Kuatkan Revitalisasi Bahasa Daerah, Balai Bahasa Provinsi NT  Gelar Kemah Penulisan Cerita Pendek Berbahasa Daerah (Sasak, Samawa, dan Mbojo)

Mataram, 16 Desember 2025—Balai Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat melaksanakan kegiatan Kemah Penulisan Cerita Pendek Berbahasa Daerah sebagai bagian dari program Revitalisasi Bahasa Daerah. Kegiatan ini dilaksanakan secara daring selama tiga hari, yakni pada 16—18 Desember 2025.

Peserta kegiatan terdiri atas 12 siswa dengan 12 guru pendamping. Para peserta merupakan pemenang juara I dan II lomba menulis cerita pendek berbahasa daerah tingkat SD dan SMP dalam Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) Tahun 2025.

Kegiatan Kemah Penulisan Cerita Pendek Berbahasa Daerah ini dibuka oleh Kasman, Ketua Tim Kerja Pelindungan sekaligus ketua panitia kegiatan, mewakili Kepala Balai Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat. Dalam sambutannya, Kasman menyampaikan bahwa kegiatan kemah cerpen merupakan rangkaian dari program Revitalisasi Bahasa Daerah yang telah dilaksanakan oleh Balai Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat

Kasman juga menekankan pentingnya peran guru dalam pengajaran bahasa daerah. Menurutnya, upaya para guru dalam mengajarkan bahasa daerah kepada peserta didik akan memberikan dampak positif bagi pembentukan karakter anak. Bahasa daerah, termasuk karya sastra daerah dan cerita rakyat, mengandung nilai-nilai budaya yang khas dan berbeda dengan karya sastra berbahasa Indonesia.

Program Revitalisasi Bahasa Daerah di Provinsi Nusa Tenggara Barat sebelumnya telah dilaksanakan melalui berbagai kegiatan, antara lain Diskusi Kelompok Terpumpun yang melibatkan para pemangku kepentingan, Pelatihan Guru Master, serta penyelenggaraan Festival Tunas Bahasa Ibu.

Kemah Penulisan Cerita Pendek Berbahasa Daerah ini menghadirkan tiga narasumber sesuai dengan bahasa daerah yang direvitalisasi, yaitu Imam Safwan sebagai narasumber Bahasa Sasak, Aenun Jariah sebagai narasumber Bahasa Samawa, dan Rahmah Fitriah sebagai narasumber Bahasa Mbojo. “Meskipun dilaksanakan secara daring, materi yang disampaikan kepada para peserta tidak berbeda dengan pelaksanaan kegiatan secara luring,” ungkap Kasman dalam sambutannya.

Di tengah berbagai kendala pelaksanaan secara daring, para peserta dan narasumber tetap menunjukkan antusiasme yang tinggi dalam mengikuti kegiatan ini. Pelaksanaan kegiatan dibagi ke dalam tiga ruang diskusi (breakout room) sesuai dengan bahasa masing-masing, dengan materi penulisan cerita pendek disampaikan langsung oleh para narasumber.