Esai Pentingnya Sains Berbahasa Indonesia
Survei terbaru dari Programme for International Student Assessment (PISA) menunjukkan penguasaan sains anak-anak Indonesia masih jauh di bawah rata-rata negara ASEAN. Selama 18 tahun, Indonesia selalu menempati peringkat sepuluh terbawah dalam tes PISA sejak pertama kali ikut pada tahun 2000. Minimnya literatur sains berbahasa Indonesia yang beredar di ruang publik menjadi salah satu penyebabnya. Program menggalakkan penulisan dan penerjemahan buku-buku sains wajib dilakukan demi menyonsong Indonesia Emas 2045.
Meski sejak di bangku sekolah dasar hingga universitas belajar mengenai sains, tetapi kegugupan dan kebingungan masih terlihat di kalangan masyarakat. Lulusan sekolah kita masih berada di tataran paling dasar dalam taksonomi Bloom, yaitu sebatas menghafalkan informasi. Sementara itu, daya nalar, kemampuan analisis, dan kreativitas yang menjadi modal dalam mempelajari sains jarang diasah di sekolah.
Metode belajar mengajar guru yang tidak tepat, diperparah dengan minimnya pembuatan literatur bertema sains. Sebagai contoh, pada tahun 2018, dari 68.290 buku yang diterbitkan, sebagian besar masih diisi buku fiksi seperti novel, sedangkan buku sains karya penulis Indonesia nyaris tidak ada. Jika ada, buku itu adalah karya terjemahan yang jumlahnya juga masih sedikit. Literatur utama pengajaran sains di universitas pun masih banyak dituliskan penulis luar dan tersaji dalam bahasa Inggris. Hal ini menyebabkan sulitnya masyarakat terpapar dengan isu-isu seputaran sains.
Masih teringat dua tahun lalu, bagaimana Indonesia kewalahan menghadapi pandemi COVID-19. Ketika pemerintah mengumumkan kebijakan jaga jarak, pakai masker ataupun kewajiban vaksin, masyarakat tidak memahami mengapa harus melakukan hal demikian. Apalagi diperkeruh dengan munculnya berbagai kelompok antisains, seperti kelompok antivaksin dan antimasker. Mereka berkeyakinan vaksinasi hanya konspirasi dari elit global untuk mengurangi populasi penduduk bumi. Ada juga yang mengatakan jika vaksin akan memicu sakit dan kecacatan hingga tudingan rekayasa industri yang hanya mencari keuntungan finansial.
Belajar dari Masa Lalu
Jika ingin meningkatkan literasi sains, maka langkah yang dapat ditempuh dengan memopulerkan sains di tengah masyarakat. Di luar negeri, banyak ilmuwan yang memelopori gerakan seperti ini semisal Carl Sagan, Stephen Hawking, Michio Kaku, hingga Neil deGrasse Tyson. Mereka tidak hanya menulis sendiri buku-buku sains, namun juga tampil rutin mempromosikannya dalam sejumlah acara televisi dengan bahasa yang dimengerti masyarakat.
Sejarah juga membuktikan bahwa tidak ada negara yang maju tanpa dibarengi kemauan masyarakatnya untuk belajar sains. Kita dapat belajar dari Dinasti Abbasiyah, China hingga Jepang yang berhasil menerjemahkan sains dari negara Barat ke dalam bahasa negaranya masing-masing. Dinasti Abbasiyah menuliskan ulang semua sains dari bahasa Yunani Kuno, Suriah, Persia Tengah, dan Sansekerta ke dalam bahasa Arab. Demikian juga dengan China dan Jepang yang masing-masing menerjemahkannya ke bahasa Mandarin dan Jepang.
Ambil contoh, Dinasti Abbasiyah, yang menjadi pusat sains di dunia pada abad kedelapan. Pada periode awal pemerintahan, hanya sedikit masyarakat Abbasiyah yang memiliki kemampuan literasi sains. Karena kondisi itu, pemimpinnya, Al-Ma’mun (memerintah 813--833) membangun Baitul Hikmah yang ditujukan menjadi pusat pembelajaran, perpustakaan, riset, dan penerjemahan buku-buku. Ribuan buku sains dari peradaban terdahulu seperti Yunani, Romawi, Persia, Aramaik, India, dan China dikumpulkan di tempat ini, lalu diterjemahkan ke dalam bahasa Arab untuk disebarluaskan dan dipelajari masyarakat.
Hasilnya pun paling tidak ada dua hal. Pertama, mayoritas masyarakat Abbasiyah menjadi lebih melek sains. Mereka memiliki kemampuan membaca dan memahami sains serta dapat menuangkannya ke dalam gagasan atau teknologi baru. Kedua, diseminasi sains bisa berjalan cepat sampai ke pelosok yang berimplikasi pada perkembangan sains yang begitu cepat hingga masa Abbasiyah dijuluki sebagai masa keemasan agama Islam.
Sains Berbahasa Indonesia
Setelah pandemi ini, tidak hanya para saintis dan lembaga riset yang ditugaskan memperkuat pengetahuan sains masyarakat namun, instansi pengembangan literasi, seperti Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kantor Bahasa, Balai Bahasa, dan Perpurnas juga perlu berkontribusi, terutama dalam meningkatkan penulisan dan penerjemahan buku sains dasar ke dalam bahasa Indonesia.
Sebagai bahasa resmi, bahasa Indonesia mesti digunakan sebagai bahasa publik, pengantar pendidikan, komunikasi tingkat nasional, sarana pengembangan sains, teknologi, seni, dan bahasa media massa sesuai Pasal 25 ayat 3 UU No. 24 Tahun 2009. Memaksakan penggunaan buku-buku berbahasa Inggris hanya akan membuat penyebarluasan sains menjadi tambah sulit sebab hanya segelintir masyarakat yang memiliki literasi bahasa Inggris. Oleh karena itu, dengan cara ini, sulit untuk meningkatkan literasi sains secara masif hingga ke pelosok-pelosok desa.
Meski begitu, harapan memopulerkan sains masih ada, melihat akhir-akhir ini, minat masyarakat terhadap buku-buku sains populer mulai tumbuh. Terutama sejak buku Yuval Noah Harari, Homo Sapiens diterjemahkan penerbit Gramedia ke dalam bahasa Indonesia pada 2017. Buku-buku terjemahan sains populer lainnya juga mulai banyak diminati masyarakat. Fenomena ini mestinya dibaca sebagai peluang untuk menggalakkan literasi sains di Indonesia. Artinya, minat terhadap sains sebenarnya ada dan bisa ditumbuhkan dengan memperbanyak literatur-literatur berbahasa Indonesia di ruang publik.
Mengindonesiakan literatur sains dapat dilakukan melalui gerakan nasional dari pemerintah melalui kerja sama antarlembaga, seperti Kemendikbudristek, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Balai Bahasa, Kantor Bahasa, Perpusnas, dan juga lembaga riset. Para dosen dan peneliti dapat menyodorkan literatur utama yang mesti dibaca dan dikuasai dalam setiap bidang sains untuk diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Pemerintah Indonesia juga perlu mengalokasikan anggaran yang cukup untuk mendukung kegiatan penerjemahan ini. Bayangkan jika semua dosen dan peneliti dapat menulis atau menerjemahkan satu buku, maka Indonesia dapat menghasilkan ribuan buku sains berbahasa Indonesia dalam setahun. Jika gerakan ini sukses, ke depan bukan tidak mungkin kita akan melihat generasi-generasi Indonesia Emas 2045 dengan kecakapan sains mempuni seperti masyarakat Abbasiyah pada masanya.