Puisi-puisi Reni Asih Widyastuti

Menjalin Keheningan

oleh: Reni Asih Widiyastuti

 

Menjalin keheningan

di antara desau angin malam.

Jarum yang kugunakan begitu runcing

hingga tanpa terasa satu telah terjulur.

Seiring waktu yang kian menanjak

Ia memakai kakinya dengan hati-hati.

"jangan berisik," kataku.

Sebab anak-anak tengah menyusuri

sungai mimpi ciptaan mereka sendiri.

 

Ditambah pula tugas masih seolah

tersenyum mengejek.

Aku melipat sisa-sisa harum tubuh

secara rapi dan menatanya

di bagian yang telah ditentukan.

Untung saja telinga berhasil menangkap

barangkali ia memiliki tangan

sehingga alunan indah mampu bersarang

di dalamnya.

Semarang, 25 Juli 2022

 

Berperang

oleh: Reni Asih Widiyastuti

 

Begitu malas meladeni segala ucap

mulut tak berpagar; duri dan besi

sementara raut wajah berselimut angkuh

memerintah dengan seenaknya.

 

Apa engkau mengajak berperang?

Keluarkan segala senjata itu

pisau, pistol, panah, tombak

akan kutepis dengan kekuatan doa.

 

Lebih baik pergi mencari ketenangan

di tingkat dua, semilir angin menyambut

berharap api tak kian membakar

amarah dalam dada.

 

Ketika engkau telah pergi dari pandangan

justru hati terasa damai; tenteram

mungkin memang sendiri sangat nikmat

daripada terus melawan kesumat.

Semarang, 28 Juli 2022

 

Dinding

oleh: Reni Asih Widiyastuti

 

Putih namun ternoda bekas tempias hujan

diam mendengarkan meski tak bertelinga

mulut tak diketahui di mana letaknya

tetapi mampu lenggangkan segala cerita.

 

Orang-orang tergelak, mencemooh, mencibir

perempuan dicerai; langkah kaki gontai

lelaki dipecat; kecewa mencuat

merambat lewat udara.

 

Banyak yang bersandar padanya

kala lelah dan penat mengungkung

kepala bagai bohlam-bohlam

serupa kelelawar; bergelantung.

 

Tak ada dinding yang benar-benar murni

tubuhnya telah berlumur provokasi

menguarkan aroma gunjing

tiada henti hingga mulut itu mati.

Semarang, 27 Juli 2022