Analisis Kesulitan Siswa Memahami Konsep Kata Baku dan Tidak Baku dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia di Kelas VII SMP Negeri 50 Batam
Bahasa memiliki peran yang sangat penting dalam interaksi sehari-hari, yakni memungkinkan individu untuk bertukar ide, konsep, dan pesan, yang pada gilirannya mempermudah interaksi antarsesama. Berdasarkan observasi yang dilakukan di SMP Negeri 50 Batam, para peneliti menemukan adanya masalah dalam pembelajaran terkait penggunaan bahasa baku dan nonbaku oleh guru. Saat ini, banyak siswa SMP yang tampaknya belum sepenuhnya memahami perbedaan antara bahasa baku dan tidak baku. Hal ini bisa berpengaruh buruk terhadap hasil belajar siswa, salah satunya nilai tidak mencapai nilai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif yang dilakukan pada siswa kelas VII di SMP Negeri 50 Batam. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui sejauh mana penguasaan siswa terhadap materi mata pelajaran Bahasa Indonesia. Data dikumpulkan melalui studi pendahuluan yang melibatkan pemberian soal tentang kata baku dan tidak baku kepada seluruh siswa kelas VII. Sampel penelitian terdiri atas 10 siswa, 5 laki-laki dan 5 perempuan, yang berusia antara 13—14 tahun. Untuk membantu siswa lebih baik dalam membedakan antara kata baku dan tidak baku, disarankan agar pihak sekolah melakukan evaluasi terhadap metode pengajaran yang diterapkan. Metode yang lebih interaktif dan menarik bisa menjadi cara efektif untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi.
Kata Kunci: Kata Baku, Tidak Baku, Bahasa Indonesia, Kelas VII SMP Negeri 50 Batam
Abstrack
Language plays a crucial role in daily communication, as it allows individuals to share ideas, concepts, and messages, thus facilitating interaction between people. Based on the observation conducted at SMPN 50 Batam, the researchers found a problem in learning related to the use of standardized and non-standardized language by teachers. Currently, junior high school students seem to lack understanding of the difference between standardized and non-standardized language, which can have a negative impact on their learning outcomes, which often fall below the Minimum Completion Criteria (KKM) score. This research is qualitative in nature with a descriptive approach, carried out on grade VII students at SMP Negeri 50 Batam, with the aim of understanding the extent to which students master Indonesian language materials. Data was collected through preliminary study which included giving questions to all seventh-grade students about standard and non-standard words. The research sample consisted of 10 students (5 boys and 5 girls) aged between 13 to 14 years old. To improve students' ability to distinguish between standard and nonstandard words, it is recommended that schools evaluate the teaching methods used. Applying more interactive and interesting methods can help students understand the material better.
Keywords: Standard, Nonstandard Words, Indonesian Language, Class VII SMP Negeri 50 Batam
PENDAHULUAN
Kemampuan untuk mengomunikasikan ide, konsep, dan pesan kepada orang lain melalui bahasa sangat penting dalam proses komunikasi sehari-hari yang pada gilirannya mendorong hubungan interpersonal. Menurut Gunawan (2023), anak-anak harus belajar bahasa Indonesia. Saat ini, metode Kurikulum Merdeka digunakan untuk mengajarkan berbagai mata pelajaran kepada siswa kelas VII hingga VIII SD. Setiap mata pelajaran tercakup dalam program ini. Berbagai disiplin ilmu diajarkan di sekolah menengah pertama (SMP) dan bahasa Indonesia merupakan salah satu yang paling penting. Sebagai bahasa pengantar utama di Indonesia, pemahaman yang baik terhadap bahasa Indonesia sangat krusial bagi siswa untuk dapat berprestasi di berbagai bidang akademik. Selain meningkatkan kemahiran berbahasa, pelajaran Bahasa Indonesia di SMP juga menambah pengembangan karakter dan kepribadian siswa. Belajar bahasa Indonesia dapat membantu siswa mengembangkan kreativitas, kemampuan berpikir kritis, dan rasa percaya diri. Mereka juga diajarkan untuk menggunakan bahasa dengan cara yang tepat dan sesuai konteks, yang sangat penting dalam interaksi sosial sehari-hari. Dengan demikian, pengajaran bahasa Indonesia di SMP memiliki dampak yang luas, baik dalam aspek akademik, maupun dalam pembentukan karakter siswa (Sari, 2024).
