Langkah Awal Balai Bahasa dalam Memastikan Pengutamaan Bahasa Indonesia di Ruang Publik Kabupaten Lombok Tengah

Lombok Tengah, 9 April 2026--Upaya dalam memastikan pengutamaan bahasa Indonesia terus dilakukan oleh Balai Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat. Di tahun kedua renstra, pembinaan terhadap lembaga sebagai komunitas kolektif dianggap menjadi solusi yang efektif. Masih dengan format yang sama, dalam tahap pemantauan, Tim Pembinaan Balai Bahasa Provinsi NTB kembali berkoordinasi dengan lembaga, yakni secara khusus menyasar lembaga di Kabupaten Lombok Tengah. Sejak 6--9 April 2026, 4 anggota Tim Pembinaan yang terbagi menjadi 2 tim terlebih dahulu melakukan pemantauan terhadap 40 lembaga di hampir seluruh wilayah Kabupaten Lombok Tengah.Tim mengunjungi setiap lembaga untuk melihat kondisi ruang publik dan dokumen resmi yang dikeluarkan oleh lembaga. Sepintas mata, ruang publik lembaga yang telah dibina selama satu tahun terakhir tidak banyak mengalami perubahan. "Kami tengah mempersiapkan. Agenda perubahan tentu jadi pertimbangan setelah pembinaan waktu itu, tapi butuh waktu," ujar Nurmah Yuliadi, salah satu staf Dinas Kominfotik Lombok Tengah saat ditemui di kantornya. Ia menyampaikan telah berkoordinasi dengan pimpinan dan pengelola laman untuk melakukan perubahan pada bagian yang masih menggunakan bahasa asing tanpa menyertakan bahasa Indonesia.Perubahan bahasa di ruang publik dalam jangka waktu kurang dari setahun memang tidak menjadi ekspektasi Balai Bahasa. Target perubahan di tahun lalu fokus pada perubahan bahasa naskah dinas. Betul saja, dalam sebagian besar lembaga, perubahan pada tata naskah dinas lembaga telah dilakukan, meski sejumlah kendala dialami. "Beberapa poin dalam tata naskah dinas yang disampaikan oleh Balai Bahasa tidak sama dengan yang disampaikan bagian ortala pusat. Kami bingung harus ikut yang mana," staf bagian Organisasi dan Tata Laksana Setda Lombok Tengah menyampaikan keluhannya.Toni Samsul Hidayat selaku penyuluh bahasa Balai Bahasa Provinsi NTB menanggapi persoalan ini dengan tindak lanjut penyamaan persepsi. Komunikasi lebih lanjut dengan bagian ortala dirasa diperlukan. "Untuk itu, kami ingin mendengar dan melihat tata naskah dinas sesuai aturan yang dibuat ortala. Kami mengundang Kabag sebagai narasumber dalam tahap penyuluhan hasil analisis objek kebahasaan di tanggal 22 April mendatang," ujarnya mantap. Pemantauan pada lembaga pemerintah kali ini juga melibatkan lembaga baru, seperti Mal Pelayanan Publik yang memberikan akses informasi secara terpadu.Pemantauan kepada lembaga swasta juga dilakukan, salah satunya kepada Rumah Sakit Cahaya Medika yang tengah melakukan renovasi gedung. Tim disambut baik oleh As'yari, salah satu staf RS Cahaya Medika. Ia mengajak tim berkeliling melihat ruang publik rumah sakit. Beberapa bagian telah menggunakan dua bahasa dengan bahasa Indonesia selalu berada di bagian awal. Beberapa sisanya masih menggunakan bahasa asing karena perubahan dilakukan bertahap. "Musala kami baru diperbesar dan direnovasi. Sekarang sudah diberi nama dengan Musala An-Nur sesuai arahan saat penyuluhan tahun lalu," akunya. Pengakuan ini kabar baik bagi Balai Bahasa Provinsi NTB. Apalagi, rumah sakit adalah lembaga pelayanan dengan ratusan orang berlalu lalang di dalamnya. Penyesuaian penggunaan bahasa baku pada hal dasar merupakan metode sosialisasi yang berharga dan dianggap efektif.Tim tidak melupakan lembaga pendidikan sebagai lembaga yang memiliki peran besar dalam menyalurkan informasi. Sesuai mandat Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra, pembinaan lembaga terutama dilakukan pada lembaga pendidikan, yakni memiliki porsi 50% dari total lembaga binaan. Fokus penambahan lembaga pendidikan terutama pada lembaga yang memiliki nilai literasi Asesmen Nasional kategori 2. Sejumlah SD dan SMP di wilayah Pujut, Batukliang, dan Praya Barat Daya dilibatkan. Pemantauan dilakukan terpusat dengan terlebih dahulu seluruh sekolah dikumpulkan di SMPN 2 Pujut, sebelum masing-masing lembaga dikunjungi.Kebanyakan sekolah belum dilengkapi dengan informasi ruang publik yang memadai. Banyak kelas belum memiliki nama. Majalah dinding dan perpustakaan sebagai ruang-ruang informasi tidak terisi dan terawat. Kamar mandi siswa dan guru tidak diberi petunjuk. Denah sekolah belum ditemukan di hampir seluruh sekolah. Lebih-lebih, kata-kata motivasi yang ditempatkan di wilayah strategis menggunakan bahasa asing atau bahasa Indonesia yang tidak ditulis dengan kaidah yang tepat sehingga siswa tidak memiliki rujukan penulisan yang sesuai. Pembinaan lebih lanjut tentu dibutuhkan oleh sekolah, apalagi ada sekolah yang baru saja direvitalisasi."Kami membutuhkan komitmen yang besar untuk melakukan perubahan. Kalau sudah berkomitmen, mari kita pastikan seluruh informasi bagi siswa telah tersampaikan dengan bahasa Indonesia yang baik," pungkas Toni dalam pertemuan singkat dengan kepala sekolah. Tim akan melanjutkan kegiatan pemantauan ini dengan memaparkan hasil pemantauan dan memberi rekomendasi kepada seluruh lembaga binaan di tanggal 22--23 April 2026.