Perkuat Pembangunan ZI-WBBM dan Inovasi, Balai Bahasa Provinsi NTB Evaluasi Semua Aspek Tata Kelola Pemerintahan
Mataram, 28 Januari 2026—Balai Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat melaksanakan rapat evaluasi dan koordinasi internal yang membahas pelaksanaan Zona Integritas menuju Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (ZI-WBBM), evaluasi inovasi tahun 2025, rencana implementasi inovasi tahun 2026, tindak lanjut hasil survei triwulan IV tahun 2025, dan sosialisasi aplikasi Sinde dan Sidaya. Rapat diawali dengan penyampaian laporan inovasi oleh para Agen Perubahan. Baiq Ayu Candra memaparkan inovasi Sidaya yang berkaitan dengan pelaksanaan layanan dan keterbukaan informasi publik. Dalam laporannya, ia menyampaikan bahwa kinerja PPID dan ULT mengalami penurunan sehingga perlu penguatan data. Hal tersebut dapat diupayakan melalui pengelolaan data kedua, yaitu data berbasis manual yang menjadi sumber data sekunder.
Paparan inovasi Mandalika-Bumi disampaikan oleh Zamzam Hariro. Ia mengungkapkan kendala dalam menginventarisasi kebutuhan penutur asing. Menurutnya, inovasi ini perlu diperluas jangkauannya karena hasil testimoni masih terbatas dan belum dapat dimanfaatkan secara luas oleh masyarakat. Oleh sebab itu, produk inovasi perlu dicetak dalam jumlah yang lebih banyak. Sementara itu, Gilang Aryo Damar memaparkan inovasi Mandalika-Dewisali. Ia menjelaskan bahwa pemanfaatan produk dan evaluasi kegiatan tahun 2023—2024 telah dilaksanakan di Desa Wisata Hijau Bilebante dan Desa Wisata Ijobalit melalui buku fisik. Untuk tahun 2025, waktu pemanfaatan inovasi dan pengisian evaluasi dinilai masih terlalu singkat. Hingga saat ini, pemanfaatan baru dilakukan di satu sekolah, yaitu SD Negeri 1 Bilebante yang terintegrasi dengan kegiatan BBM–MBB.
Inovasi Kamus Terpadu Sasambo dipaparkan oleh M. Syamsur Rijal. Ia menyampaikan bahwa penyusunan kamus dilakukan melalui tiga tahapan, yakni jangka pendek, menengah, dan panjang. Pada tahun 2025 telah mencapai tahap jangka panjang. Jumlah lema meningkat dari 177 menjadi 200 lema pada 19 November 2025. Selain itu, kamus bergambar telah dicetak sebanyak 30 eksemplar, masing-masing 10 eksemplar untuk setiap bahasa daerah NTB (Sasak, Samawa, Mbojo) dan perlu kembali disosialisasikan melalui media massa dan sekolah.
Rapat juga memuat penyampaian laporan monitoring dan evaluasi ZI-WBBM. Setiap ketua Pengungkit, dari Pengungkit I--VI menyampaikan laporan kinerja tiap timnya. Salah satu Pengungkit, yaitu Pengungkit II yang diwakili oleh Rizki Gayatri melaporkan bahwa telah terkumpul 110 pos pada tahun 2025. Selanjutnya, Kepala Balai Bahasa Provinsi NTB, Dwi Pratiwi, memberikan rekomendasi yang menekankan pentingnya kualitas perencanaan dan akuntabilitas inovasi. “Laporan inovasi harus dibuat sesegera mungkin setiap kali ada rapat evaluasi. Jangan sampai inovasi kita justru banyak dipertanyakan karena tidak memiliki arah yang jelas,” tegasnya. Ia juga menekankan bahwa setiap inovasi harus disertai perencanaan yang terstruktur. “Tampilkan dengan jelas rencana jangka pendek, menengah, dan panjang, termasuk kendala yang dihadapi serta dampaknya. Setiap inovasi wajib dibuatkan laporannya,” ujarnya.
Terkait pemanfaatan teknologi, Dwi Pratiwi mengingatkan pentingnya kesiapan teknis karena sehebat apa pun aplikasi, pasti ada galatnya. Oleh karena itu, setiap aplikasi harus dilengkapi dengan buku manual agar mudah dipahami dan digunakan. Lebih lanjut, ia mendorong penguatan kolaborasi inovasi dan dengan pihak eksternal pada tahun 2026. “Tim inovasi harus saling bekerja sama. Kita juga perlu membuka kerja sama dengan berbagai pihak, baik komunitas, pemerintah daerah, maupun mitra lainnya,” tambahnya. Ia juga mengingatkan agar mitigasi risiko dituangkan secara jelas dalam proposal kegiatan.
Diah Rachma Yudita, selaku Kepala Subbagian Umum Balai Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat juga memberikan rekomendasi. Ia mengatakan bahwa setiap inovasi juga harus dilengkapi dengan video kompilasi sebagai bentuk sosialisasi yang dapat ditayangkan sebelum pelaksanaan suatu kegiatan. Rapat ditutup dengan sosialisasi aplikasi SINDE oleh Titik Susiawati. Ia menyampaikan bahwa seluruh pegawai dapat mengusulkan berkas melalui aplikasi SINDE dengan cara menambahkan berkas secara mandiri dengan penamaan sesuai nama kegiatan. Ia juga memberikan simulasi bagaimana cara menambahkan usulan berkas secara langsung. Rapat ini menjadi forum penguatan kinerja, sinergi antartim, dan penyelarasan arah kebijakan organisasi.