Koordinasi Sinergi Peningkatan Literasi 3T: Balai Bahasa Provinsi NTB Terima Kunjungan Relawan Cerdas NTB
Mataram, 19 November 2025--Peningkatan literasi sekolah menjadi salah satu target dalam program literasi. Berbagai upaya telah dilakukan oleh Balai Bahasa Provinsi NTB, salah satunya melalui sinergi program literasi yang terbuka dengan berbagai mitra. Seperti halnya hari ini, Balai Bahasa Provinsi NTB menerima kunjungan dari Komunitas Relawan Cerdas NTB. Tim yang digawangi oleh Andar bersama dengan enam anggota lainnya diterima langsung oleh Kepala Balai Bahasa Provinsi NTB, Dwi Pratiwi di Ruang Anjani.
Andar sebagai perwakilan Relawan Cerdas NTB menuturkan bahwa komunitas ini telah aktif sejak tahun 2021. Anggota komunitas merupakan mahasiswa universitas yang ada di Provinsi NTB. Komunitas Relawan Cerdas NTB bergerak dalam pelayanan pendidikan di daerah terpencil. Mayoritas anggota merupakan mahasiswa UIN dan Universitas Mataram. "Fokus program kami adalah wilayah yang membutuhkan akses pendidikan, literasi, dan sosial budaya sebagai relawan. Adapun tujuan kunjungan kami, yaitu untuk berkoordinasi dan bersinergi mengenai program literasi yang menyasar akses pendidikan yang masih rendah atau kurang," tuturnya.
Ia menambahkan bahwa komunitas melaksanakan program pengabdian 3T, tepatnya di Dusun Saung, Desa Wakan, Kecamatan Jerowaru, Kabupaten Lombok Timur. Program berupa sosialisasi dan pembinaan literasi dasar. Pelibatan semua unsur masyarakat. Saat ini kondisi wilayah sasaran terdapat satu sekolah dengan satu atap. Kondisi masyarakat dengan pendidikan yang masih rendah dan tingginya pernikahan dini. Berdasarkan kondisi tersebut, untuk itu Komunitas Relawan Cerdas berharap adanya kolaborasi berupa penyediaan narasumber pada pendampingan literasi dan bahasa Indonesia.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Balai Bahasa Provinsi NTB, Dwi Pratiwi mengapresiasi program ini.Ia menanyakan hal terkait apakah pola program dari tahun 2021 sampai dengan sekarang sama dan hasilnya seperti apa? Menurutnya, hal ini tentu membutuhkan analisis terlebih dahulu terkait pemilihan sasaran Desa Wakan. Misalnya, korelasi tingkat pernikahan dini yang tinggi dengan akses pendidikan yang masih rendah di desa tersebut. "Perlu ada analisis kebutuhan sasaran dalam menyasar lokasi, sasaran, dan segmentasi. Apa yang dilakukan oleh Adik-Adik sangat selaras dengan tugas kami. Pesan kami, Adik-Adik konsisten dan bergerak tuntas menyisir sekolah-sekolah dasar untuk pelibatan peningkatan literasi dasar baca-tulis. Hal ini sangat menarik untuk membuat anak bisa dan memahami apa yang dibaca. Buku akan kami berikan, termasuk cara menggunakan buku tersebut," terang Dwi Pratiwi saat memberikan arahan pada pertemuan hari ini.
Ia menambahkan bahwa program Balai Bahasa Provinsi NTB lainnya adalah pelindungan bahasa daerah.Jika mayoritas masyarakat di desa tersebut masih menggunakan bahasa daerah, maka itu tidak masalah. Tinggal bagaimana diberikan pengajaran kemampuan penulisan karya dalam bahasa daerah, misalnya membaca atau menulis puisi bahasa Sasak.
Hal ini juga mendapat atensi dari Nurcholis Muslim selaku Ketua Tim Kerja Pembinaan yang hadir pada pertemuan ini. Ia menegaskan pentingnya kolaborasi peran seluruh relawan di berbagai daerah dengan sasaran sekolah dasar. Literasi yang masih rendah menjadi salah satu kontributor pernikahan dini di beberapa wilayah. Untuk itu, dengan adanya komitmen semua dalam peningkatan literasi dasar, maka dapat membantu dan mengurangi angka pernikahan dini dan tingkat kehidupan sosial yang masih rendah. Dibutuhkan kolaborasi berkesinambungan di antara berbagai pihak, terutama pemerintah daerah, karena literasi adalah tugas bersama.
Baiq Ayu Candra yang merupakan Tim Inovasi Mandalika-Dewisali turut menambahkan bahwa pada rahun 2023--2024, Balai Bahasa Provinsi NTB aktif menyasar wilayah 3T untuk peningkatan literasi. Berkolaborasi dengan berbagai komunitas dan taman baca masyarakat, hal tersebut menjadi tugas bersama dengan sasaran yang cukup luas dan beragam, termasuk sasaran di wilayah Kabupaten Lombok Timur, tepatnya Gili Maringkik. Dengan adanya koordinasi ini semakin membuka jalan untuk menguatkan dampak positif inovasi Mandalika-Dewisali yang kini terus dikembangkan menjadi program Benar-Benar Membaca dan Membaca Benar-Benar (BBM-MBB).