Puisi-puisi Ahmad Radhitya Alam
Hujan Sub Urban
Hujan September
Membasahi tubuhku yang payau
dalam deras dan temaram
bulan kelabu.
Dalam rentang hujan
menuju reda.
Ingatan jatuh membasahi menara, menuju
kampung halaman yang kerap kali
kita tinggalkan
kita lupakan.
Bias antara cahaya dan rinai barangkali
akan melahirkan bianglala beberapa waktu lagi.
Namun, di cekung mataku yang tersisa hanyalah
genang air beserta tumpahan oli.
Yogykarta, 2022
Kapan Kau Buka Payung Ini?
Kapan kamu buka payung ini?
Segala teduh ia janjikan
tapi kau tak lekas membukanya.
Aku tak paham dengan jalan pikirmu
padahal sudah kaupegang payung itu.
Kapan kamu buka payung ini?
Segala teduh ia berikan
tapi kau tak kunjung menyingkapnya.
Atau mungkin kau sengaja
ingin basah berlarian
menyembunyikan tangis payau
di sela hujan kemarau.
Kapan kau buka payung ini?
Aku tak mau kita berdua
menerima hujan dengan pasrah
dengan perasaan kalah.
Kalau kau tak segera
Biar aku saja
Tak usah tergesa
Nanti kecipratan kenangannya.
Yogyakarta, 2022