Cerpen Tak Ada Rahasia di Sini
Maafkan aku, Marina.
Surat yang kaukirim sudah barang tentu tidak akan pernah lagi sampai pada tujuan yang kauharapkan. Entah kenapa, setiap kali surat yang kautulis lantas kaukirim selalu menarik perhatianku. Tidak ada alasan yang jelas mengapa aku selalu tertarik pada surat-surat itu, tapi makin banyak membaca, kegelisahanku semakin menjadi-jadi.
Di kamp ini, semua lalu lintas surat selalu melewati pemeriksaan. Tentu kau tahu, akulah yang menjadi petugas pemeriksa itu. Di kamp ini, semua rahasia, aku mengetahuinya, termasuk para tahanan dan juga penjaga yang mengirim ataupun menerima surat. Aku telah membaca semuanya. Itulah salah satu tugasku di sini dan aku satu-satunya yang ditugaskan untuk mengurus surat. Sebab saat ini, tak banyak yang mau bergelut dengan huruf-huruf karena huru-hara lebih menarik dari itu semua. Tidak banyak orang yang mau membaca. Menghadapi kehidupan nyata lebih penting daripada harus mengurusi surat dan kata-kata.
Kegetiran lekat dengan tempat ini. Hampir semua surat selalu lekat dengan cerita-cerita menyedihkan. Dan paling banyak berisi tentang keluhan-keluhan. Di kamp konsentrasi ini, muncul rasa benci dan juga dendam. Di balik itu semua, sebagian tahanan telah membiasakan diri dan mulai akrab dengan keadaan. Salah satunya kau yang mulai terbiasa dengan keadaan di Kamp Plantungan ini, Marina.
Aku tahu, kau sebenarnya tak benci-benci amat dengan kamp konsentrasi ini. Kau menyadari bahwa penjara di sini bukanlah sebenar-benarnya penjara, melainkan kauanggap sebagai taman luas juga hutan-hutan yang asri, rindang, dan juga teduh. Di sini, semua dibebaskan untuk menghirup udara segar dan melakukan semua hal meski juga diawasi. Hanya saja, lahan di sini terbatas atau lebih tepatnya dibatasi dengan kawat berduri. Di balik keterbatasan itu, kau dan teman-temanmu tampak asyik merawat lahan dan menanam berbagai jenis kembang aneka warna. Apa sejatinya perempuan memang menyukai keindahan?
Di sisi lain, aku tahu bahwa penderitaan yang kaurasakan juga teramat menyedihkan. Di bekas rumah sakit penderita lepra ini, hampir semua orang menderita, Marina. Kautahu itu sebab kau yang mengobati teman-temanmu dan beberapa temanku. Saat aku mengantar obat, aku juga merasakan kesedihan yang terpancar dari raut wajahmu, juga kelompak matamu yang cekung dan kosong itu. Penderitaan yang kupikir itu adalah sesuatu yang sengaja ditahan dan dirahasiakan dari orang lain.
Itu bukan alasan untuk satu hal penting ini, yaitu aku telah jatuh cinta. Ya, jatuh cinta padamu. Jika cinta adalah bahaya, aku adalah bahaya yang pantas diwaspadai. Jika cinta adalah embun pagi, akulah sejukmu. Aku meyakini itu, Marina. Rasa cinta yang tumbuh tak lain berkat perjumpaan yang teramat sederhana ketika kita berpapasan di bangsal nomor 06. Aku melihat kau mengobati telapak tangan temanmu saat itu. Aku datang membawakan obat-obatan yang kau perlukan. Lalu saat itu pula, entah apa namanya, entah apa yang terjadi, ada sesuatu yang aneh muncul dalam diriku.
Pada akhirnya, kuputuskan untuk mencari tahu semua tentangmu dan yang kutemukan adalah kau rajin menulis dan mengirim surat untuk suamimu. Aku membaca semuanya. Kautahu, Marina, semakin kau mengutarakan kejadian-kejadian di sini melalui surat pada suamimu, aku semakin memahami satu hal yang terus kauulang pada surat itu. Satu kalimat sederhana, tetapi selalu kautuliskan berulang kali ketika kaukirimkan surat untuk suamimu.
