Balai Bahasa Provinsi NTB Berhasil Mengambil Data Pemetaan Bahasa dan Satra di Desa Genggelang, Kabupaten Lombok Utara 

Lombok Utara, 28 Agustus 2025—Pengambilan data kebahasaan untuk program Peta Kebinekaan Bahasa, Aksara, dan Sastra tahap pertama dilakukan di tiga desa, yaitu Desa Mertak, Lombok Tengah; Desa Sambik Elen, Lombok Utara, dan Desa Genggelang, Lombok Utara. Sama seperti di dua desa lainnya, pengambilan data di Desa Genggelang dilakukan selama empat hari, yaitu sejak 25—28 Agustus 2025.

Pada hari pertama, tim fokus untuk mengambil data berupa profil, sejarah, dan folklor yang mewarnai kehidupan masyarakat di Sambik Elen di kantor desa setempat. Setelah selesai, tim mewawancarai narasumber, yaitu Supardi. Selain itu, ada dua narasumber pendamping yang mendukung kelancaran proses wawancara, yaitu Sabnur dan Tusniati. Narasumber pendamping sangat dibutuhkan karena narasumber utama sudah berumur sehingga tidak dapat memahami beberapa konsep kosakata yang ditanyakan.

Pada hari terakhir, tim juga mengambil data kesastraan. Kebetulan, Supardi selaku narasumber utama memiliki beberapa takepan, manuskrip Sasak yang ditulis di lontar. Ada sekitar sepuluh takepan yang berhasil didata oleh tim di Desa Genggelang. 

Kegiatan ini disambut baik oleh narasumber. “Banyak sekali kosakata bahasa Sasak khas Desa Genggelang yang sudah tidak dikenal oleh anak-anak muda. Dengan adanya pengambilan data ini, semoga kosakata-kosakata tersebut dapat diwariskan ke anak-anak muda,” ungkap Sabnur di sela-sela wawancara.

Ke depannya, masih akan banyak desa lagi yang diambil data kebahasannya. Program ini akan berlangsung hingga tahun 2029. Nusa Tenggara Barat memang sudah berhasil memetakan tiga bahasa daerah dan delapan bahasa pendatang. Namun, data tetap harus diambil karena seiring perkembangan zaman, bisa jadi ada perubahan tindak tutu masyarakat dan perpindahan penduduk sehingga peta yang telah disusun dapat berubah.