Balai Bahasa Provinsi NTB Hadiri Seminar Nasional Naskah Nusantara di UIN Mataram
Mataram, 9 Desember 2025--Balai Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat menghadiri Seminar Nasional Naskah Nusantara bertema “Giri–Lombok: Kolaborasi Lintas Pilar Menuju Kedaulatan Sejarah dan Budaya Bangsa” yang diselenggarakan di Gedung Teater Perpustakaan Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram. Kegiatan ini dihadiri oleh perwakilan instansi pemerintah daerah, lembaga/komunitas budaya, organisasi mahasiswa, dan pemerhati sejarah.
Balai Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat diwakili oleh Asry Kurniawaty (Penelaah Teknis Kebijakan) dan Meri Septiani (Penyuluh Bahasa). Kehadiran perwakilan Balai Bahasa Peovinsi Nusa Tenggara Barat sebagai upaya penyatuan persepsi dan arah dukungan pelestarian bahasa daerah yang sejalan dengan seni dan budaya yang tumbuh dan berkembang di masyarakat. Pada kegiatan ini, Rektor UIN Mataram, Masnun Tahir, dalam sambutannya menekankan pentingnya merawat naskah dan budaya sebagai identitas bangsa. “Eksistensi suatu bangsa sangat bergantung pada budayanya,” ujarnya.
Selanjutnya, Direktur Warisan Budaya, I Made Dharma Suteja, mewakili Menteri Kebudayaan Republik Indonesia menyampaikan harapan agar di NTB dapat dibentuk wilayah pelestarian kebudayaan untuk memperkuat upaya pelindungan warisan budaya. Ia menegaskan bahwa manuskrip bukan sekadar tulisan di lontar, tetapi juga warisan leluhur yang memuat ajaran, etika, sejarah lokal, astronomi, hingga pengobatan tradisional. Ia juga mengingatkan bahwa NTB memiliki banyak potensi budaya yang belum tergali, termasuk peluang mengusulkan bahasa Sasak dan aksara sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb).
Dukungan juga hadir dari Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTB, Lalu Hamdi yang mewakili Gubernur NTB. Ia mengatakan bahwa Lombok memiliki tradisi yang kuat, yang tercermin dalam keberadaan babad dan lontar yang memuat sejarah, sistem pemerintahan, dan peradaban Sasak masa lampau. Banyak naskah yang kini lapuk atau tersimpan di rumah masyarakat tanpa perawatan sehingga perlu segera didigitalisasi. Hal senada juga disampaikan oleh Pendiri Manuskripedia, Wahyu Muryadi, menyampaikan bahwa manuskrip Sasak memiliki hubungan kuat dengan penyebaran Islam pada abad ke-16, terutama melalui pengaruh Sunan Giri. Simposium ini diharapkan dapat menjadi ruang untuk membahas dan mendalami kekayaan manuskrip Lombok.
Kegiatan ini menghadirkan empat narasumber, yaitu Hasan Basri Marwah (Budayawan Lombok), Wahyudi (Pemerhati Lombok), Jumarim (UIN Mataram), dan Muhammad Syahrul Munir (Perwakilan Pemerintah Kabupaten Gresik). Para narasumber membahas berbagai aspek manuskrip Sasak, mulai dari nilai historis, kekayaan isi, hingga urgensi pelestariannya melalui filologi dan digitalisasi. Selain itu, dibahas pula mengenai jejak peradaban Lombok dan kaitannya terhadap Giri (Gresik).