Esai Sastra Terjemahan: dari Diplomasi Kultural hingga Soal Garapan
Dalam sebuah kesempatan, seorang sastrawan dan budayawan, Iman Budhi Santosa, pernah menyinggung soal keterkaitan antara industri pariwisata dan sastra kita. Persinggungan ini ia tulis dalam esainya yang berjudul “Prospek Pemasaran Sastra di Sektor Pariwisata”. Esainya itu membeberkan seputar harapan agar produksi karya sastra kita dapat dibaca khalayak wisatawan mancanegara saat berkunjung ke berbagai objek wisata di Indonesia. Baginya, ini menjadi semacam momentum memberikan gambaran tentang realitas kebudayaan kita kepada mereka.
Sastra punya peran penting menjembatani persilangan antarbudaya. Tidak sedikit sastrawan kita mentransformasi kesadaran kreatif itu dalam sebagian besar karya-karyanya. Garapan berlatar kebudayaan local dan momen-momen kemanusiaan di daerah telah banyak disentuh sastrawan besar, seperti Seno Gumira Ajidarma, Kuntowijoyo, Hamsad Rangkuti, hingga Danarto. Generasi penulis mutakhir pun sudah selaykanya turut ambil bagian menggarap unsur serupa.
Apa yang diharapkan Iman Budhi Santosa itu—dalam konteks yang lebih luas—tidak hanya menyangkut soal kaitannya dengan industrialiasi sastra. Melebihi itu, ada harapan agar sastra kita kelak terus menjadi perhatian khalayak sastra internasional untuk mencapai suatu diplomasi kultural. Tentu tidak mudah untuk mencapai tahap ini karena ada berbagai persoalan yang cukup krusial seperti persoalan kompetensi penerjemah sastra Indonesia ke bahasa asing hingga soal penggarapan.
Munculnya karya sastra berlatar sosial-kebudayaan tanah air, di satu sisi, menjadi angin segar yang patut diapresiasi. Akan tetapi, jangan lupa, kenyataan seperti itu mesti berbanding lurus dengan upaya meningkatkan kualitas penerjemahan kita. Jika tidak begitu, muskil karya sastra kita dapat diterima dengan baik di relung bangsa lain.
Agar Mencapai Diplomasi Kebudayaan
Menekuni dunia penerjemahan sastra bukanlah hal yang mudah. Butuh keseriusan dan ketekunan tingkat tinggi. Tidak cukup hanya menguasai bahasa asing, seorang penerjemah sastra mesti tertungkus lumus mempelajari suatu kebudayaan di mana karya sastra tersebut lahir. Jika tidak begitu, cita rasa kualitas terjemahan yang dihasilkan cenderung arbitrer, kaku, dan apa adanya.
Seperti yang dilakukan Ronny Agustinus, pendiri Marjin Kiri, ia mengabdikan diri sebagai seorang penerjemah sastra Amerika Latin. Anton Kurnia, sastrawan sekaligus penerjemah, pun menaruh perhatian besar terhadap karya-karya besar sastrawan dunia yang merentang dari Asia hingga Eropa, dan Afrika hingga Amerika Latin. Bertahun-tahun keduanya menetap di tanah kelahiran penulis macam Gabriel Garcia Marquez, MaioVargas Llosa, Milan Kundera, serta banyak penulis besar lainnya hanya untuk mempelajari kebudayaan setempat, di samping menerjemahkan karya-karyanya.
Lalu, bagaimana jika karya sastra kita diterjemahkan ke bahasa asing? Jawabannya tentu sama. Harus ada penerjemah yang kompeten menerjemahkan karya-karya sastrawan terbaik kita. Hal tersebut bisa dimulai dari kalangan penerjemah kita sendiri. Jika perlu dan bersedia, sastrawan kita juga mesti turut ambil bagian dari laku kreatif macam itu.
