Balai Bahasa Provinsi NTB Tegaskan Manfaat Literasi, Dukung Kolaborasi Pengembangan Literasi di NTB
Mataram, 21 Januari 2026—Kepala Balai Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat, Dwi Pratiwi, menegaskan manfaat dan makna literasi. Literasi bukan hanya sekadar program yang dijalankan oleh Balai Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat. Hal ini disampaikan ketika mengisi program acara Antarnusa yang disiarkan oleh TVRI Stasiun Bali, NTB, dan NTT. Balai Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat memiliki prioritas peningkatan kecakapan literasi yang tentunya berbasis data. Menurutnya, data terakhir yang Balai Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat dapatkan memang tingkat kecakapan literasi di Provinsi NTB masih perlu dikuatkan. Nilainya berbanding lurus dengan skor PISA. Jadi, perlu penguatan karena hasilnya berbanding lurus dengan hasil Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI) yang dilakukan oleh Balai Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat. "Hasil UKBI yang kami laksanakan dengan target siswa ternyata ada korelasinya dengan kecakapan literasi. Hasilnya perlu penguatan yang cukup kuat di sektor pendidikan. Balai Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat tidak tinggal diam, kami mendampingi lebih dari 60 komunitas literasi, Taman Baca Masyarakat terkait kehidupan berliterasi di masyarakat. Hal ini sekaligus menjawab pertanyaan terkait bahan bacaan. Balai Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat menyediakan buku bahan bacaan terbitan Badan Bahasa dan Balai Bahasa untuk dibaca oleh masyarakat," papar Dwi saat sesi diskusi berlangsung dengan pewara yang disiarkan secara langsung oleh TVRI Stasiun NTB.
Lebih lanjut, ia meneruskan bahwa Balai Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat memberikan alternatif program prioritas berupa kegiatan Cerdas Mengulas Buku yang bekerja sama dengan komunitas literasi. Komunitas tersebut turut menggiatkan program Balai Bahasa ke berbagai sekolah. Berdasarkan kenyataan di lapangan, memang saat ini banyak siswa SMA yang belum bisa membaca. Hal ini berdasarkan temuan di lapangan dan kesasksian dari para pengajar di sekolah. Untuk itu, Balai Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat terus mendorong kolaborasi bersama untuk menguatkan literasi siswa sekolah. Literasi memiliki manfaat yang luas untuk kemampuan berpikir, kemajuan pendidikan, dan dalam kehidupan sehari-hari.
Pandangan selaras juga disampaikan oleh Guru Besar Linguistik Forensik Universitas Mataram, Prof. Mahsun, mengenai literasi. Berdasarkan pemaparannya, Mahsun mengungkapkan bahwa masyarakat tidak bisa melepaskan diri dari kajian literasi anak bangsa berupa kemampuan linguistik. Penelitian dalam hal pendidikan bisa menjadi indikator dalam mengukur pertumbuhan ekonomi yang bagus. Sejauh ini, pengukuran kemampuan memahami teks anak melalui soal yang telah disesuaikan. Ia juga menambahkan bahwa bahasa membentuk kemampuan berpikir anak. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh salah seorang mahasiswa S-2 yang dibimbing oleh Mahsun, dengan pengambilan sampel penelitian terhadap 150 siswa SMA/SMK di Kota Mataram, hasilnya menunjukkan bahwa penggunaan konjungsi dalam penulisan tidak variatif, dalam arti bahwa hasilnya menunjukkan kekurangan kemampuan berpikir alternatif oleh siswa di mana orang yang memiliki kemampuan alternatif yang kurang baik maka akan mengalami kesulitan dalam berinovasi atau berpikir kritis. Untuk itu, Mahsun menegaskan penguatan kurikulum berbasis teks dengan pembelajaran bahasa Indonesia berbasis teks. Ia juga menyoroti langkah dan program yang dilaksanakan oleh Balai Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat dengan berbagai komunitas. Menurutnya, tugas sinergi tersebut menjadi tanggung jawab Balai Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat dan telah dikolaborasikan dan dilaksanakan semaksimal mungkin demi mendorong kualitas literasi yang lebih baik. Pada kesempatan sebelumnya, ia juga menuturkan bahwa selama ini pelaksanaan literasi telah dilakukan, tetapi belum pernah membuat tolok ukurnya. Melalui Olimpiade Literasi ini sebagai upaya membuat standar tolok ukur yang jelas mengenai literasi.
Nobi Abandi, Pendiri TBM Gerakan Literasi Dusun, yang hadir menjadi narasumber juga berbagi pengalaman dalam mengembangkan literasi masyarakat. Berdasarkan pengalamannya, akses buku bacaan masih minim, anak-anak cenderung kurang memiliki minat terhadap bahan bacaan. Akan tetapi, hal lain yang ditemukan di lapangan adalah masyarakat sebenarnya sangat membutuhkan literasi yang dapat membantu kecakapan literasi baca tulis dan kemampuan daya kritis. TBM Gerakan Literasi Dusun memberikan pendampingan ke anak-anak sebagai upaya bakti mendorong kemampuan literasi yang lebih baik di masyarakat.
Kolaborasi pemikiran dan pemparan dari ketiga narasumber semakin menguatkan pentingnya pengembangan literasi yang menyentuh semua kalangan, baik yang menyasar siswa sekolah maupun masyarakat umum. Literasi adalah bagian dari program mencerdaskan anak bangsa yang mendorong tumbuh kembang kemampuan berpikir yang cakap dan membawa dampak positif dalam pendidikan Indonesia.