Ketika seseorang menggunakan bahasa dan kata-kata yang tidak sesuai dengan situasi, mereka melakukan kesalahan dalam berbahasa. Hal ini termasuk dalam penyalahgunaan bentuk ucapan dalam berbagai elemen linguistik, seperti kata, frasa, dan paragraf, yang tidak mematuhi norma bahasa Indonesia (Privana et al, 2021). Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mendefinisikan kesalahan sebagai suatu kekeliruan. Menurut Sutrisno dalam Salmina, M. (2017), kesalahan dapat dibagi menjadi tiga kategori, yaitu (1) kesalahan dalam memahami suatu konsep, (2) kesalahan dalam memahami hubungan antara konsep yang berbeda, dan (3) kesalahan dalam menerapkan konsep untuk memecahkan masalah. Kekeliruan dalam memahami konsep kata baku dan tidak baku dapat memiliki dampak signifikan terhadap kemampuan siswa dalam menulis kata dalam bahasa Indonesia.
Berdasarkan Keputusan Presiden No. 57 tahun 1972, penggunaan bahasa baku dan nonbaku dalam pengajaran bahasa Indonesia di tingkat SMP sangatlah penting. Aturan tata bahasa yang digunakan dalam Bahasa Indonesia harus mengikuti pedoman yang telah ditentukan (Sormin et al, 2024). Agar dapat mengungkapkan ide dan informasi dengan jelas dalam tulisan, siswa harus mengikuti kaidah ejaan dan tata bahasa yang telah ditetapkan. Dengan mematuhi aturan tersebut, mereka dapat belajar mengorganisasi kata, frasa, kalimat, dan paragraf yang menjelaskan serta mengembangkan konsep-konsep yang relevan dengan topik tertentu, serta menyusun kesimpulan dalam bentuk tulisan (Nurliati, 2024). Istilah baku adalah istilah yang memiliki struktur yang jelas (normatif), yang berarti harus sesuai dengan struktur kalimat bahasa Indonesia (Ermanto dan Emidar, 2018). Oleh karena itu, semua kata yang tidak ditulis sesuai dengan kriteria EYD dianggap sebagai kata yang tidak baku.
Hasil pembelajaran mengacu pada perubahan dalam perilaku dan kemampuan secara menyeluruh yang dialami siswa setelah mereka melalui proses belajar. Perubahan ini mencakup aspek afektif, kognitif, dan psikomotor. Transformasi ini terjadi sebagai hasil dari berbagai pengalaman, bukan hanya dari satu jenis potensi saja (Hasbullah, 2021). Berdasarkan observasi yang dilakukan di SMP Negeri 50 Batam, peneliti menemukan masalah terkait penggunaan bahasa baku dan tidak baku oleh guru selama pembelajaran. Penggunaan bahasa yang tepat masih kurang dipahami oleh siswa SMP saat ini sehingga berdampak pada hasil belajar mereka yang sering kali berada di bawah nilai KKM. Oleh karena itu, peneliti memilih judul "Analisis Kesulitan Siswa Memahami Konsep Kata Baku dan Tidak Baku dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia di Kelas VII SMP Negeri 50 Batam".
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dalam pendekatan kualitatif. Menurut Lexy J. Moleong (2000) yang mengutip dari Bogdan dan Taylor, penelitian kualitatif adalah suatu teknik yang menghasilkan data dalam bentuk deskripsi, baik tulisan maupun lisan mengenai individu dan tindakan yang sedang diamati. Selain itu, tujuan dari penelitian deskriptif adalah untuk menggambarkan atau menjelaskan berbagai kejadian yang terjadi saat ini, baik yang bersifat alami maupun yang merupakan hasil dari rekayasa manusia.
Penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 50 Batam, khususnya pada siswa kelas VII. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi pemahaman siswa dalam pelajaran Bahasa Indonesia. Dalam sebuah studi awal, semua siswa kelas tujuh diberi pertanyaan tentang penggunaan kosakata standar dan nonstandar untuk mengumpulkan data. Ada 10 siswa dalam sampel penelitian, 5 di antaranya laki-laki dan 5 di antaranya perempuan, dan mereka berusia antara 13 hingga 14 tahun. Convenience sampling, yakni sampel diambil secara acak tanpa perencanaan sebelumnya, adalah metode pengambilan sampel yang digunakan. Temuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa, menurut perspektif penulis, pemahaman siswa masih relatif rendah.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Ada beberapa masalah dalam pembelajaran bahasa Indonesia, terutama dalam membedakan antara istilah baku dan tidak baku, menurut temuan penelitian penulis, yang didasarkan pada pengamatan yang dilakukan saat memberi tugas yang berkaitan dengan kata-kata baku dan tidak baku. Sebagai bagian dari prosedur observasi penulis, siswa diminta untuk menulis dengan menggunakan kosakata baku dan tidak baku. Melalui kegiatan ini, penulis dapat mengamati secara langsung pemahaman siswa terhadap penggunaan bahasa yang benar. Hasil penulisan siswa menunjukkan variasi yang menarik dengan beberapa siswa berhasil menggunakan kata baku dengan baik. Sementara itu, siswa yang lain masih sering mencampurkan kata baku dan tidak baku. Observasi ini tidak hanya memberi wawasan tentang tingkat penguasaan kosakata siswa, tetapi juga mencerminkan kesadaran mereka akan pentingnya penggunaan bahasa yang tepat dalam konteks formal.