“Tolong rahasiakan ini!”
Entah mengapa aku sedikit bingung dengan kalimat itu. Memang apa yang dirahasiakan di sini?
Jujur, aku menaruh curiga ketika surat-suratmu selalu terselip kalimat itu. Sebenarnya ada masalah apa antara kau, suami, dan orang-orang di sekitarmu. Apa kau khawatir dengan cap yang lekat denganmu sebagai Gerwani atau orang PKI? Atau, mungkin kau tak enak hati pada orang-orang atas kejadian yang menimpamu dan pada akhirnya menjadi tahanan di kamp konsentrasi ini?
Aku membaca semuanya, Marina. Aku bukan bermaksud menghianati atau menjadi penjahat. Jujur, aku telah jatuh cinta padamu dan tergila-gila pada kecantikanmu. Sejak pertama kali bertemu di bangsal nomor 06 itu, cinta membumbung di hatiku. Tumbuh begitu subur seperti halnya kembang yang ditanam orang-orang di sini. Itulah perasaanku saat ini.
Amplop kecoklatan kusam yang kaugunakan untuk mengirimkan surat-suratmu kini menumpuk di lemari jagaku. Aku telah membaca semuanya sejak jatuh hati padamu, sekali lagi kupastikan bahwa apa yang kautulis kini tak akan lagi sampai ke tujuannya. Aku bersumpah untuk diriku dan juga perasaan cintaku padamu. Namun, aku masih bingung dengan apa maksud kalimat yang kautuliskan berulang itu. Rahasia apa memangnya yang perlu kausembunyikan?
Semua orang tahu, Marina, untuk mengantar orang sampai di sini sangat mudah. Juga ke tempat-tempat lainnya semacam ini. Semua orang tahu, dengan jari telunjuk, apa pun bisa terjadi. Semua orang tahu kalau untuk menjadikan perempuan cantik yang disukai atau diincar sejak lama dengan tujuan memilikinya cukup menunjuk dengan jari dan berkata Dia PKI pada suaminya atau Dia Gerwani jika rasa cinta ditolak. Kau tahu, akulah orang yang menyeret orang-orang dalam daftar dari proses telunjuk jari itu dan di antaranya sampai di Plantungan ini, Marina.
Tak ada yang perlu dirahasiakan di sini, Marina. Juga di luaran sana. Rahasia yang kautakutkan dan kauperintahkan kepada suamimu untuk menjaga rahasia itu hanya sia-sia belaka. Semua orang tahu atas kejadian ini. Hanya saja, semua orang lebih memilih bermain aman agar tidak terlibat atau terseret arus. Demi menghindari penderitaan yang sewaktu-waktu bisa muncul. Daripada masuk dalam pusaran penderitaan itu, semua orang memilih diam.
Aku juga meyakini bahwa di luar sana, suamimu juga tidak peduli padamu. Suamimu yang hanya seorang pencatat di kelurahan bahkan mungkin saja membersihkan namanya dari keterlibatanmu. Ia bisa saja berlindung di balik ketiak Pak Lurah atau sengaja membuang namamu jauh-jauh dari dirinya. Surat balasan yang ia kirim padamu hanya basa-basi semata agar tak menyakitimu. Jadi rahasia yang kausembunyikan itu hanyalah sia-sia saja.
Tapi ada rahasia yang mungkin semua orang tidak tahu, yakni aku jatuh cinta padamu. Aku mencintaimu, Marina. Aku tahu rasa cinta ini berbahaya. Akan tetapi, rasa cinta ini juga yang mungkin akan menyelamatkanmu dari kamp konsentrasi ini. Aku berani menjamin jika kau berhenti menulis surat dan mengalihkan perhatian dari alamat tujuan suratmu kepada diriku. Aku menjamin itu. Tak akan ada rahasia di sini dan juga di luaran sana. Pada akhirnya, tak akan ada rahasia lagi di sini. Benar-benar tak ada rahasia.