kami untuk mengumandangkan azan sekaligus tahlil kecil. Pada awalnya, hal ini kami anggap wajar sebab setelah beberapa keluarga dekatnya wafat, ia seperti memaknai maut makin dekat.

Beberapa minggu Pak Sukab melakukan rutinitasnya tidak tampak ada keganjilan. Malahan, beberapa teman tertarik untuk bergabung karena memang kedengarannya sangat meriah. Beberapa kali kami mendengar suara anak kecil di sela-sela suara berat Pak Sukab. Ada pula cekikikan ibu-ibu. Mengenai cekikikan ibu-ibu ini, saya diceritakan Aljas ketika mengendarai motor menuju Kaliurang untuk menyambangi beberapa teman penyair. Saat itu, hujan jatuh secara tiba-tiba dan kami terpaksa meminggirkan motor menuju salah satu angkringan yang berderet dan meliuk mengikuti ruas jalan.

“Akhir-akhir ini, musala depan kontrakan kita makin ramai,” ungkap Aljas dengan suara rendah.

“Bukankah hanya setiap pagi di hari Jumat Legi? Pun hanya suara Pak Sukab.”

“Ngawur kau. Bulan lalu aku malah mendengar cekikikan ibu-ibu.”

Saya sedikit terkejut sebelum akhirnya menguasai diri. Mula-mula saya teringat suatu malam yang ganjil, sekitar separuh malam sehabis hujan. Udara yang lindap mengepung tubuh saya dalam senyap sebelum tiba-tiba beberapa ekor anjing saling menyalak beberapa meter dari arah barat kontrakan, tepatnya dari jalan bercabang komplek perumahan dan pemakaman. Kebetulan malam itu tepat Jumat Legi, malam penanda Pak Sukab melakukan kebiasaannya untuk pertama kali. Sinar lampu bohlam depan kontrakan kami cukup menerangi sekitar jalan hingga jika ada genangan air, pantulannya tercetak di tembok musala.

Saya agak curiga ketika mendengar beberapa burung di dahan pohon mangga berkicau ribut. Sesuai kepercayaan masyarakat Sumenep Timur, ketika malam yang senyap ada bunyi burung dekat rumah, maka ada satu petanda. Jika burung tersebut adalah burung gagak dengan suara nyaris sayup, keyakinan tentang kabar kematian akan menelusup dalam kepala. Namun, jika burung kowak yang berkicau saat mengelilingi halaman rumah, diyakini ada orang di sekitar rumah akan berniat jahat. Anehnya, suara burung ini sangat asing di telinga saya. Suaranya seperti memendam kesedihan yang amat perih, paruhnya seperti dibungkam kesepian. Saya merinding, tetapi tetap memutuskan mengintip dari celah-celah gorden kontrakan. Suara-suara aneh saling menyahut lalu tenggelam dan mengarah pada musala.

Hampir bersamaan dengan binar cahaya putih jatuh ke musala, tiba-tiba suara kaingan anjing menelusup ke telinga dengan jelas. Beberapa saat setelahnya, keadaan senyap kembali. Suasana makin mencekam. Angin rendah menyapu rambut. Kebetulan, lampu kontrakan kami tidak menyala beberapa hari sebab tidak diperbaharui pulsanya. Tidak ada listrik. Di tengah kegaduhan tersebut, ponsel saya tiba-tiba bergetar, ada orang menelepon. Saya sedikit menyesal tidak mematikan getarannya sebelum ini.

Tertulis nama Ibu Maryati di layar ponsel. Saya tidak memahami atau menaruh curiga mengapa ia menelepon saat tengah malam. Ia dikenal cukup baik. Beberapa kali ia membagikan makanan saat saya dan kawan-kawan tidak memiliki apa pun untuk dimakan. Tetapi saya sangat malas mengangkat teleponnya. Bukan karena ketakutan yang menelusup pikiran saya, ia sudah memiliki suami serta dua anak.

Tiba-tiba ada suara tangis tertahan, pelan dan sedikit sendu. Suara-suara itu memanggil saya, seperti berharap saya cepat tiba tepat waktu di sumber suara itu. Tepat sebelum saya membuka ponsel dan memegang daun pintu, saya intip kembali celah gorden jendela. Pak Sukab dengan wajah tertunduk sedih keluar memanggul sebuah karung lusuh yang di sana-sini ada bercak darah. Wajah saya pias. Saya tak berani bergerak barang sesenti pun.

***

Keesokan harinya ketika hari tampak sembab, saat saya berangkat kerja, orang-orang mengerubungi beranda rumah Pak Sukab. Saya berhenti untuk bertanya kepada warga yang berekerubung. Ternyata Ibu Maryati, seorang ibu rumah tangga yang juga istri Pak Sukab dikabarkan hilang. Ibu Maryati, yang semalam meneleponku tapi enggan kuangkat. Sejak saat itu, di pagi hari setiap hari Jumat pasaran Legi, musala depan kontrakan kami tak lagi pernah sepi.

Cabean, 2022