Esai Membaca Kembali Puisi-Puisi Chairil Anwar

Nuansa kental nan muram, kepadatan yang dilipat dan dipepat, segala sesuatu yang seperti
terdesak dan tersingkir, berteriak lantang penuh nada seruan, hentakan, dan pertanyaan.
Begitulah nuansa yang mula-mula terpancar ketika membaca kembali puisi-puisi Chairil
Anwar, khususnya yang terangkum dalam buku puisinya yang berjudul “Kerikil Tajam dan
Yang Terampas dan Yang Putus” Penerbit Dian Rakyat (Cetakan ketigabelas, 1995). Nuansa
beraneka yang diikat oleh kepadatan muram serta lantang itu kiranya muncul akibat pengaruh
dominasi diksi-diksi berwarna senada seperti darah, nanah, cacar, luka, yang berkali-kali
muncul dalam puisi-puisi ini. Charil Anwar seperti ingin menghadirkan sesuatu yang tegak dan
sendiri, tunggal nan pongah yang diperkuat selain oleh pilihan diksinya yang gelap, juga
banyaknya anasir gerak seperti menekan, mendesak, menderu, menghambur, meradang,
menangkis, menggelepar, menembus. Semacam ada persoalan yang meronta menuntut
perhatian dan mesti segera digali, meski nyatanya hal itu tak jauh-jauh dari seputaran patah
hati, cinta yang bengis, kesepian di tengah semesta alam maupun pribadi. Tak hanya
keterdesakan yang seolah menuntut balas, dalam puisi-puisinya Chairil Anwar juga kerap
memasukkan citraan-citraan alam yang melambangkan kejiwaan subjek puisi. Alam yang
merupakan cerminan, alam yang mewujudkan suasana batin si subjek.
Apa yang telah teruraikan dari pembuka awal tulisan ini, barangkali bila dicermati
seolah hendak mengatakan Chairil Anwar semata gemar menulis puisi yang asyik-masyuk
dalam dunia pribadinya sendiri sehingga kesan si subjek yang meminta perhatian tak dapat
dielakkan. Akan tetapi, bila dicermati di antara puisi-puisinya yang soliter, Chairil Anwar juga
menulis puisi-puisi yang solider, seperti “Kerawang-Bekasi”, “Diponegoro” dan “Persetujuan
dengan Bung Karno”. Bila dicermati pula antara yang soliter dan solider memiliki gaya
ungkapnya masing-masing. Seorang yang semangat di tengah gempuran seteru akan mudah
kita dapati dalam puisi-puisinya yang solider itu. Sebaliknya seorang yang dingin dalam
balutan kesepian yang menghunjam akan tampak dalam puisi-puisinya yang soliter. Namun,
bila kita mendatangi lagi puisi-puisi pribadi Chairil Anwar dengan kacamata yang terang, maka
akan tampak pula bahwa sesungguhnya dalam dunianya yang pribadi itu pun ia
mengungkapkan banyak hal dalam banyak gaya ungkap yang berbeda-beda.
Simak puisi “Nisan” dan puisi “Cerita Buat Dien Tamaela”. Perbedaan gaya ungkapnya
sangat jauh sekali. Di puisi “Cerita Buat Dien Tamaela”, pembaca seperti bisa mendengarkan
suara tifa yang bertalu-talu diiringi repetisi dari ucapan si subjek. Kesan itu dipertebal oleh
adanya pembukaan beberapa bait yang selalu diawali dengan larik Beta Pattiradjawane. Dalam
puisi “Nisan” gaya ungkapnya justru lebih ditekan ke dalam, seolah kesedihan mestinya hanya
disimpan untuk diri sendiri. Pun empat larik yang menyusun puisi ini seperti mengingatkan
kita dengan empat baris tulisan yang umumnya tertera pada pahatan nisan.
Dari beberapa uraian mengenai puisi-puisi soliter Chairil Anwar, dapat dikatakan itulah
sebuah dunia pribadi yang tak ragu untuk dibawa ke hadapan dunia yang sedang riuh
meneriakkan kata-kata perjuangan dan merdeka. Aku sebagai pribadi menyempal keluar dari
kalibut aku-universal. Menengok kembali puisi-puisi era Pujangga Baru lalu
membandingkannya dengan puisi-puisi Chairil Anwar, maka teranglah aku dalam puisi-puisi
Pujangga Baru mewakili aku yang lebih umum, sementara aku puisi-puisi Chairil Anwar
adalah aku dengan pribadinya yang khas. Merdeka untuk mengungkapkan
ketidakberdayaannya, lantang meneriakkan rasa kehilangan orang-orang terdekat, suasana
kamar yang dihantui sepi, atau kepatahhatian yang dibingkai dalam nuansa pelabuhan, ini kali
tidak ada yang mencari cinta/di antara gudang, rumah tua, pada cerita//....
