Cerpen Telinga Bumi
Aku mendengar kelakar dua pemuda yang hobi merambat ke gunung dan bukit-bukit. Mereka bilang jika di negara kita banyak sarjana muda yang tak mampu menghidupi kehidupannya sendiri, apalagi menghidupi orang lain. Mereka tak sadar dengan yang diucapkan. Lupa jika tadi pagi sebelum berangkat mereka meminta ongkos naik angkot dan bus, uang sewa tenda, dan biaya hidup seminggu kepada ibunya. Aku tak tahu mereka mengeluh kepada siapa. Walau sejujurnya, awan dan burung-burung terus memperhatikan gerak-gerik mereka.
Hari Sabtu di awal bulan mereka pamit. Ingin naik gunung. Semula ada enam orang, empat orang ternyata tak bisa ikut. Ingin pulang ke kampungnya. Tugas kuliah dan tekanan belajar yang melelahkan membuat empat orang ingin rehat sejenak. Dua orang yang jadi berangkat memang orang lokal. Ke tempatnya menimba ilmu hanya sejam, lebih dekat lima belas menit menuju gunung yang akan mereka daki.
Setidaknya, janji dua pemuda itu telah kudengar kemarin sore ketika berpamitan pada ibunya. Tentu saja mereka meminta ongkos pada orang tuanya. Hanya bisa kuhitung dengan jari mahasiswa yang punya sampingan membuka les privat atau berdagang daring demi bisa membayar kosnya tanpa terus merepotkan orang tuanya. Yang kudengar kemudian, mereka malah bercanda jika di negara ini banyak sarjana yang menganggur. Garis besarnya jika lulus mereka akan mencari kerja atau setidaknya menjadi dosen di tempatnya belajar. Padahal, para mahasiswa, selain dicetak jadi kaum intelektual, mereka juga diajarkan jadi usahawan. Mereka seperti sedang menyindir dirinya sendiri.
Sudah kupastikan jika mereka naik ke atas, di tas ranselnya, banyak makanan kemasan plastik. Dan sejujurnya, aku sangat membencinya. Tak masalah kalau mereka paham membawa turun lagi sampah plastik itu. Yang lebih konyol, kemarin malah kejadian dua orang bersama tim prewedding datang ke tempatku. Menyalakan flare di tengah rerumputan, ilalang, dan pohon-pohon yang meranggas. Mungkin inginnya biar terlihat artistik di foto, padahal tempatku sudah indah sedari dulu. Mereka memang banyak tingkah. Tentu saja aku tak bisa mencegah kebakaran itu, walau angin sudah sekuat tenaga meniupnya dari arah empat penjuru. Dan saat kupinta awan menumpahkan hujan, ia bilang padaku, “Aku hanya patuh pada pemilik semesta. Belum saatnya.”
Kutunggu dua pemuda itu. Jika sampai aku melihat kaleng bekas minuman berserak, sampah plastik beterbangan, aku tak akan tinggal diam. Mereka pikir, aku bodoh karena selalu menerima perlakuannya? Empat bulan lalu, tim SAR pernah berhasil menemukan dua pemuda yang telah berubah jadi belulang. Menyelinap dalam dada pinus yang rebah di tebing jurang bersama rimbun ilalang. Mereka tak tahu jika pohon-pohon bermata, ilalang mengendusnya, dan bumi bertelinga. Sehari sebelumnya, dua pemuda itu dengan sombongnya bilang ke pacar mereka masing-masing, “Aku memang tidak tampan, tetapi aku akan berusaha agar isi dompetku selalu menawan.” Sial. Dia berbohong. Uang itu dari ibu dan bapaknya. Jatuh cinta membuat mereka pandai berkata tak jujur.
Sejujurnya, Tuhan tak pernah mengajariku arti sebuah dendam. Namun, kadang aku merasa kesal. Manusia itu selalu membuat kerusakan di tempatku. Apalagi jika lokasinya yang indah dan unik tetiba tersiar di media sosial. Tak usah lama menunggu, sampah-sampah berserakan dan kerusakan cepat terjadi kemudian. Ranting-ranting patah, rerumputan dan bunga-bunga berteriak karena terinjak-injak.
Hari ini, dua pemuda itu membuatku bekerja sama dengan rumput, ilalang, dan pohon-pohon pinus. Ingin melakukan pembalasan. Lihat saja nanti. Aku ingin mencontoh sungai bersama air bah yang pernah mengirimkan sampah-sampah yang mereka buang sembarangan lalu mengembalikan lagi ke tempatnya, kembali ke rumah mereka. Biar tahu rasa. Namun, mereka malah melakukan hal yang sungguh tak kukira sebelumnya.
Sampah-sampah plastik dan kaleng mereka pungut. Kain-kain kotor dan botol kaca bekas minuman mereka masukkan dalam karung yang mereka bawa dari bawah. Aku tak tahu apa yang selanjutnya mereka lakukan dengan benda itu di karungnya. Kudengar salah satu dari mereka berkata akan membawa karung itu turun. Benar saja, mereka membawanya turun. Sungguh, aku melihat dahi mereka berkeringat di tengah embus angin yang dingin.
Mereka gegas menyusur tepian, berjalan perlahan ke bawah membawa karung itu. Ketika salah satu dari mereka tak sengaja terpeleset di tebing jurang, berteriak menyebut nama Ilahi, menggelinding, pelipisnya terluka, aku tak tega melihat ia mencengkeram erat-erat karung itu di tangan. Tangan kanan memegang akar pinus, tangan kiri memegang karung. Tubuhnya menggantung. Seolah karung itu lebih berharga dari nyawanya sendiri. Tak rela jika isinya terburai dan mengotori tempatku lagi. Pada pinus-pinus dan ilalang aku berteriak untuk merangkulnya, memeluknya erat-erat agar tidak lepas.
“Tahan, jangan sampai ia jatuh ke jurang!”
Tiba-tiba, entah kenapa sejenak aku melupakan dendam itu.