Salah satu hal utama yang dapat menyulitkan anak-anak dalam memahami sumber bahasa adalah konteks rumah mereka, terutama dalam hal membedakan kosakata baku dan tidak baku. Lingkungan keluarga memiliki dampak yang signifikan terhadap bagaimana anak-anak memperoleh keterampilan linguistik. Ketika anak-anak dibesarkan di lingkungan dengan anggota keluarga menggunakan bahasa yang tidak mengikuti pedoman Ejaan Yang Disempurnakan (EYD), hal ini dapat menimbulkan kebingungan dan kesulitan dalam memahami konsep bahasa yang benar. Komunikasi verbal di dalam keluarga sering kali menjadi fondasi bagi pembelajaran bahasa pertama anak. Apabila anggota keluarga berbicara dengan menggunakan bahasa sehari-hari yang tidak mematuhi kaidah EYD, anak cenderung akan meniru cara berbicara tersebut. Misalnya, penggunaan istilah slang, bahasa daerah, atau penyimpangan dari tata bahasa baku dapat menjadi hal yang biasa dan diterima dalam interaksi keluarga.
Sebagai akibatnya, anak mungkin tidak terbiasa mendengar atau menggunakan kata-kata baku yang seharusnya mereka pelajari di sekolah. Ketika siswa menghadapi pembelajaran di sekolah yang mengharuskan mereka memahami dan menggunakan kata baku, mereka sering merasa bingung. Kebingungan ini muncul karena mereka telah terbiasa dengan penggunaan kata tidak baku dalam kehidupan sehari-hari. Contohnya, jika di rumah mereka lebih sering mendengar kata “gak” dibandingkan “tidak”, mereka akan mengalami kesulitan saat diminta untuk beralih ke bentuk baku ketika menulis atau berbicara secara formal di sekolah. Siswa kelas VII di SMP Negeri 50 Batam mengalami kesulitan dalam membedakan antara kata baku dan tidak baku, yang mengakibatkan adanya ketidaksesuaian antara pembelajaran di sekolah dan pengalaman mereka dalam interaksi sosial sehari-hari. Dalam analisis kategori pemahaman, satu siswa memperoleh 10% dalam kategori Sangat Baik, satu siswa juga mendapatkan 10% dalam kategori Baik, tiga siswa mencatat 30% dalam kategori Cukup, dua siswa meraih 20% dalam kategori Kurang, dan tiga siswa lainnya mencapai 30% dalam kategori Sangat Kurang.
Studi tentang kemampuan siswa kelas tujuh di SMP Negeri 50 Batam dalam membedakan istilah-istilah baku dan tidak baku mengarah pada kesimpulan bahwa proses pembelajaran bahasa Indonesia di kelas ini belum berjalan dengan baik. Sebanyak 10% dari 10 siswa yang mengikuti kursus ini masuk dalam kelompok Sangat Baik dan 10% masuk dalam kategori Baik. Hal ini mengindikasikan bahwa beberapa siswa memiliki pemahaman yang baik terhadap materi pelajaran. Namun, ada juga 30% siswa yang berada di kategori Cukup, 20% di kategori Kurang, dan 30% di kategori Sangat Kurang, yang menandakan masih adanya tantangan yang cukup besar dalam penguasaan materi. Oleh karena itu, penting untuk memberikan perhatian lebih agar kemampuan siswa dalam membedakan kata baku dan tidak baku dapat ditingkatkan. Beberapa faktor yang mungkin mempengaruhi kondisi ini termasuk metode pengajaran yang digunakan, keterbatasan dalam sarana dan prasarana, serta berbagai faktor lain yang dapat berpengaruh pada proses belajar mengajar.
