Perkuat Kurikulum Muatan Lokal, Kelompok Kerja Pengawas Sekolah SD dan SMP Kabupaten Lombok Tengah Kunjungi Balai Bahasa Provinsi NTB

Mataram, 4 Februari 2026—Dalam upaya menyeragamkan dan meningkatkan kualitas pengajaran bahasa Sasak di tingkat dasar dan menengah, Kelompok Kerja Pengawas Sekolah (KKPS) SD dan SMP Kabupaten Lombok Tengah melakukan kunjungan koordinasi dan asistensi ke Balai Bahasa Provinsi NTB. Ketua tim, Muhammad Hakiki, yang hadir pada kunjungan ini menyampaikan tujuan kunjungan, yaitu untuk meminta asistensi terkait penelaahan materi kebahasaan dan konten cerita dalam penyusunan kurikulum Muatan Lokal (Mulok) bahasa Sasak. Selain itu, tim juga berharap dapat dilakukan asistensi pendalaman kaidah penulisan huruf Latin yang baku dalam penulisan bahasa daerah tersebut.

Salah satu poin krusial yang dibahas adalah tantangan keberagaman dialek dan sistem penulisan yang selama ini kerap ditemukan di lapangan.Perwakilan KKPS Lombok Tengah bersama tim juga menyampaikan pentingnya memiliki acuan tunggal yang valid agar tidak terjadi kebingungan bagi guru dan siswa. "Kami ingin memastikan bahwa materi yang diajarkan di sekolah, khususnya mengenai tata tulis atau ortografi Latin bahasa Sasak sudah sesuai dengan kaidah kebahasaan yang telah dikaji secara ilmiah oleh Balai Bahasa Provinsi NTB. Untuk itu, kami sangat berharap Balai Bahasa Provinsi NTB sebagai lembaga yang menangani kebahasaan dapat membantu kami dalam pendampingan penyusunan dan penelaahan materi ini," ujar salah satu perwakilan pengawas, Hakiki.

Pihak Balai Bahasa Provinsi NTB yang diwakili oleh Nurcholis Muslim, Baiq Ayu Candra, Desi Rachmawati, dan I Nyoman Cahyasabudhi Santosa menyambut baik inisiatif ini.Dalam pertemuan tersebut, perwakilan Balai Bahasa memaparkan beberapa aspek teknis, antara lain sistem fonologi: penyesuaian bunyi bahasa ke dalam simbol huruf Latin, standardisasi ejaan: penggunaan tanda diakritik untuk membedakan pelafalan vokal tertentu agar makna kata tidak bergeser, dan penyusunan modul: strategi pengemasan materi agar sesuai dengan jenjang kognitif siswa SD dan SMP. "Balai Bahasa Provinsi NTB sangat mengharapkan sinergi tersebut sebagai langkah nyata dalam menjaga marwah budaya melalui jalur pendidikan. Bahasa Sasak bukan hanya alat komunikasi, tetapi identitas yang harus diajarkan dengan sistematis dan benar," ungkap Nurcholis saat menyampaikan pendapat di Ruang Anjani Balai Bahasa Provinsi NTB.

Baiq Ayu Candra menambahkan dari segi peraturan pengelolaan data yang akan dijadikan sumber dalam buku teks berbahasa Sasak tersebut. Ia mengimbau agar dalam proses penyusunan buku teks, data apa pun yang dikutip dan diproduksi ulang sebaiknya berpedoman pada peraturan keterbukaan informasi publik. Hal ini dilakukan sebagai langkah dalam mencegah adanya masalah di kemudian hari yang berkaitan dengan produksi konten dalam buku teks komersial. Lebih lanjut, ia menerangkan prosedur atau langkah-langkah strategis dalam pendampingan penyusunan bahan materi dengan berbagai lembaga terkait dan posisi Balai Bahasa Provinsi NTB dalam hal ini. Pertemuan ini diharapkan dapat menghasilkan penyusunan draf terbaru setelah adanya pendampingan penataan kebahasaan penulisan kurikulum Muatan Lokal Bahasa Sasak di Kabupaten Lombok Tengah sehingga penyusunan muatan lokal dapat segera rampung dengan standar yang lebih profesional dan sesuai peraturan yang berlaku.