Pengambilan dan Penyusunan Data Ensiklopedia Sastra di NTB: Upaya Balai Bahasa Provinsi NTB Menelusuri dan Menjaga Jejak Perkembangan Sastra
Lombok Utara, 13 Februari 2026--Dalam rangka mendokumentasikan dan memperkuat khazanah sastra daerah, Balai Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menyelenggarakan kegiatan Pengambilan Data dan Penyusunan Ensiklopedia Sastra NTB Tahun 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya pelindungan, pengembangan, serta pendokumentasian ekosistem sastra di wilayah NTB. Kegiatan yang dilaksanakan selama tiga hari, pada 1--13 Februari 2026 ini berlangsung di Kabupaten Lombok Utara.
Pelaksanaan kegiatan dilakukan oleh Tim Perkamusan Balai Bahasa Provinsi NTB, yang dalam kegiatan lapangan diwakili oleh M. Syamsur Rijal. Pengambilan data dilakukan melalui wawancara, penelusuran arsip, serta diskusi langsung bersama pelaku dan pemerhati sastra setempat guna memastikan validitas data yang dihimpun.
Pada tahun 2026, kegiatan ini menargetkan penyusunan 50 entri baru yang mencakup berbagai aspek sastra di NTB, meliputi tokoh sastra, komunitas sastra, karya sastra tradisional dan modern, serta peristiwa penting yang memiliki kontribusi terhadap perkembangan sastra daerah. Dari pelaksanaan kegiatan ini, tim berhasil menghimpun seluruh target tersebut, termasuk sejumlah data penting yang sebelumnya sulit ditemukan dalam dokumentasi publik.
Salah satu temuan menarik adalah keberadaan beberapa karya sastra berupa antologi cerpen dan antologi puisi yang memuat nama-nama penulis NTB pada awal tahun 2000-an. Karya-karya tersebut diketahui hampir tidak lagi dapat dijumpai di perpustakaan dan ruang arsip resmi sehingga keberadaannya menjadi sumber data yang sangat berharga dalam penelusuran sejarah sastra daerah.
Temuan ini menunjukkan bahwa kepemilikan pribadi terhadap buku sastra—melalui praktik membeli, menyimpan, dan mengoleksi karya—secara tidak langsung berperan sebagai bentuk pendokumentasian dan pengarsipan alternatif. Koleksi individu para pegiat sastra terbukti mampu menjaga jejak perkembangan sastra yang mungkin terlewat dari sistem dokumentasi formal.
Dalam proses pengumpulan data, tim menghadirkan sejumlah narasumber yang memiliki peran aktif dalam ekosistem sastra NTB, yakni Yusron Hadi dari Sanggar Ngayo Pustaka, Imam Safwan selaku sastrawan, serta Raden Prawangsa Jaya Ningrat dari Komunitas Gerbang Atsara. Pada kesempatan tersebut, Yusron Hadi menggarisbawahi bahwa keberadaan ensiklopedia sastra tidak hanya berhenti sebagai dokumentasi pengetahuan. Ia menekankan pentingnya tindak lanjut dalam bentuk pengenalan karya sastra secara mendalam dan berkelanjutan, khususnya melalui dunia pendidikan. “Karya sastra tidak cukup hanya dicatat sebagai entri ensiklopedia, tetapi juga perlu diperkenalkan secara kontinyu di bidang pendidikan, terutama melalui kegiatan literasi membaca,” ujarnya.
Sementara itu, Imam Safwan menyampaikan pandangannya terkait pendekatan penyusunan ensiklopedia. Menurutnya, klasifikasi sastra berdasarkan etnis seperti Sasak, Samawa, dan Mbojo tidak menjadi kebutuhan utama dalam penyusunan ensiklopedia sastra NTB. Ia menilai bahwa penyusunan secara alfabetis akan lebih efektif karena mampu merangkum secara umum berbagai fenomena sastra di NTB tanpa membatasi ruang representasi budaya tertentu.
Melalui kegiatan pengambilan data ini, Balai Bahasa Provinsi NTB berharap ensiklopedia yang disusun nantinya dapat menjadi rujukan akademik sekaligus sumber informasi publik mengenai perkembangan sastra daerah. Selain itu, ensiklopedia ini juga diharapkan menjadi fondasi penting dalam pemetaan sejarah sastra NTB serta mendukung penguatan literasi di masyarakat NTB.