Tabel 1. Hasil Menulis Kata Baku dan Tidak Baku kelas VII SMP Negeri 50 Batam
|
Sangat Baik |
10% |
1 |
|
Baik |
10% |
1 |
|
Cukup |
30% |
3 |
|
Kurang |
20% |
2 |
|
Sangat Kurang |
30% |
3 |
Sumber: Olahan Data Peneliti, 2024
*Jumlah Siswa Keseluruhan 10 siswa
KESIMPULAN
Berdasarkan pemeriksaan terhadap kesulitan yang dialami siswa dalam memahami perbedaan antara kata baku dan tidak baku dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia di kelas VII SMP Negeri 50 Batam, bisa disimpulkan bahwa siswa masih menghadapi sejumlah tantangan yang cukup besar. Walaupun ada siswa yang menunjukkan pemahaman yang baik, banyak di antara mereka yang mengalami kesulitan dalam membedakan kedua jenis kata tersebut. Beberapa faktor yang memengaruhi hal ini termasuk lingkungan keluarga, metode pengajaran yang kurang efektif, dan minimnya sarana serta prasarana yang tersedia. Untuk membantu siswa memahami materi dengan lebih baik, sebaiknya pengajaran bahasa Indonesia diarahkan pada kegiatan yang lebih interaktif, seperti diskusi dalam kelompok dan tugas menulis yang menggunakan kata baku. Selain itu, penting untuk melibatkan orang tua dalam proses belajar di rumah dan menyediakan lebih banyak sumber belajar, seperti buku dan materi digital. Dengan pendekatan ini, diharapkan siswa dapat lebih mudah memahami konsep kata baku dan tidak baku, yang pada gilirannya dapat meningkatkan kemampuan berbahasa mereka secara keseluruhan.
Sekolah harus menilai strategi pengajaran untuk membantu siswa menjadi lebih baik dalam membedakan antara istilah-istilah standar dan nonstandar. Siswa dapat memahami materi pelajaran dengan lebih baik jika menggunakan strategi pengajaran yang lebih menarik dan interaktif. Selain itu, penting juga untuk melibatkan orang tua dalam proses pembelajaran dengan memberi informasi mengenai pentingnya penggunaan bahasa yang benar di rumah. Peningkatan sarana dan prasarana, seperti penyediaan buku referensi dan alat bantu belajar yang memadai, juga dapat mendukung proses pembelajaran. Dengan langkah-langkah ini, diharapkan siswa dapat lebih mudah memahami dan menerapkan penggunaan kata baku dalam kehidupan sehari-hari sehingga kesenjangan antara pembelajaran di sekolah dan praktik di rumah dapat diminimalisasi.
DAFTAR PUSTAKA
Ermanto, E. (2018). Bahasa Indonesia: Pengembangan Kerpribadian Di Perguruan Tinggi.
Gunawan, A. N., Latifah, N., & Mawardi, M. (2023). Pendekatan Whole Language Terhadap Keterampilan Bahasa Indonesia Kelas V SD Ilmu Teknologi Bahasa dan Budaya. Jurnal Teknologi Pendidikan: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pembelajaran, 8(1), 247-254.
Privana, E. O., Setyawan, A., & Citrawati, T. (2021). Identifikasi Kesalahan Siswa dalam Menulis Kata Baku dan Tidak Baku pada Mata Pelajaran Bahasa Indonesia. 11(1).
Mahmur, M., Hasbullah, H., & Masrin, M. (2021). Pengaruh minat baca dan penguasaan kalimat terhadap kemampuan menulis narasi. Diskursus: Jurnal Pendidikan Bahasa Indonesia, 3(02), 169-184.
Moleong, Lexi J. 2000.Metodologi PenelitianKualitatif.Bandung: PT Remaja Rosdakarya
NURLIATI, S. (2024). IDENTIFIKASI FAKTOR KESULITAN SISWA DALAM MEMBEDAKAN KATA BAKU DAN KATA TIDAK BAKU PADA PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA KELAS VI SD NEGERI 23 PALEMBANG (Doctoral dissertation, Universitas PGRI Palembang).
Sari, D. K., Simarmata, G. L., Giawa, S. J., Khairani, S., & Wihelmina, Y. (2024). Kurangnya Keaktifan Belajar Siswa pada Materi Kata Baku dan Kata Tidak Baku di Kelas VI SD/MI. Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar, 1(3), 7. https://doi.org/10.47134/pgsd.v1i3.540
Sormin, N., Nuranisa, N., & Hermansyah, H. (2024). Identifikasi Faktor Kesulitan Siswa dalam Membedakan Kata Baku dan Kata Tidak Baku pada Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas VI SD Negeri 23 Palembang. Indonesian Research Journal on Education, 4(3). https://doi.org/10.31004/irje.v4i3.665