SMKN 1 Gangga Berkomitmen Memperkuat Kemampuan Literasi Siswa Melalui Sastra

Lombok Utara, 18 September 2025—Nilai Asesmen Literasi di Provinsi NTB masih belum maksimal, termasuk di SMKN 1 Gangga yang baru mendapat nilai 53,3%. Oleh karena itu, SMKN 1 Gangga kembali menggagas kegiatan lokakarya untuk meningkatkan literasi. Pada kali ini, tema yang diambil adalah mengenai cara meningkatkan literasi melalui sastra.

Dalam kesempatan kali ini, Balai Bahasa Provinsi NTB menunjuk Gilang Aryo Damar untuk menjadi narasumber kegiatan Workshop Peningkatan Literasi dalam Memahami Teks Sastra. Kegiatan ini sebenarnya juga merupakan kegiatan lanjutan dan pengembangan dari program SMK PK yang begitu masif dilaksanakan tahun lalu.

Dalam sambutannya, Kepala SMKN 1 Gangga, Lalu Rodi Karyawan, menyampaikan harapannya akan kegiatan ini. “Tahun lalu, kita merupakan salah satu sekolah yang berkesempatan menjajal program SMK PK. Hasilnya memang sudah terlihat, tetapi masih bisa dimaksimalkan lagi. Tahun lalu, para guru sudah dapat menghasilkan karyanya. Semoga ke depannya para murid bisa gemar membaca, syukur-syukur dapat menulis juga,” ungkapnya penuh harap.

Gilang mulai menjelaskan materi dengan memaparkan situasi dan nilai asesmen literasi di NTB. Ia pun memaparkan beberapa penyebab nilai asesmen literasi masih rendah, salah satunya adalah kurangnya buku bacaan. Untuk menyiasatinya, ia pun memperlihatkan bahwa banyak sekali bahan bacaan yang tersebar di internet.

“Untuk mengenalkan kepada siswa bahwa membaca adalah sesuatu yang menyenangkan, kita perlu mengajak mereka membicarakan sesuatu yang mereka sukai. Untuk siswa yang suka naik gunung, ajak mereka membaca cerita tentang pendakian. Untuk siswa jurusan kelistrikan dan elektro, ajak mereka membaca biografi tentang tokoh atau penemu, seperti Nikolas Tesla,” ujarnya. Ia pun juga mengajak guru agar tidak terlalu kaku dengan bahan bacaan. Jika tidak dapat menemukannya, bisa dimulai dengan menonton film yang temanya disesuaikan dengan minat dan kesukaan siswa.

Film dapat menjadi alternatif karena film memuat cerita, sama seperti karya sastra. Setelah siswa mulai muncul ketertarikan dengan bacaan atau cerita, barulah level membaca siswa ditingkatkan dengan memberi bahan bacaan yang lebih berat. Ia pun juga memaparkan bahwa sekolah dapat membuat semacam ekstrakurikuler atau lomba internal terkait literasi baca-tulis.

Siswa pun dapat diberi tugas untuk membuat cerita, puisi, ataupun film pendek. Tugas-tugas semacam itu tidak hanya akan membuat siswa harus membaca, tetapi juga melatih kreativitas siswa. Kegiatan pun diakhiri dengan sesi diskusi. Dalam sesi diskusi, Gilang menunjukkan laman-laman yang memuat puisi dan cerita pendek yang dapat dijadikan para guru sebagai referensi dalam melatih kemampuan membaca.