Resmi Dibuka, Pemilihan Duta Bahasa Nasional 2025 Hadirkan Perwakilan dari Seluruh Provinsi

Pemilihan Duta Bahasa Nasional Tahun 2025 resmi dibuka pada Senin malam, 8 September 2025. Pada kontestasi tahun ini, sebanyak 31 pasang Duta Bahasa dari berbagai provinsi hadir dan bersaing untuk menjadi yang terbaik. Perwakilan Provinsi NTB adalah M. Rozi Fatwa Ilham dan Alifia Putri Eldina.

Setelah sekitar dua bulan berjibaku mempersiapkan diri, seperti mengerjakan program krida kebahasaan dan kesastraan, berlatih bahasa asing, dan menambah pengetahuan kebahasaan dan kesastraan, tibalah di masa penilaian. Sejak Selasa hingga Jumat, seluruh finalis akan menghadapi serangkaian ujian yang berat. 

Pada Selasa, materi yang diuji adalah kemampuan wicara publik dan bahasa asing. Pasangan Duta Bahasa Provinsi NTB mendapat materi wicara publik mengenai pengembangan BIPA. Kebetulan, hal tersebut selaras dengan program krida mereka, Mutiara Mandalika. Pada Rabu, materi yang diujikan adalah presentasi laporan krida kebahasaan dan kesastraan. 

Pada Kamis, materi yang diuji adalah penampilan talenta. Ilham dan Alifia akan menampilkan sendratari dari gubahan cerita rakyat khas Sasak, yaitu Putri Mandalika. Baru pada hari Jumat, finalis akan menghadapi penjurian akhir sekaligus malam puncak.

Dalam sambutannya, Imam Budi Utomo memberikan pesan sekaligus semangat kepada para peserta. “Negara adidaya seperti Amerika Serikat dan Australia tidak memiliki bahasanya sendiri. Kedua negara tersebut menggunakan bahasa Inggris. Kalau kita perhatikan, negara yang memiliki bahasa yang sama dengan nama bangsanya memiliki rasa kebanggaan yang amat tinggi akan penggunaan bahasanya sendiri, seperti Jerman dan Jepang. Sebagai negara yang berdaulat, kita harus mencontoh bangsa Jerman dan Jepang, kita harus bangga dengan bahasa Indonesia,” ungkapnya.

Lebih lanjut lagi, Imam Budi Utomo juga menyampaikan bahwa bahasa Indonesia memiliki peran yang lebih besar daripada bahasa-bahasa lain di dunia. Jika bahasa-bahasa di dunia hanya memiliki satu peran, bahasa Indonesia memiliki dua peran, sebagai bahasa negara dan persatuan. 

Setelah pemberian sambutan, Imam Budi Utomo membuka kegiatan secara resmi dengan memukul gong sebagai tanda simbolis. Selanjutnya, ada penyematan samir kepada seluruh finalis. Selepas seremonial, finalis duta bahasa masih harus berlatih peragaan untuk persiapan malam puncak.