Kita mesti meniru beberapa negara yang getol mempromosikan karya sastra mereka ke khalayak internasional, seperti Polandia, Turki, Hongaria, dan Slovenia. Hal yang sama terjadi di beberapa negara Asia, seperti Korea Selatan dan Malaysia. Salah satu kesuksesan negara-negara tersebut dalam mempromosikan karya sastra mereka ke khalayak internasional karena didukung dengan adanya lembaga penerjemahan. Korea Selatan memiliki Literature Translation of Korea (LIT Korea). Turki memiliki lembaga penerjemahan yang didukung sepenuhnya oleh kementrian kebudayaan mereka. Malaysia sejak 1970-an memiliki ITBM (Institut Terjemahan dan Buku Malaysia).
Ekosistem sastra Indonesia sebenarnya sudah didukung dengan merebaknya berbagai penerbit buku-buku sastra serta memiliki lembaga penerjemahan, yaitu Himpunan Penerjemah Indonesia (HPI). Namun, kenyataannya masih perlu disorot kembali tatkala dari tahun ke tahun karya penulis kita yang diterjemahkan ke bahasa asing tidak seberapa. Padahal, Anton Kurniadalam tulisannya yang berjudul “Upaya Menembus Pentas Dunia” pernah menyinggung soal ini. Untuk mencapai suatu diplomasi kultural, produktif menerjemahkan karya-karya terbaik kita ke dalam bahasa-bahasa penting dunia menjadi satu hal yang harus dilakukan.
Melalui Kemdikbudristek, pemerintah punya peran besar merealisasikan hal tersebut. Menaja program peningkatan mutu penerjemah sastra serta menggandeng berbagai lembaga penerbit akan menjadi strategi yang efisien menunjang produktivitas reproduksi penerjemahan karya sastra kita ke dalam berbagai bahasa penting di dunia.
Perlu diingat, produktivitas mesti berbanding lurus dengan kualitas. Untuk mencapai tingkat kualitas terjemahan yang diharapkan, kita tidak boleh mengabaikan peran kritikus sastra. Pada dasarnya, sehebat apa pun kompetensi penerjemah sastra kita, tanpa melibatkan peran seorang kritikus, muskil akan menghasilkan karya terjemahan yang bermutu dan layak dibaca.
Hal yang juga tidak kalah penting dipertimbangkan ialah soal garapan. Dalam konteks diplomasi kultural, tentu tidak semua karya sastra kita layak untuk diterjemahkan ke dalam bahasa asing. Sebab, yang hendak kita suguhkan ke perjamuan sastra dunia untuk mencapai suatu diplomasi kultural adalah sastra dengan garapan tema-tema khas keindonesiaan. Betapa banyak momentum yang berterbaran di sekitar kita. Eksplorasi kekayaan kultural, sederet memori kolektif tragedi masa lalu, unsur lokalitas; hingga potret kehidupan wong cilik merupakan ladang subur inspirasi yang sudah selayaknya digarap untuk menghasilkan karya besar.
Untuk itulah, seorang sastrawan yang hendak memasuki arena tersebut, tidak cukup hanya sekadar terampil mengolah kata sebagai salah satu unsur penting dari sebuah karya. Sastrawan juga dituntut untuk mengobservasi dan meriset secara intens. Sebab, dalam proses yang intens tersebut, akan banyak dijumpai momen-momen puitik, peristiwa langka, misteri kehidupan, serta pusparagam kasus menarik lainnya yang potensial untuk diangkat dalam karya sastra.
Sudah saatnya karya sastra kita dengan sederet penggarapan khas keindonesiaan itu menjadi pusat perhatian dunia. Bukan tidak mungkin beberapa tahun ke depan, tentu dengan upaya serius menerjemahkan, ekosistem sastra kita akan jadi medium efektif dalam membangun silang gagasan kultural antarbangsa. Dengan begitu, karya sastra kita akan dibaca, diseriusi, dan dikaji bangsa lain sebagai salah satu bentuk diplomasi kultural. Semoga.