Penguatan Sasaran Mandalika-Dewisali: Upaya Mendorong Peningkatan Kecakapan Literasi Sekolah
Upaya meningkatkan kecakapan literasi menjadi salah satu pilar penting dalam pembinaan bahasa Indonesia. Melalui pengembangan inovasi Mandalika-Dewisali, Balai Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat menguatkan sasaran ke Desa Ijobalit. Sasaran tersebut merupakan tindak lanjut dari pelaksanaan inovasi Mandalika-Dewisali pada tahun 2024. Untuk itu, Kepala Balai Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat bersama Tim Inovasi Mandalika-Dewisali melakukan kunjungan koordinasi ke SDN 2 Ijobalit, Kabupaten Lombok Timur.
Kepala Balai Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat, Dwi Pratiwi menjelaskan bahwa tujuan kunjungan ini untuk mengoordinasikan kegiatan Mandalika-Dewisali yang kini dikembangkan menjadi inovasi Benar-Benar Membaca, Membaca Benar-Benar (MBB-BBM) yang menyasar sekolah. Dwi menuturkan bahwa pada prinsipnya, Balai Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat sejalan dengan BPMP dan BGTK. Tugas Balai Bahasa khusus mendukung kebijakan pemerintah daerah terkait pembinaan, pengembangan, dan pelindungan bahasa dan sastra. Sasaran program juga sekolah, walaupun di luar itu ada komunitas. Sasaran utama Balai Bahasa adalah sekolah, baik SD, SMP, maupun SMA.
Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa Balai Bahasa memiliki program peningkatan kompetensi guru dalam bahasa Indonesia. Selain itu, program pelindungan bahasa daerah yang terkait dengan pelestarian bahasa Sasak, Samawa, dan Mbojo, serta literasi. Kegiatan literasi terkait dengan peningkatan kecakapan literasi yang akan didiskusikan pada hari ini.
"Kami memiliki program literasi berupa penyusunan bahan cerita anak oleh masyarakat setempat. Sasaran saat itu, yaitu Desa Bilebante, Kabupaten Lombok Tengah dan Desa Ijobalit, Kabupaten Lombok Timur. Bentuk kegiatan penyusunan cerita anak berbasis kearifan lokal di desa ini yang ditulis oleh masyarakat setempat. Di Ijobalit, ada tiga buku cerita yang dihasilkan dengan sumber cerita kearifan lokal," tutur Dwi saat diskusi dengan Bapak dan Ibu guru SDN 2 Ijobalit.
Dwi juga menerangkan bahwa buku cerita "Sang Pembelah Bukit" menceritakan kisah lokal di Ijobalit. Buku-buku juga telah didistribusikan melalui Perpustakaan Ijobalit. Untuk keberlanjutan substansi isi cerita ini agar sejalan dengan tujuan program, Balai Bahasa ingin menyosialisasikan cerita ini ke anak-anak sebagai generasi penerus bangsa. "Asumsi kami, anak-anak di Desa Ijobalit belum mengetahui cerita Sang Pembelah Bukit. Begitu juga hal yang terjadi di Desa Bilebante. Dua buah cerita lokal tidak diketahui oleh anak-anak di SDN Tapon, Bilebante. Mungkin kita perlu menyosialisasikan ke anak-anak. Kami melakukan ini sebagai upaya peningkatan kecakapan literasi. Selain memperkenalkan kearifan lokal di Desa Ijobalit ini, supaya ada penulis-penulis lain cerita anak serupa yang nanti atau bersumber dari kearifan lokal di daerah ini atau sekitarnya," jelas Dwi.
Ia juga menjelaskan bahwa Balai Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat memberikan apresiasi melalui keikutsertaan di sayembara penulisan bahan cerita anak. Ada beberapa varian jenjang penulisan buku bahan cerita anak yang disesuaikan dengan jenjang usia dan jenjang kelas siswa. Sasaran kegiatan adalah siswa kelas V SD. Balai Bahasa akan menyosialisasikan kegiatan ini. Jadwal pelaksanaan sosialisasi dapat ditentukan bersama. "Untuk mendukung upaya ini, kami juga telah menyediakan buku inovasi BBM-MBB. Ketika kami menyediakan buku cerita, kami juga menyediakan buku inovasi BBM-MBB sebagai pemanfaatan keterbacaan buku bagi siswa. Bapak dan Ibu guru dapat mendeteksi siswa yang belum bisa membaca," tambahnya.
Mahsun, salah seorang guru, menanggapi hal tersebut. Ada rencana program Balai Bahasa yang akan dibantu juga oleh Perpustakaan Ijobalit dalam mendorong giat literasi membaca siswa. Ada beberapa anak yang kelas V masih belum bisa membaca dan ada yang masih mengeja. Setelah ditelusuri, faktor orang tua cenderung kurang sabar dalam membimbing anaknya belajar membaca. Faktor tersebut memengaruhi siswa karena lingkungan keluarga yang cenderung abai sehingga dorongan minat membaca rendah. "Harapan saya semoga dengan kolaborasi ini tidak putus sampai di sini. Kita bisa berkolaborasi dengan Perpustakaan Ijobalit bersama-sama mendorong minat siswa. Terkait dengan tokoh H. Slamet dalam buku cerita 'Sang Pembelah Bukit', saya menjadi salah satu saksi jasa beliau yang besar. Sayang sekali jika generasi penerus kita, anak dan cucu, tidak mengenal jasa beliau," ungkap Mahsun saat diskusi berlangsung.Hal senada juga diungkapkan oleh Muhammad Thohir, guru pengampu di SDN 2 Ijobalit. Menurutnya, kendala lain adalah minat baca anak yang kurang. Anak lebih tertarik bermain gawai. Faktor lingkungan juga memengaruhi, misalnya orang tua cenderung membiarkan anak lebih asyik bermain gawai.
Ketua Tim Kerja Pembinaan Bahasa dan Sastra, Nurcholis Muslim, yang turut hadir pada kegiatan ini turut menanggapi. Ada 167 siswa yang termasuk kategori K1 di bawah standar minimum literasi berdasarkan hasil asesmen nasional. Hal ini yang menjadi tugas intervensi Balai Bahasa bagaimana meningkatkan kompetensi kemampuan literasi siswa. Keterkaitan buku BBM-MBB ini dapat membantu Bapak dan Ibu guru dalam mengukur kemampuan literasi membaca dan literasi numerasi siswa. Kelas V diambil menjadi sampel karena akan mengikuti asesmen nasional sehingga perlu penguatan utama.