Layanan Balai Bahasa Provinsi NTB: Pembinaan Bahasa untuk Siswa SDIT Anak Sholeh Mataram
Mataram, 4 Februari 2026—Fasilitasi layanan bahasa dan sastra merupakan salah satu tugas dan fungsi yang dilaksanakan oleh Balai Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat. Dalam penguatan layanan tersebut, Balai Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat memberikan pembinaan bahasa untuk siswa SDIT Anak Sholeh Mataram. Pembinaan ini bukan kali pertama dilakukan oleh kedua lembaga. Balai Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat merupakan salah satu mitra pendamping pembelajaran di luar sekolah bagi SDIT Anak Sholeh. Hal tersebut ditegaskan oleh perwakilan guru SDIT Anak Sholeh Mataram, Muhardi.
Berdasarkan penuturan Muhardi, SDIT Anak Sholeh ingin membangun pemahaman siswa sejak dini mengenai pentingnya pelajaran bahasa Indonesia. Untuk itu, kunjungan ke Balai Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat selalu dijadwalkan sebagai agenda sekolah. "Ada empat rombongan belajar dengan jumlah siswa 115 dan 9 guru pendamping. Kami telah membekali siswa dengan materi tanda baca. Siswa bisa mengetahui profil Balai Bahasa dan mereka dapat belajar tentang bahasa Indonesia. Tujuan kunjungan kami agar siswa dapat memahami pentingnya bahasa Indonesia dan semakin mencintai bahasa Indonesia," tutur Muhardi saat memberikan sambutan di Aula Cilinaya Balai Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat.
Kepala Subbagian Umum Balai Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat, Diah Rachma Yudita mengapresiasi agenda pembelajaran di luar kelas yang dilaksanakan oleh SDIT Anak Sholeh Mataram. Ia berharap bahwa pertemuan ini dapat menambah pengetahuan akademik dan sosial siswa dan guru. "Kami berharap Adik-Adik juga mendapat pengalaman belajar bahasa Indonesia di Balai Bahasa Provinsi NTB," imbuhnya.
Kegiatan pembelajaran ini dimulai dengan materi tentang "Tanda Baca" yang disampaikan oleh Kasman (Widyabasa Ahli Muda). Ia memantik pembelajaran dengan metode kreatif mengajak siswa untuk terlibat dalam berbagai permainan.Berbagai permainan tentang bahasa Indonesia yang dikemas dalam suasana penuh keseruan memunculkan antusiasme siswa. Kasman juga menjelaskan materi tentang penggunaan tanda tanya dan tanda titik dalam bentuk permainan edukatif sehingga siswa dapat mengerti materi dan tidak bosan.
Berdasarkan hasil pembelajaran, Kasman menjelaskan bahwa siswa kelas 2 SD akan cenderung memilih kata-kata yang sifatnya aktivitas yang siswa ikuti atau lakukan. Misalnya, kata pasar karena kemungkinan siswa sering melihat Ibunya pergi ke pasar. Jadi, bagi siswa kelas perlu diajari penggunaan kalimat sederhana terlebih dahulu.
Berikutnya, Nurcholis Muslim (Widyabasa Ahli Muda) mengajak siswa mendongeng melalui cerita berjudul "Praja Sunat". Ia menceritakan kisah tersebut sesuai dengan jenjang bahan bacaan siswa. Cerita ini menjadi bahan pembelajaran yang memantik keterlibatan siswa dalam mendengarkan kisah-kisah menarik sesuai dengan usia siswa.