Revitalisasi Bahasa Daerah: Upaya Balai Bahasa Provinsi NTB Melestarikan Bahasa Sasak, Samawa, dan Mbojo
Mataram, 10 Februari 2026--Revitalisasi Bahasa Daerah merupakan salah satu program prioritas Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa yang dijalankan oleh Balai Bahasa Provinsi NTB. Berbicara mengenai program ini maka tidak akan pernah lepas dari upaya pelestarian bahasa daerah yang terus digencarkan oleh Balai Bahasa Provinsi NTB. Hal tersebut ditegaskan oleh Ketua Tim Kerja Pelindungan dan Pemodernan Bahasa dan Sastra, Kasman, saat menjadi narasumber siaran di Pro4 RRI Stasiun Mataram.
Kasman mengawali penjelasan keterkaitan dan keterikatan program revitalisasi bahasa daerah dengan adanya kepunahan bahasa yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia, termasuk Provinsi NTB. Menurutnya, kepunahan bahasa dapat diprediksi tiga generasi berikutnya ketika jumlah penutur menurun tajam karena generasi terakhir yang fasih berbahasa daerah telah menjadi orang tua, kakek-nenek, dan akhirnya hanya generasi tersebut yang menguasai bahasa daerah. Adapun tiga penyebab kepunahan bahasa, yaitu perpindahan penduduk, faktor politik, dan kebijakan pemerintah. Untuk itu, Balai Bahasa Provinsi NTB terus berupaya konsisten melestarikan dan melindungi bahasa Sasak, Samawa, dan Mbojo melalui revitalisasi bahasa daerah. Peran tersebut meliputi menjaga keaslian bahasa Sasak, Samawa, dan Mbojo, membangun kembali tradisi komunitas, menemukan fungsi baru, dan menghadirkan generasi baru.
"Balai Bahasa Provinsi NTB menunjukkan komitmennya di tengah berbagai kendala atau keterbatasan yang ada. Berbagai pendekatan telah dilakukan seperti revitalisasi berbasis masyarakat atau keluarga, revitalisasi berbasis sekolah, dan revitalisasi berbagai komunitas. Ketiga upaya tersebut diharapkan dapat saling bersinergi memberikan dampak positif terhadap pelindungan dan pelestarian bahasa Sasak, Samawa, dan Mbojo yang kami lakukan," terangnya saat menyampaikan materi revitalisasi bahasa daerah dalam rangka Hari Bahasa Ibu Internasional di Studio Siaran Pro4 RRI Stasiun Mataram.
Berbagai pendekatan terus diupayakan untuk mendapatkan ketahanan bahasa bagi para penutur bahasa Sasak, Samawa, dan Mbojo di Provinsi NTB. Metode pendekatan tersebut di antaranya pembelajaran berbasis pencelupan, pembelajaran berbasis praktik satu hari berbahasa daerah, pembelajaran berbasis teknologi, pembelajaran berbasis keagamaan, pembelajaran berbasis seni dan budaya, dan pembelajaran berbasis kreativitas. Semua pembelajaran tersebut diharapkan mampu mendorong partisipasi masyarakat, khususnya para penutur jati untuk melestarikan bahasa Sasak, Samawa, dan Mbojo. Peran pemerintah daerah juga menjadi salah satu poin penting untuk menyukseskan program ini. Untuk itu, Balai Bahasa Provinsi NTB terus bersinergi memberikan berbagai ruang kreatif berbahasa daerah bagi masyarakat.