Mandalika-Bumi di Kabupaten Lombok Utara: Upaya Internasionalisasi Bahasa Indonesia dan Daerah Melalui Pembelajaran Berbasis Tugas
Lombok Utara, 16 Februari 2026--Inovasi Mandalika-BIPA untuk Masyarakat Inovatif (Mandalika-Bumi) menjadi salah satu program yang dilaksanakan secara berkelanjutan oleh Balai Bahasa Provinsi NTB. Berpijak pada peta jalan Mandalika-Bumi tahun 2024--2029, Balai Bahasa Provinsi NTB menggandeng mitra Chili Community House yang berada di Gili Trawangan, Kabupaten Lombok Utara. Kunjungan yang dilakukan oleh Tim Mandalika-Bumi hari ini ke Chili Community House, Gili Trawangan merupakan salah satu tahapan pendampingan pembelajaran dan pengajaran BIPA berbasis kearifan lokal.
Sebagai salah satu destinasi wisata di NTB, Gili Trawangan bukan hanya sebagai tempat wisata, tetapi juga merupakan tempat pembelajaran BIPA untuk siswa prasekolah sampai dengan sekolah dasar. Plt. Kepala Balai Bahasa Provinsi NTB, Zamzam Hariro yang membersamai Tim Mandalika-Bumi hari ini menjelaskan bahwa kemitraan yang dibangun Balai Bahasa Provinsi NTB dengan Chili Community House di Gili Trawangan merupakan salah satu upaya objektif yang paling dekat dengan konteks pembelajaran BIPA bagi penutur asing. Tidak hanya itu, ia juga menjelaskan bahwa Balai Bahasa Provinsi NTB mendorong penuh pembelajaran BIPA berbasis kearifan lokal yang melibatkan siswa asing maupun siswa lokal. Bak gayung bersambut, Chili Community House sebagai salah satu sekolah berbasis kurikulum internasional di Gili Trawangan menyasar pendidikan dasar bagi siswa asing dan lokal. Hal ini lah yang menjadi dasar kolaborasi untuk meningkatkan internasionalisasi bahasa Indonesia dan bahasa Sasak dalam pembelajaran kelas.
"Pembelajaran yang dibutuhkan siswa harus selaras dengan konteks yang ada dan saling mendukung. Pembelajaran akan berhasil jika lingkungan mendukung guru dan siswa dalam belajar. Pembelajaran yang dimulai dari kebutuhan akan memudahkan guru dan siswa dalam belajar berbagai pelajaran. Menurut saya, pembelajaran bahasa Indonesia dan juga bahasa Sasak yang paling tepat adalah pembelajaran berbasis tugas. Kita bisa bekerja sama dengan penduduk lokal dalam melakukan praktik pembelajaran bahasa Sasak," terang Zamzam saat diskusi berlangsung dengan Tim Chili Community House yang diketuai oleh Noor Ain Hussin.
Sebagai pendiri Chili Community House, Noor Ain Hussin yang berlatar belakang pendidikan psikologi anak menegaskan peran sentral metode pembelajaran bagi siswa asing dan siswa lokal. Berdasarkan pengalamannya, ia menekankan pentingnya dukungan bahan pembelajaran, baik berbahasa Indonesia maupun berbahasa Sasak. Saat ini Chili Community House memiliki sekolah di tiga lokasi, yaitu Gili Trawangan dan Teluk Dalem (Kabupaten Lombok Utara) serta Mataram. Fokus pembelajaran disesuaikan dengan jenis jenjang, latar belakang siswa, dan kebutuhan, serta karakter siswa. Hal ini dianggap penting untuk menyukseskan pembelajaran yang tepat sasaran bagi siswa. Apalagi siswa memiliki latar belakang dari berbagai negara dengan keragaman bahasa, suku, dan budaya. "Di sini anak-anak senang belajar mengikuti berbagai metode dan bahan ajar. Kami ingin anak-anak dengan beragam latar ini dapat belajar bahasa Indonesia dan Sasak sebagai tambahan ilmu, wawasan, dan kemampuan berbahasa, serta komunikasi mereka. Kami sangat membutuhkan bahan ajar berbasis teks berbahasa Indonesia dan Sasak yang memudahkan proses pembelajaran," papar Noor Ain Hussin menjelaskan kebutuhan pembelajaran siswa.
Pada pertemuan ini dibahas berbagai metode atau bahan pembelajaran efektif yang dapat meningkatkan kemampuan berbahasa Indonesia dan Sasak siswa, terutama siswa asing. Dengan berbagai jenis dan jenjang kelas, tentunya dibutuhkan bahan ajar pendamping yang sesuai dengan kurikulum dan kebutuhan siswa asing dan lokal. Zamzam menilai bahwa hal ini menjadi tugas Balai Bahasa Provinsi NTB dalam mengembangkan bahan ajar untuk mendorong minat dan kemampuan siswa asing dan lokal berbahasa Indonesia dan Sasak. Bahan pembelajaran akan disesuaikan dengan kearifan lokal dan jenjang kemampuan siswa.
Zamzam menambahkan juga bahwa sekolah perlu menyiapkan siswa untuk berlatih berbagai kompetensi dalam bahasa Indonesia. Siswa yang terlatih dapat dilibatkan dalam Festival Handai Indonesia yang dilaksanakan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Kolaborasi seni, bahasa, dan budaya dalam Festival Handai Indonesia menjadi nilai tambah bagi kemampuan siswa asing yang bersekolah di Chili Community House. Perlu persiapan berbagai tahapan agar siswa yang memiliki ketertarikan dan kompetensi di bidang ini dapat mengikuti festival sampai ke tingkat nasional.
Hal tersebut selaras dengan pendapat Noor Ain Hussin. Ia merasa bahwa langkah partisipasi tersebut dapat meningkatkan rasa percaya diri siswa. Untuk itu, ia bersama tim pengajar akan menyiapkan hal-hal yang dibutuhkan. Menurutnya, hal ini akan efektif juga jika kedua lembaga dapat bekerja sama dengan mahasiswa untuk meningkatkan partisipasi, bisa melalui perlombaan yang akan menarik minat anak-anak.
Pertemuan ini menghasilkan berbagai kesepakatan untuk saling mengembangkan dan menguatkan inovasi Mandalika-Bumi. Mulai dari penyusunan bahan ajar berbasis teks bahasa Indonesia dan Sasak, keikutsertaan siswa dalam perlombaan berbahasa Indonesia dan Sasak, pelatihan bagi guru atau pengajar BIPA, dan koordinasi secara rutin untuk menghasilkan inovasi yang berdampak bagi internasionalisasi bahasa Indonesia di Provinsi NTB, khususnya Pulau Lombok.
Dalam kesempatan ini, Tim Balai Bahasa Provinsi NTB juga menyebarkan secara luas inovasi Mandalika-Bumi, yaitu handy words kepada para pendamping penutur asing dan pusat-pusat informasi yang ada di Gili Trawangan. Diharapkan melalui langkah tersebut, para wisatawan dapat memperoleh kemudahan dalam berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia dan mendapatkan informasi yang relevan sesuai dengan kebutuhannya.