Tradisi Lisan Bima-Dompu: “Biola Katipu” di Masa Sekarang

Tradisi lisan adalah pesan atau kesaksian yang disampaikan secara turun temurun dari satu generasi ke generasi lainnya. Pesan atau kesaksian itu disampaikan dalam berbagai cara, seperti  melalui ucapan, pidato, nyanyian, pantun, cerita rakyat, nasihat, balada, atau lagu. Salah satu tradisi lisan Bima-Dompu yang masih ada hingga sekarang adalah Biola Katipu. Biola Katipu adalah salah satu seni musik yang mulai berkembang di era 2000-an di wilayah Bima-Dompu. Seni musik ini sangat diminati oleh masyarakat Bima-Dompu, mulai dari anak-anak sampai dewasa. Alat musik dalam Biola Katipu terdiri atas biola, sejenis gitar atau lebih sering disebut gambo, sementara katipu artinya rebana. Biola Katipu dimainkan oleh satu orang pria dan satu wanita dewasa, mengiringi suara khas biola yang nyaring dan suara vokalis yang lantang. Sebelum lagu Bima (Rawa Mbojo) hadir, Biola Katipu sudah populer di era 2000-an karena Biola Katipu selalu digunakan oleh masyarakat Bima-Dompu pada acara-acara pernikahan, syukuran, khitanan, dan acara-acara lain. 

 
Biola Katipu dinyanyikan menggunakan bahasa daerah Mbojo, atau disebut Rawa Mbojo. Rawa Mbojo merupakan salah satu bagian dari kesenian Mbojo sebagai buah cipta, rasa dan karsa orang dari suku Mbojo selama berabad-abad. Rawa Mbojo atau nyanyian orang Mbojo (Bima) mengisi wajah budaya Mbojo dalam berbagai bentuk kegiatan. Rawa Mbojo selalu menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Mbojo. Senandung Rawa Mbojo dinyanyikan secara spontan dan disesuaikan dengan kondisi dan keadaan. Lagu dalam Rawa Mbojo berisi puisi dan pantun yang sarat akan pesan moral dan agama sehingga menarik minat masyarakat Bima untuk menyimaknya. Keindahan bunyi musik Biola Katipu diperoleh dari perpaduan indah antara musik biola, katipu (ketipung), gambo (gambus), gitar bas, daf dan Rawa Mbojo yang menjadi ciri khasnya.
 
Biola Katipu juga merupakan salah satu seni musik vokal warisan leluhur dana Mbojo. Lagu-lagu yang dibawakan dalam kesenian Biola Katipu berisi pantun yang dalam masyarakat Mbojo dikenal dengan istilah Patu Cambe. Syair-syair dalam Patu Cambe terdiri atas pantun muda-mudi (asmara), nasihat, jenaka, sindiran hingga kritik. Diperlukan keahlian khusus untuk menjadi penyanyi Patu Cambe, termasuk violisnya karena ia pun harus menjawab pantun yang dilempar penyanyi perempuan. ‘Jual-beli’ pantun akan menimbulkan kemeriahan dan sorakan penonton jika salah satu pihak berhasil membalas pantun yang dilempar, begitu pula sebaliknya. Hingga saat ini, Biola Katipu masih diminati, meski ada kekhawatiran akan bergesernya keaslian Rawa Mbojo. Kehadiran Biola Katipu di tengah masyarakat Bima-Dompu memang membawa perubahan pada nuansa dan khasanah musiknya. Namun patut disayangkan, banyak pantun Bima-Dompu yang ada dalam syair lagu-lagu pada seni musik Biola Katipu yang kurang mendidik. Akibatnya tidak jarang terjadi perkelahian ketika digelar acara yang menampilkan Biola Katipu. Semua ini tentu menjadi perhatian masyarakat Bima-Dompu, terutama para seniman dan tokoh masyarakat untuk meluruskan pantun yang menjadi syair lagu dalam Biola Katipu agar menjadi lebih berbobot, penuh nilai, dan pesan moral serta mendidik. Selain syair lagu yang banyak berubah, perpaduan antara alat musik yang digunakan juga kadang divariasikan dengan gendang, gitar, rumbia serta suling. Masyarakat Bima-Dompu menyebut ini sebagai kesenian Biola Katipu kreasi baru. Biola Katipu kreasi baru ini  mengombinasikan alat musik biola dan gendang yang merupakan penghasil bunyi khas musik dangdut. Personelnya lebih dari dua orang sesuai dengan alat musik yang dimainkan. Karena berkolaborasi dengan musik dangdut, irama dan tempo musiknya relatif cepat dan rancak. Lagu-lagu yang dinyanyikan pun tidak melulu lagu tradisional Patu Cambe, tetapi juga lagu dangdut, termasuk versi koplo atau remix. Akan tetapi, di masa sekarang seni musik Biola Katipu semakin jarang dihadirkan dalam acara pernikahan karena hadirnya musik modern.