Semisal bila kita bandingkan puisi-puisi Amir Hamzah yang termaktub dalam buku
puisi Buah Rindu penerbit Dian Rakyat (Cetakan Kesepuluh, 1996), ada banyak puisi yang
menyatakan kerinduan dan cinta kasih. Si subjek seperti berbicara kepada seseorang atau
menujukan ungkapan kasihnya itu kepada subjek lain yang disebut Adinda. Namun, adinda
siapa dia? Adinda yang bagaimana ciri-cirinya? Apa laku yang khas dari Adinda yang
disebutkan itu? Hal itu tidak bisa kita temukan jawabnya sebab Adinda yang tampak dalam
puisi-puisi Amir Hamzah adalah Adinda yang dimiliki oleh siapa pun yang merasa perlu
menalikan diri dengan dunia aku-Amir Hamzah. Adinda yang diletakkan dalam keumuman.
Pada puisi-puisi Chairil Anwar, siapa yang disebut Adinda atau perempuan yang
merisaukan maupun memberi denyut riang pada si subjek disebut dalam beragam nama, seperti
Sri Ajayati, Mirat, Dien Tamaela, Ina Mia, Ida, dan Gadis Rasid. Dari tiap penyebutan nama
itu pula punya masing-masing gaya ungkap yang berlainan. Dari sini kita bisa melihat kebaruan
yang ditawarkan Chairil Anwar: sosok individu berdiri di bawah benderangnya masingmasing, diterangi corak pribadinya sendiri-sendiri yang sangat berbeda dengan pribadi umum
puisi-puisi era Pujangga Baru.
Nuansa individualis tetap tercermin dalam puisi-puisi Chairil Anwar yang menyertakan
relasi dengan subjek lain. Kesan individualitas yang menekan tidak hanya bisa dilihat dari segi
isi, tetapi juga terlihat dari tipografi atau struktur luar puisi, contohnya dalam puisi Hampa ada
beberapa kali repetisi kata sepi yang tidak hanya tersusun dalam satu bagian larik, tetapi ada
yang berdiri sendiri sebagai patahan frasa. Hubungan si subjek puisi dengan individu lain
seringnya diwarnai ketidaksepakatan, kecurigaan, penyangkalan, sikap awas, hukuman,
perseteruan, dan apa-apa yang menampik kebersamaan.
Di awal telah disinggung perihal Chairil Anwar yang tak ragu-ragu membawa dunia
pribadinya ke hadapan dunia yang sedang menyeru nyaring perihal “perjuangan” dan
“kemerdekaan” bangsa. Dalam dua puisi ini: Ina Mia dan Buat Gadis Rasid, nyatanya apa yang
pribadi itu tidak sepenuhnya berdiri sendiri, ia juga bersilangan dengan anasir-anasir yang
berhubungan dengan pengertian perjuangan demi kemerdekaan bangsa itu. Akan tetapi,
keduanya baik yang pribadi maupun yang solider tidak lantas tampil begitu gegas sebab
keduanya tersamar melalui dunia kosmos atau jagat raya lewat diksi-diksi alamnya.
Di antara serdadu (simbol bagian sebuah otoritas) yang tampil sekilas dalam puisi Ina
Mia, ada alam yang tetap pada lakunya: pagi, daun-daunan mengelabu, hijau rumput. Begitu
pula yang terdapat pada puisi Buat Gadis Rasid gambaran kuasa kosmos jagat raya dengan
kuasa otoritas lebih terang terlihat. Bangsa muda menjadi, baru bisa bilang “aku”, bangsa
muda yang baru jadi seperti hanya bagian kecil di tengah padang lapang dan terang/juga anak
kecil tidak bersalah, baru bisa lari-larian//. Ada daerah yang dikosongi dalam keadaan alam
dengan angin tajam kering, tanah semata gersang.
Ada kesan ketidakacuhan atas apa yang terjadi di sekeliling, baik dari sisi subjek di
kedua puisi tersebut maupun alam yang melingkupi suasana mereka. Sekalipun hal-hal besar
terjadi semacam kondisi peperangan yang sudah diwakili oleh fitur-fitur otoritas dalam dua
puisi ini, maka yang tampak besar dan menyiratkan kekacauan itu lantas tak berarti mereka
punya daya di hadapan suasana alam yang melingkupinya.
Apa yang dilakukan Chairil Anwar di beberapa puisinya yang individualis dan soliter
itu seakan sejenak menyingkir dari kekacauan zaman. Barangkali ia bisa dikatakan hendak
meminjam laku alam itu sendiri yang bergeming di hadapan peluru dan mesiu, tetap bersinar
dalam terang hijau daun atau terbaring di rangkuman pagi, seperti anak-anak kecil tidak
bersalah yang baru bisa lari-larian. Barangkali juga laku alam yang ditampilkan hendak
memberitahu bahwa kekacauan pendudukan oleh bangsa asing di negeri sendiri itu tidaklah
ada apa-apanya, kekuasaan mereka tidak akan pernah mampu menyamai kekuasaan dan
keluasaan jagat raya. Bahwa otoritas yang dibentuk manusia adalah sesuatu yang rentan, yang
kapan saja bisa jatuh melumer tak berbekas ke dalam pelukan alam. Kefanaan yang bisa rusak
sewaktu-waktu. Segalanya hanya menunggu masanya